Kemenangan Sejati: Ketakwaan Menuju Surga Abadi
Gambar atau konten salah?
Teks Khutbah Jumat #1: Kemenangan Sejati
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.
Menang dan kalah merupakan dua sisi berlawanan yang lumrah terjadi dalam sebuah kompetisi. Setiap petarung tentu menginginkan kemenangan, meski tidak semua dapat mencapainya. Ketika hasil tidak sesuai harapan, menerima dengan lapang dada merupakan langkah yang paling bijak.
Sebagai orang beriman kita perlu menyadari bahwa segala bentuk kemenangan di dunia ini bersifat sementara. Maka, tidak perlu selebrasi berlebihan saat memperolehnya, cukup sewajarnya saja. Bagi seorang mukmin, kemenangan sejati adalah ketika ia berhasil mendapatkan ganjaran tertinggi dari Allah SWT, yakni surga yang penuh kenikmatan. Itulah puncak kemenangan yang tidak ada bandingannya dengan hadiah duniawi.
Allah SWT berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (QS Ali Imran [3]: 185).
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah balasan kalian disempurnakan. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.
Kemenangan sejati di kampung akhirat tidak datang dengan serta-merta. Ia merupakan hasil akhir dari proses perjuangan panjang selama hidup di dunia. Ketakwaan sebagai wujud hubungan erat antara hamba dengan Allah SWT, menjadi kunci utama untuk meraih kemenangan sejati.
Orang yang bertakwa akan meraih kemenangan setelah berhasil melewati berbagai ujian dunia. Dalam menjalani kehidupan, mereka menyadari bahwa dunia bukanlah tempat berleha‑leha tanpa batas. Dunia bagi mereka adalah medan ujian yang penuh tantangan.
Allah SWT berfirman: وَيُنَجِّى اللّٰهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْۖ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوْۤءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ (QS az‑Zumar [39]: 61).
Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka. Mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih hati.
Adakah kemenangan yang lebih didambakan oleh seorang mukmin selain kemenangan sejati saat kembali ke haribaan Ilahi? Allah SWT berfirman: وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا (QS al‑Ahzab [33]: 71).
Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul‑Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung. Surga dengan segala kenikmatan kelak menjadi tempat tinggal yang kekal bagi para pemenang sejati. Tidak ada lagi kesedihan, kelelahan, kecemasan dan segala hal yang menyesakkan dada. Para penghuninya akan hidup dalam kebahagiaan abadi dengan beragama nikmat yang Allah berikan.
Kemenangan sejati bagi orang mukmin bukanlah tentang jumlah medali atau piagam penghargaan yang diraih di dunia, tetapi tentang kebahagiaan abadi di surga. Jika hadiah dunia saja membuat kita begitu bersemangat untuk meraih kemenangan, seharusnya kita harus lebih bersemangat untuk mendapatkan surga sebagai hadiah utama bagi para hamba‑Nya yang terpilih.
Prestasi duniawi tidak menjadi patokan untuk memperoleh kemenangan sejati. Meski perjuangan orang‑orang beriman dalam menegakkan kebenaran diwarnai dengan penderitaan bahkan terkadang berujung duka, Allah SWT tetap memandang usaha mereka sebagai sebuah kemenangan.
Allah SWT berfirman: اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُ (QS Al‑Buruj [85]: 11).
Mudah-mudahan kita termasuk golongan hamba Allah yang kelak menjadi pemenang sejati. بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ.
Teks Khutbah Jumat #2: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْخَيْرِ وَنَهَانَا عَنِ الشَّرِّ حِفْظًا لِدِيْنِنَا وَدُنْيَانَا، وَجَعَلَ أَعْمَالَنَا مِيْرَاثًا يَبْقَى أثَرُهُ فِي أَوْلَادِنَا وَأَقْرِبَائِنَا وَ جَمِيْعِ النَّاسِ مِنْ حَوْلِنَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ هُوَ رَبُّنَا وَمَوْلَانَا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ هُوَ خَيْرُ مَنْ تَرَكَ لِلْأُمَّةِ دِينًا وَهُدًى وَبَيَانًا.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ الَّذِينَ تَرَكُوا لَنَا مِنَ الْخَيْرِ أَعْظَمَ بُنْيَانًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, segala puji kita haturkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi kesehatan, kesempatan, dan kelapangan dalam menjalani kehidupan ini. Dengan pertolongan‑Nya pula, berbagai urusan kita dimudahkan dan kebutuhan kita dicukupkan.
Hingga pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita dapat hadir bersama, menunaikan ibadah dengan hati yang tentram dan damai. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW sosok agung yang menjadi teladan dalam setiap lini kehidupan.
Melalui beliau, kita mengenal jalan kebenaran, serta memperoleh cahaya petunjuk yang membimbing umat manusia keluar dari gelapnya masa Jahiliyah menuju terang benderangnya iman dan Islam. Semoga shalawat dan salam itu juga terlimpahkan kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, serta seluruh umat yang istiqamah menapaki jejak perjuangan beliau hingga akhir zaman.
Selanjutnya, marilah kita senantiasa memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah‑Nya dan menjauhi larangan‑Nya. Salah satu cara merawat ketakwaan ialah dengan senantiasa mengukur amal ibadah yang telah kita lakukan di masa yang lalu.
Bagaimana dijelaskan dalam surat Al‑Hasyr ayat 18: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, kita hidup di dunia ini hanya sementara. Sejak bayi hingga menapaki lanjut usia, umur kita berkisar antara 0‑60 tahun saja. Masa tersebut sangat singkat apabila dibandingkan dengan perjalanan kehidupan di alam semesta ini.
Apalagi disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa umur rata‑rata manusia akhir zaman itu hanya sampai pada usia 60‑70 tahun. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, bersumber dari Abu Hurairah: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ. Artinya: Dari Abu Hurairah, Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Usia umatku (manusia akhir zaman) itu berkisar di antara 60‑70 tahun saja. Sedikit sekali dari mereka yang melewati rentang usia tersebut (diberikan umur panjang).” (HR. Ibnu Majah).
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, berangkat dari kenyataan bahwa usia manusia begitu singkat sebuah hal yang bisa kita saksikan setiap hari, serta dikuatkan oleh sabda Nabi SAW yang menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, maka sudah sepantasnya kita berusaha meninggalkan jejak sebagai pribadi yang layak diteladani oleh generasi setelah kita, sepanjang masa.
Dengan umur yang terbatas ini, kita hendaknya berupaya menjadi insan yang berakhlak baik: beribadah sesuai syariat, menjauhi larangan Allah, memperlakukan sesama dengan santun, serta menjaga dan menyayangi alam serta lingkungan di sekitar kita.
Berapa pun yang kita lakukan, yang akan tetap dikenang adalah kebaikan‑kebaikan yang pernah kita lakukan selama hidup. Bahkan Al‑Qur'an pun menegaskan bahwa setiap jejak dan peninggalan manusia akan terabadikan dan menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya baik itu kebaikan maupun keburukan.
Seperti yang diterangkan oleh surat Yasin ayat 12: اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَأَثَارَهُمْ، وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنٰهُ فِيْ إِمَامٍ مُبِيْنٍ. Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang‑orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas‑baskannya. Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).”
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, di dalam surat Yasin ayat 12 tersebut dijelaskan, bahwa Allah SWT telah menetapkan, kalau umat manusia itu akan dikenang melalui “bekas‑bekas peninggalan mereka”. Maksudnya apa saja yang kita lakukan, entah berupa kebaikan atau keburukan, akan abadi dan tetap diingat oleh generasi setelah kita.
Syekh Wahbah Az‑Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir, jilid XXII, halaman 291, menjelaskan: وَآثَارَهُمْ (أَيْ مَا أَبْقَوْهُ بَعْدَهُمْ مِنَ الْحَسَنَاتِ الَّتِي لَا يَنْقَطِعُ نَفْعُهَا بَعْدَ الْمَوْتِ، كَالْعِلْمِ وَالْمَسْجِدِ وَالْمَدْرَسَةِ، أَوْ مِنَ السَّيِّئَاتِ كَنَشْرِ الْبِدَعِ وَالْمَظَالِمِ وَالضَّرَارِ). Artinya: “(Firman‑Nya: ‘dan bekas‑bekas mereka’) maksudnya adalah apa saja yang mereka tinggalkan setelah mereka wafat berupa kebaikan‑kebaikan yang manfaatnya tidak terputus, seperti ilmu, buku, masjid, rumah sakit, dan sekolah; atau berupa keburukan, seperti menyebarkan bid’ah, kezaliman, berbagai bentuk bahaya, dan kesesatan di tengah manusia.”
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, perbuatan baik maupun buruk yang kita kerjakan, memiliki potensi besar untuk diikuti dan diingat oleh orang lain atau generasi sesudah kita. Maka, untuk dikenang sebagai orang baik sepanjang masa, kita harus senantiasa berbuat baik juga untuk sesama manusia, alam, dan lingkungan sekitar kita.
Namun dalam prosesnya, tetap niatkan dalam diri, bahwa berbuat baik ini semata‑mata karena Allah juga. Sebab amal ibadah yang tidak didasari dengan niat karena Allah, maka balasan atas amalnya itu sesuai dengan apa yang diniatkan.
Syekh Nawawi Banten dalam Kasyifatus Saja hal 3 menjelaskan bahwa maksudnya ialah setiap pekerjaan mulia yang bernilai baik yang tidak diawali dengan membaca bismillah dinilai kurang sempurna meski secara kasat mata terlihat baik. Syekh Nawawi berkata: وَالمَعْنَى الْحَدِيثِ: كُلُّ شَيْءٍ لَهُ شَرَفٌ وَعَظَمَةٌ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ يُطْلَبُ أَوْ يُبَاحُ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ لَهُ قَلْبٌ إِذَا لَمْ يَسْتَخْدِمْ بِلِسْتِسْتِعْدَادِ. Artinya: “Makna hadits tersebut ialah setiap sesuatu yang bernilai mulia atau perbuatan yang dianjurkan atau diperbolehkan atau sesuatu yang memiliki hati di dalamnya yang tidak dimulai dengan membaca bismillah maka perbuatan tersebut seperti halnya hewan yang terpotong ekornya (cacat), atau seperti manusia yang terpotong tangannya atau seperti halnya seseorang yang memiliki penyakit kulit. Dalam artian kurang secara syariat meski terlihat sempurna secara kasat mata.”
Demikian yang bisa khatib sampaikan. Kesimpulan tidak diperlukan, namun insight yang dapat diambil hanyalah bahwa kemenangan sejati bagi umat Islam terletak pada ketakwaan dan kebaikan yang ditinggalkan di dunia, yang akan dikenang di akhirat.
Teks Khutbah Jumat #3: Kenaikan BBM dan Panic Buying dalam Pandangan Islam
أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْقَصْدِ وَالِاعْتِدَالِ، وَنَهَى عَنِ الْإِسْرَافِ وَالِاحْتِكَارِ فِيْ كُلِّ حَالٍ، وَجَعَلَ التَّكَافُلَ بَيْنَ الْعِبَادِ سَبَبًا لِدَفْعِ الْبَلَاءِ وَحُسْنِ الْمَآلِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
Berbagai kebijakan penghematan energi di dunia akibat penutupan Selat Hormuz pada akhir bulan Februari dan awal Maret 2026. Selat Hormuz menjadi jalur perdagangan internasional yang setiap harinya, terdapat kapal‑kapal tanker berlalu‑lalang menyebarkan 20% kebutuhan energi ke seluruh dunia.
Sejak 17 Maret 2026, Jepang mulai mencari sumber energi alternatif dan mulai menggunakan pasokan energi cadangan. Sri Lanka, sejak penutupan Selat Hormuz, di negara tersebut pemilik kendaraan pribadi hanya bisa memperoleh 15 liter bensin per pekan. Kemudian, di Mesir, pemerintahnya berupaya menekan konsumsi energi dengan membuat kebijakan pembatasan jam operasional pusat perbelanjaan dan restoran hingga pukul 21.00.
Termasuk di negara tercinta, Indonesia, baru-baru ini, Menteri Perdagangan, Airlangga Hartarto, menyampaikan 8 poin kebijakan pemerintah dalam menyikapi krisis energi ini, di antaranya: penerapan kerja dari rumah dan pembatasan penggunaan kendaraan dinas bagi pejabat.
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, saat kondisi darurat semacam ini, kita harus tetap sadar dan berhati‑hati dalam menerima berita. Pastikan sumbernya kredibel dan menampilkan fakta yang tengah terjadi. Termasuk juga mengendalikan reaksi terhadap isu‑isu liar yang tengah berkembang di masyarakat.
Jangan sampai ada kabar atau isu hoax beredar di masyarakat, misalnya harga BBM akan dinaikkan oleh pemerintah, imbas dari perang di Timur Tengah. Sehingga dengannya menyebabkan kita panik dan berupaya memborong segala hal untuk menjaga ketersediaan, termasuk secara tergesa‑gesa ke SPBU untuk menyiapkan cadangan BBM.
Hal ini termasuk dalam kategori israf (berlebih‑lebih). Sebagaimana yang diterangkan dalam QS. Al‑A'raf ayat 31: وَكُلُّوْا وَاشْرَبُوْا وَلاَ تُسْرِفُواۚ اِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ. Artinya: “Dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang‑orang yang berlebihan.”
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, perilaku kita yang memborong kebutuhan seperti BBM untuk menimbunnya dapat menyebabkan kita menjadi orang yang salah dan berdosa. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Ma'mar bin Abdillah: عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ، عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَحْتَكِرُ إِلَّا خَاطِئٌ. Artinya: “Tidaklah seseorang itu menimbun (barang) kecuali ia bersalah.” (HR. Muslim).
Abul Abbas al‑Qurthubi dalam kitab Al‑Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, jilid IV, halaman 520, menjelaskan, perbuatan menimbun ini tidak diperkenankan dalam hal apapun: قُلْتُ: وَهٰذَا الْحَدِيْثُ بِحُكْمِ إِطْلَاقِهِ، أَوْ عُمُوْمِهِ، يَدُلُّ عَلَىٰ مَنْعِ الإِحْتِكَارِ فِي كُلِّ شَيْءٍ. Artinya: “Aku berkata: ‘Hadits ini, berdasarkan keumuman dan cakupannya, menunjukkan larangan penimbunan dalam segala hal.’”
Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, dalam situasi sulit seperti sekarang, ketika kebutuhan energi sedang langka dan kondisi terasa tidak pasti, sebagian orang cenderung membeli barang secara berlebihan karena panik. Padahal, dalam Al‑Qur'an Surah Al‑A'raf ayat 31, Allah mengingatkan agar kita tidak berlebih‑lebih.
Selain itu, penimbunan barang yang dibutuhkan banyak orang, seperti BBM, juga termasuk perbuatan yang dilarang. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang menimbun barang termasuk orang yang berdosa.
Karena itu, yang perlu kita lakukan adalah tetap tenang dan tidak terbawa kepanikan. Belilah barang secukupnya sesuai kebutuhan. Mari kita jaga kepedulian terhadap sesama, agar di tengah situasi sulit ini, semua orang tetap bisa mendapatkan kebutuhannya dengan adil. Dan tetaplah ikuti kebijakan pemerintah.
Teks Khutbah Jumat #4: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْقُرْأَنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَجَعَلَ فِيْ ذِكْرِهِ طُمَأْنِيْنَةً لِلْقُلُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، إِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. Artinya: “Wahai orang‑orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Jemaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT, salah satu amalan sunnah bagi umat Islam adalah memulai setiap pekerjaan dengan mengucapkan basmalah. Basmalah, atau bismillah, berarti “dengan nama Allah”. Artinya, ketika seorang Muslim mengucapkannya sebelum melakukan sesuatu, ia memulai pekerjaan tersebut dengan menyandarkan niatnya pada Allah dan menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik‑Nya.
Allah melalui Nabi‑Nya menjadikan basmalah sebagai etika bagi setiap Muslim dalam menjalani aktivitas sehari‑hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam At‑Thabari dalam Tafsir Jamiul Bayan ‘an Takwili ayil Qur’an, jilid I halaman 114, Allah mendidik Nabi Muhammad SAW dengan mengajarkan beliau untuk selalu menyebut nama Allah sebelum melakukan semua pekerjaannya.
Demikian yang bisa khatib sampaikan. Kesimpulan tidak diperlukan, namun insight yang dapat diambil hanyalah bahwa basmalah memiliki dua makna: memulai dan kekuasaan, serta keutamaan sebagai pembuka setiap perbuatan baik.
Teks Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nalika Kahanan Rekasa, Tansah Cekelen Sabar lan Takwa
أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، إِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. Artinya: “Wahai orang‑orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Jamaah sidang Jumat ingkang minulya, kanthi lampah punika, kulo nyuwun supados kita tansah ngluhuraken takwa dhumateng Allah, kanthi nindakaken perintah‑N
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
