Kebun Binatang Bandung Kehilangan Dua Anak Harimau Benggala

Ningsih R. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 62 dibaca
Bisik.id
Kebun Binatang Bandung Kehilangan Dua Anak Harimau Benggala

Gambar atau konten salah?

Yusuf Supriyatna, penjaga satwa karnivora di Kebun Binatang Bandung, terlihat sangat tertekan ketika menceritakan kematian dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara. Ia mengungkapkan bahwa kedua anak tersebut diduga terinfeksi virus panleukopenia, penyakit yang menular dari induknya.

Yusuf memulai ceritanya dengan mengingat betapa aktif dan menggemaskan kedua harimau itu. “Lagi aktif-aktifnya, lagi gemas-gemasnya, kalau dalam Bahasa Sunda kembang buruan,” ujarnya kepada media di lokasi kebun binatang pada Jumat (27 Maret 2026).

Ia menegaskan bahwa kelahiran harimau di kebun binatang bukan hal baru. Namun, kematian anak harimau seperti yang terjadi pada Huru dan Hara belum pernah dialami sebelumnya. “Belum pernah, baru sekarang (kematian harimau) bapak juga gemetar banget,” tambahnya.

Sejak lahir, Huru dan Hara mendapat perhatian khusus. Yusuf menjelaskan jadwal vaksinasi: vaksin pertama pada usia satu bulan, vaksin kedua pada tiga bulan, vaksin ketiga pada enam bulan, dan vaksin keempat pada delapan bulan. “Vaksin pertama usia satu bulan, vaksin kedua usia tiga bulan dan vaksin ke tiga usia enam bulan dan vaksin ke empat 8 bulan, itu benar-benar diperhatikan lebih dari yang lain, karena masih rentan. Tidak ada tanda-tanda sakit sama sekali, makan juga masih tetap bagus,” ungkapnya.

Induk harimau, Shah Rukh Khan (22 tahun) dan Jelita (4,5 tahun), menjaga dua anaknya yang baru lahir pada 12 Juli 2025. Dengan kelahiran tersebut, kebun binatang kini memiliki lima harimau Benggala.

Yusuf menyatakan duka mendalam atas kehilangan ini. “Iya jelas, benar-benar kehilangan,” katanya. Ia menambahkan, “Namanya makhluk, tapi gak nyangka ini masih anak-anak. Kejadian mati di usia anak-anak belum pernah, kalau satwa yang mati karena usia atau bawaan itu sudah biasa.”

Menurut kronologi yang diceritakan Yusuf, gejala pertama muncul pada Minggu (22 Maret) ketika Hara muntah. “Awalnya dianggap muntah biasa, soalnya ada rumput, biasanya kalau muntah dan ada rumputnya itu mengeluarkan racun-racun. Diketahui muntah baru dibawa ke dokter (pagi),” ia jelaskan. Pada hari yang sama, Huru juga mengalami muntah dan diare. “Siangnya, Huru ikut muntah sama diare (siang), selang setengah hari,” tambahnya.

Kondisi keduanya kemudian menurun drastis. Hara kesulitan makan, sementara Huru masih sempat makan. Pada malam hari, Hara muntah cairan kuning dan ada cacing. “Sorenya si Hara muntah seperti ada cairan kuning dan ada cacing,” kata Yusuf. Huru akhirnya meninggal lebih dulu pada Selasa, diikuti oleh Hara dua hari kemudian pada Kamis. “Muntah Hari Minggu, mati Selasa si Huru dan Kamis si Hara,” pungkasnya.

Yusuf menegaskan bahwa ia tidak menyangka kedua harimau tersebut akan mati di usia yang masih sangat muda. Ia menambah, “Namanya makhluk, tapi gak nyangka ini masih anak-anak.”

Keputusan vaksinasi dan perawatan rutin tidak menandai adanya penyakit sebelumnya, namun virus panleukopenia tetap menjadi penyebab yang paling mungkin. Penyakit ini dikenal menular antar harimau dan dapat menyebabkan gejala muntah, diare, dan dehidrasi yang cepat.

Keputusan kebun binatang untuk memperhatikan vaksinasi secara ketat menunjukkan komitmen mereka terhadap kesehatan satwa. Namun, kejadian ini menyoroti risiko yang masih ada, bahkan ketika satwa telah menerima perlindungan medis yang tepat.

Yusuf mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. “Iya jelas, benar-benar kehilangan,” ia ulangi. Situasi ini menjadi peringatan bagi semua pihak yang merawat satwa di kebun binatang, bahwa kesehatan satwa tetap memerlukan perhatian terus-menerus.

Harimau BenggalaPanleukopeniaVaksinasi SatwaKebun Binatang BandungKematian Anak HarimauPenyakit Menular

Komentar

Memuat komentar...