Keraton Solo Gelar Dua Grebeg Besar: 27 dan 28 Mei 2026

Dian P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Keraton Solo Gelar Dua Grebeg Besar: 27 dan 28 Mei 2026

Gambar atau konten salah?

Keraton Solo menyiapkan dua acara Grebeg Besar pada hari raya Idul Adha. Dua kubu di Keraton, Paku Buwono XIV Purbaya dan Paku Buwono XIV Mangkubumi, akan menggelar Grebeg Besar secara terpisah.

Paku Buwono XIV Purbaya akan menggelar Grebeg Besar pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Sementara Paku Buwono XIV Mangkubumi menggelar Grebeg Besar pada hari Kamis, 28 Mei 2026.

Ketua Lembaga Dewan Adat, GRAy Koes Moertiyah, menegaskan bahwa upacara Grebeg Besar Dal 1959 akan diselenggarakan pada Kamis Kliwon, 28 Mei 2026 pukul 09.00 WIB di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat.

Ia menyatakan, “Keraton Surakarta Hadiningrat akan menyelenggarakan Upacara Adat Grebeg Besar Dal 1959 pada Kamis Kliwon, 28 Mei 2026 pukul 09.00 WIB di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat,”

Gusti Moeng menjelaskan bahwa Grebeg Besar sengaja digelar pada hari kedua setelah Idul Adha versi pemerintah (Bakda kedua). Ia menambahkan, “Memang sejak Sinuhun Pakubuwono XII, pelaksanaan dipilih pada hari kedua agar sentana dan abdi dalem pada hari pertama dapat bersama keluarganya,”

Gusti Moeng juga menekankan bahwa Grebeg Besar bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bagian dari syiar spiritual, sedekah Karaton kepada rakyat, serta simbol eratnya hubungan antara Karaton Surakarta dengan masyarakat, “Grebeg Besar bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bagian dari syiar spiritual, sedekah Karaton kepada rakyat, serta simbol eratnya hubungan antara Karaton Surakarta dengan masyarakat,” ujarnya.

Prosesinya akan dimulai dengan mengarak sepasang gunungan beserta perlengkapan lainnya. Kirab akan berjalan dari Karaton menuju Masjid Agung Solo, dikawal ketat oleh prajurit Karaton, sentana dalem, dan abdi dalem.

Dua gunungan utama yang dikirab memiliki filosofi tersendiri. Gunungan Jaler (Laki‑laki) berisi hasil bumi mentah sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Gunungan Estri (Perempuan) berisi makanan kering siap saji sebagai simbol kelimpahan rezeki, “Dua gunungan utama yang dikirab memiliki filosofi tersendiri. Untuk Gunungan Jaler (Laki‑laki) berisi hasil bumi mentah sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Gunungan Estri (Perempuan) berisi makanan kering siap saji sebagai simbol kelimpahan rezeki,” terangnya.

Setibanya di Masjid Agung Solo, kedua gunungan akan didoakan terlebih dahulu oleh pemuka agama Karaton. Usai doa bersama, Gunungan Jaler akan langsung diperebutkan oleh masyarakat di halaman masjid. Sedangkan Gunungan Estri akan dibawa kembali ke Kori Kamandungan untuk diperebutkan di halaman Karaton.

Selain kirab Grebeg Besar, Karaton Surakarta juga akan melaksanakan ritual jamasan atau pembersihan pusaka‑pusaka sakral Karaton sehari sebelum prosesi berlangsung. Beberapa pusaka yang dijamasi antara lain Meriam Nyai Setomi dan Songsong Kyai Brawijaya, jelasnya.

Grebes Besar tahun ini juga menyuguhkan aksi sosial. Pihak Karaton bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surakarta untuk menggelar layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Pelayanan kesehatan gratis tersebut akan berlangsung di Pagelaran Karaton Surakarta mulai pukul 08.30 WIB, sebut Gusti Moeng.

Paku Buwono XIV Purbaya sebelumnya akan menggelar Grebeg Besar pada tahun ini. Namun, KGPH Panambahan Agung Tedjowulan sudah mewanti‑wanti agar Grebeg Besar dilaksanakan sekali. Pengangeng Sasana Wilapa versi PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, mengatakan Grebeg Besar bakal dilaksanakan pada hari H Idul Adha atau tanggal 27 Mei 2026. Rangkaian acara Grebeg Besar sama dengan tahun‑tahunya sebelumnya.

Ia menambahkan, “Ya kalau kegiatannya kan sudah seperti biasa nggih, kalau di Keraton Grebeg Idul Adha itu seperti biasa gunungan, kemudian dibawa ke Masjid Besar, didoakan baru kemudian dibagikan. Nah, hanya ini kan kebetulan yang mengadakan pertama kali diadakan pada masa takhtanya Paku Buwono XIV, Grebeg digelar pada tanggal 27 Mei nanti,” kata Rumbay.

Rumbay menyebut pemilihan tanggal sudah sesuai perhitungan penanggalan Jawa dan Keraton. Ia mengatakan pemilihan tanggal tersebut tidak ada kaitannya dengan gelaran Grebeg Besar yang akan digelar oleh Tedjowulan, “Oh, Gusti Tedjo mau buat,” ucap Rumbay.

Ia juga mengungkapkan kebingungannya tentang perintah Raja: “Gini, tadi kan sudah diatur, sudah dijelaskan oleh Gusti Dipo bahwa acara‑acara Grebeg, Gunungan, Suro, itu adalah acara yang cara keraton yang itu adalah perintah Raja. Dhawuh Dalem kan begitu tadi ngendika‑nya, perintah, apa mau ya, acara dhawuh Dalem. Nah, dhawuh Dalem‑nya itu dari Raja. Makanya saya malah bingung, kalau Gusti Tejo bikin itu terus rajane sapa (siapa)? Kan Gusti Tejo bukan Raja,” sambung Rumbay.

Grebes Besar di Keraton Solo menandai perayaan Idul Adha yang dipenuhi tradisi dan nilai sosial. Acara ini menegaskan kembali hubungan antara Karaton Surakarta dan masyarakat, sekaligus menyalurkan kebaikan melalui sedekah dan layanan kesehatan gratis.

Keraton SoloGrebeg BesarIdul AdhaPaku Buwono XIVGununganMasjid Agung Sololayanan kesehatan gratissedekah

Komentar

Memuat komentar...