Kekurangan Darah di Cianjur: 600 Pasien Talasemia Terancam
Gambar atau konten salah?
Selasa, 09 Juni 2026 – Kabupaten Cianjur tengah menghadapi krisis stok darah. Selama dua bulan terakhir, jumlah pendonor menurun drastis, sehingga persediaan harian tidak cukup, terutama bagi pasien talasemia yang memerlukan transfusi rutin.
Dr. Susilawati, Kepala Unit Tenaga Darah PMI Kabupaten Cianjur, menjelaskan bahwa stok darah telah menurun sejak dua bulan lalu. Ia menambahkan bahwa minggu terakhir kondisi semakin parah, sehingga kebutuhan harian tidak terpenuhi.
“Untuk kebutuhan sebulan ini sekitar 2.000 sampai 3.000 labu untuk berbagai golongan darah. Sedangkan kebutuhan harian sekitar 100 labu. Tapi sekarang stoknya sangat minim, untuk golongan A, B, AB, dan 0 stoknya masing-masing di bawah 10 labu,” ujar dia.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kebutuhan darah untuk pasien, terutama pasien talasemia, tidak terpenuhi. Ia menambahkan, “Bahkan kemarin ada orangtua dari pasien talasemia yang nangis, bingung stok darah krisis, sedangkan pendonor dari keluarga juga tidak ada. Tapi setelah kami upayakan melalui data pendonor yang rutin, akhirnya bisa mendapatkan donor untuk pasien tersebut.”
Dr. Susilawati menyebut minimnya stok darah disebabkan oleh penurunan angka pendonor di Cianjur, termasuk kegiatan donor massal yang saat ini tidak banyak. “Penyebabnya tentu karena pendonornya sedikit. Kesadaran untuk rutin donor darah belum sepenuhnya berjalan di Cianjur,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini pihaknya hanya dapat mengandalkan donor dari keluarga pasien untuk memenuhi kebutuhan darah. “Jadi sementara keluarga dari pasien yang diarahkan untuk mendonor. Supaya kebutuhan tetap terpenuhi setiap harinya,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah daerah atau instansi terkait dapat turun tangan mengamankan stok darah di Cianjur. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk rutin donor darah. “Kebutuhan darah kita cukup tinggi, untuk pasien talasemia yang rutin membutuhkan transfusi saja mencapai 600 orang. Kami sangat berharap peran serta semua pihak. Karena satu tetes darah dapat menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.
Situasi ini menyoroti pentingnya sistem pendonoran darah yang stabil. Tanpa upaya bersama, pasien yang memerlukan transfusi dapat terancam kekurangan darah, memperparah kondisi kesehatan mereka.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bandung Tegaskan Selesaikan Pemotongan Kabel Udara 31 Des
Gubernur Jawa Barat Tegaskan PCMB Deteksi Dini Masalah SPMB 2026
Pemkot Bandung Tunda Pemotongan Kabel Fiber Optik Udara
BPJS JKN Perkenalkan Aturan Kontrol Pasien Baru 2026
Gempa M 2,3 di Bandung, Tidak Menimbulkan Kerusakan
Kota Bandung Umumkan Pemenang Lelang Kebun Binatang 09 Juni
Berita Terbaru
Biaya Piala Dunia 2026: Guadalajara Terjangkau Rp15 Juta
Antony: Pilih Manchester United Meski Tawaran Liverpool
UIN Sunan Gunung Djati Buka Pendaftaran Jalur Mandiri 2026
Wanita Jakarta Hemat: Nasi Lemak Sehari, Tabungan Ribu Rupiah
Panda Raksasa Indonesia Lahir: Simbol Persahabatan China
De Bruyne Kembali Fit, Siap Hadapi Piala Dunia 2026
Rachel & Febi Raih 16 Besar Australian Open 2026 Indonesia
BI Menaikkan Suku Bunga, KPR dan Pinjaman Online Naik
