Keracunan Makanan di Tulung: 200 Siswa Mual dan Diare
Gambar atau konten salah?
Sekitar 200 siswa di Kecamatan Tulung, Klaten diduga mengalami keracunan makanan setelah menikmati menu sop galantin dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gejala yang muncul meliputi mual, diare, dan pusing sejak semalam hingga pagi hari.
Para siswa yang mengonsumsi menu tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda keracunan dan kemudian menuju fasilitas layanan kesehatan setempat. Banyak yang dirawat di Puskesmas Majegan dan Puskesmas Tulung, dengan mayoritas menerima rawat jalan. Namun, sembilan siswa di Puskesmas Majegan memerlukan rawat inap.
Di jam 09.00 WIB, masih banyak siswa datang. Sembilan siswa yang dirawat inap sadar namun lemas, sehingga diinfus untuk menstabilkan kondisi.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, bersama kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Pendidikan, camat, dan pejabat lainnya langsung memeriksa kondisi di SPPG dan Puskesmas.
“Anak saya kelas VII C SMPN 1 Tulung, sampai rumah itu malah tidak mau makan. Habis Maghrib kemarin mulai mual dan pusing,” ungkap Bekti (40), ibu salah seorang siswa, 29 April 2026.
Bekti menjelaskan bahwa meski anaknya mengalami sakit perut dan pusing, tidak muntah. Setelah kondisi tidak membaik, ia membawa anaknya ke Puskesmas Majegan pada pagi hari. Ia menambahkan, “Pagi ini tadi saya bawa ke Puskesmas. Katanya makan sop galantin jam 10.00 WIB habis istirahat.”
Siswa kelas IX B SMPN 1 Tulung, Stevani, mengatakan dirinya makan sop galantin MBG pada 28 April 2026. Menunya termasuk sop galantin, tempe, dan telur puyuh. “Ada sop galantin, tempe dan ada telur puyuh. Yang tidak enak sop sama telur puyuh tidak enak, rasanya gimana gitu,” ia sampaikan.
Tenaga epidemiologi Puskesmas Majegan, Wahyu Handoyo, mengungkap bahwa penyelidikan di lapangan mencakup 17 sekolah penerima manfaat MBG. Total 219 orang, termasuk 22 guru, menunjukkan gejala. Gejala utama adalah mual dan pusing. Mereka dibawa ke layanan kesehatan sekitar pukul 07.00‑08.00 WIB.
Bupati Hamenang menyatakan bahwa ia menerima laporan siswa SD dan SMP bergejala. Ia turun langsung untuk memeriksa. Ia berkata, “Kita ngyakinke (ngecek) ternyata tidak hanya enam orang tapi ada beberapa orang, makin bertambah. Di RS PKU Muhammadiyah Jatinom juga ada beberapa, kondisinya ada yang lemas, pusing dan semua diare.”
Hasil keracunan belum dapat dipastikan; sampel sudah dikirim ke laboratorium untuk analisis lebih lanjut.
Kepala SPPG Sorogaten, Roni Subekti, menegaskan upaya menjaga kebersihan dan layanan. Ia menambahkan, “Ya kita siap untuk melakukan evaluasi agar lebih baik lagi.”
Keracunan makanan ini menegaskan pentingnya pengawasan mutu dalam program MBG. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan melaporkan gejala yang muncul setelah konsumsi makanan sekolah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
