Kasus Campak Meningkat, 5 Kabupaten KLB di Jawa Tengah

Nurul H. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 80 dibaca
Bisik.id
Kasus Campak Meningkat, 5 Kabupaten KLB di Jawa Tengah

Gambar atau konten salah?

Di Jawa Tengah, jumlah orang yang dicurigai terinfeksi campak terus bertambah. Pada 3 April 2026, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Heri Purnomo, menginformasikan bahwa data kasus campak masih menunjukkan peningkatan. 1.757 suspek campak tersebar di 30 kabupaten dan kota di provinsi ini.

Heri menegaskan bahwa sebelumnya hanya tiga daerah—Cilacap, Pati, dan Klaten—yang sudah memenuhi indikasi Kejadian Luar Biasa (KLB). Kini, 5 kabupaten/kota termasuk Kudus dan Brebes juga masuk dalam kategori KLB. “Ada 5 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan kasus, dengan ini yang sudah memenuhi kriteria KLB tapi belum (mendeklarasikan) KLB yaitu Kabupaten Cilacap, Kabupaten Klaten, Pati, Kudus, dan Brebes, ini yang cukup tinggi,” tuturnya.

Di antara semua kabupaten, kecamatan dengan suspek tertinggi berada di Cilacap. Heri menyebutkan bahwa di Kudus terdapat 228 suspek, di Brebes 126, dan di Banyumas 120. “Di Kudus juga tinggi, ada 228, itu juga suspeknya cukup tinggi, Brebes 126, Banyumas 120 itu suspeknya,” ujarnya.

Untuk kasus yang sudah terkonfirmasi positif, jumlahnya masih lebih rendah. Saat ini terdapat 144 kasus positif campak dan 18 kasus positif rubella. Di Cilacap, 21 orang terkonfirmasi positif campak, sedangkan di Pati 18 orang, di Banyumas 14 orang, dan di Klaten masih berkembang dengan 4 kasus positif terakhir. “Tapi itu (kasus di Klaten) mengelompok, artinya tidak menyebar di beberapa desa, tapi hanya satu desa,” jelas Heri.

Hati-hati, tidak ada korban meninggal akibat campak positif hingga saat ini. Heri menambahkan bahwa tahun ini terlihat kecenderungan peningkatan kasus campak dibandingkan tahun lalu, meskipun belum dapat dievaluasi secara lengkap. “Kecenderungannya iya (meningkat), tetapi belum bisa kita evaluasi. Karena memang jumlahnya sampai sekarang kan cukup tinggi, 1.757, ini baru bulan Maret,” tuturnya.

Penanganan darurat bagi pasien campak dimulai dengan investigasi epidemiologi. Dinas Kesehatan akan menelusuri siapa saja yang pernah berhubungan fisik dengan pasien. “Pelacakan kontak, artinya dilihat apakah ada kasus tambahan dengan gejala yang sama seperti demam, ruam, di sekitar lingkungan pasien campak. Jadi dilakukan investigasi,” kata Heri.

Selanjutnya, sampel serum diambil untuk memastikan apakah pasien benar-benar terinfeksi campak atau hanya suspek. Setelah konfirmasi, pasien akan menjalani isolasi minimal tujuh hari sejak munculnya bercak merah. “Pasien campak akan menjalani isolasi minimal 7 hari sejak timbulnya bercak merah di tubuh,” tambah Heri.

Selain isolasi, pasien juga diberikan vitamin A dan obat-obatan sesuai kondisi masing-masing. Dinas Kesehatan juga mendorong masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat: memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga kebersihan lingkungan. “Kemudian kita minta juga untuk hidup sehat dengan pakai masker, cuci tangan, dan seterusnya,” jelas Heri.

Heri menekankan pentingnya pelaporan cepat. “Agar Dinkes bisa melakukan pemantauan dan analisis data untuk menentukan apakah cakupan imunisasi campak sudah tepat.” Jika cakupan imunisasi masih kurang, Dinas Kesehatan akan melakukan kajian dan pemantauan wilayah setempat. “Termasuk pemantauan wilayah setempatnya, dan terakhir kita cegah penularan lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Jika imunisasi campak belum merata, langkah pencegahan melalui Otbreak Response Immunization (ORI) akan digencarkan di wilayah berisiko. ORI bertujuan menutup celah imunisasi yang dapat memicu penyebaran penyakit.

Heri mengajak masyarakat untuk menjaga pola makan bergizi dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. “Ketika ada yang terkena bintik-bintik merah, segera dibawa ke faskes terdekat, minimal ke Puskesmas, untuk dilakukan penanganan dan diisolasi,” sarannya. Para orang tua diminta memastikan anak-anaknya mendapatkan imunisasi campak, karena seringkali ada anak yang menolak vaksin. “Ini akan sangat mudah ketularan, ketika dia tidak diimunisasi,” tegas Heri.

Dengan langkah-langkah ini, Dinas Kesehatan berharap dapat menahan penyebaran campak di Jawa Tengah. Masyarakat diingatkan untuk tetap waspada dan melaporkan gejala yang mencurigakan agar penanganan dapat segera dilakukan.

campakJawa TengahKejadian Luar BiasaHeri PurnomoimunisasiisolasiORI

Komentar

Memuat komentar...