Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah: Puasa, Takbir, Kurban

Nita W. · 9 min baca · 2 bulan lalu · 94 dibaca
Bisik.id
Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah: Puasa, Takbir, Kurban

Gambar atau konten salah?

Keutamaan Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu bulan yang paling dinantikan umat Islam setiap tahunnya. Bulan ini memiliki banyak keistimewaan, mulai dari menjadi bulan suci, bulan haji, hingga bulan penyempurnaan Islam. Berikut rangkuman keutamaan dan amalan yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah.

Daftar Keutamaan Bulan Dzulhijjah

  • Salah satu bulan suci
  • Bulan haji
  • Bulan penyempurnaan Islam
  • Waktu yang dicintai Allah SWT
  • Waktu mulia dan berkat
  • Waktu paling agung

Amalan yang dianjurkan pada Bulan Dzulhijjah

  • Puasa
  • Puasa Ayyamul Bidh
  • Memperbanyak takbir dan dzikir
  • Melaksanakan ibadah haji
  • Berkurban
  • Bertaubat
  • Sholat Idul Adha
  • Membaca doa akhir tahun

Salah satu bulan suci

Dzulhijjah termasuk salah satu bulan haram atau bulan suci yang dimuliakan dalam Islam. Allah SWT berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ۝٣٦

Artinya: "Sesungguhnya, bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan, ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS at-Taubah [9]: 36)

Ibnu Katsir menjelaskan empat bulan haram tersebut merujuk pada hadits riwayat Imam Ahmad, ketika Rasulullah SAW sedang menunaikan haji wada' terakhir, ia bersabda:

"Ingatlah, sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram, yang lainnya ialah Rajab Mudar, yang terletak di antara bulan Jumada (Jumadil Akhir) dan Syaban."

Bulan haji

Bulan Dzulhijjah dikenal juga sebagai bulan haji. Pada bulan ini, umat Islam yang mampu menunaikan salah satu rukun Islam yakni ibadah haji di Mekkah.

Bulan penyempurnaan Islam

Para ulama menyebut Allah SWT menyempurnakan Islam sebagai agama pada bulan Dzulhijjah. Keterangan tersebut sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Imam Bukhari:

جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ إِلَى عُمَرَ فَقَالَ : يَا أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُوْنَهَا، لَوْ كَانَ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَا تَخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيْدًا. قَالَ: وَأَيَّةُ آيَةٍ؟ قَالَ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا. فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي لَأَعْلَمُ الْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيْهِ، وَالْيَوْمَ الَّذِي أُنْزِلَتْ، نَزَلَتْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ يَوْمَ جُمُعَةٍ.

Artinya: "Seorang laki-laki Yahudi datang kepada Umar, lalu ia berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat di dalam kitab kalian yang kalian membacanya, sekiranya ayat tersebut turun pada Yahudi, niscaya akan kami jadikan hari Id (perayaan) kami. Umar bertanya, 'Ayat yang manakah? Yahudi itu berkata, "Yaitu ayat yang berbunyi, 'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian serta Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.'" Umar berkata, 'Kami telah mengetahui hari dan tempat diturunkannya ayat ini kepada Nabi Saw. Dan, beliau saat itu sedang berdiri (berkhutbah) di Arafah pada hari Jum'at." (HR Bukhari dan Muslim)

Waktu yang dicintai Allah SWT

Keutamaan bulan Dzulhijjah berikutnya ialah Allah SWT sangat mencintai amal saleh yang dikerjakan pada 10 hari pertamanya. Bahkan, amalan pada waktu tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar hingga disandingkan dengan pahala jihad di jalan Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari, Ahmad, dan at-Tirmidzi:

مَا مِنْ أَيَّامِ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Artinya: "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah). Para sahabat bertanya: 'Ya Rasulullah, tidak juga dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?' Beliau menjawab: 'Tidak juga dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun (mati syahid).' (HR al-Bukhari, Ahmad, dan at-Tirmidzi)

Waktu mulia dan berkat

Beberapa ulama berpendapat bahwa Allah SWT bersumpah dengan sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah dalam Surah al-Fajr ayat 1-2. Pendapat ini juga banyak dibenarkan dan dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Katsir dalam kitab tafsir mereka. Meski demikian, ada pula ulama yang menafsirkan "malam yang sepuluh" sebagai sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Berikut bunyi Surah al-Fajr ayat 1-2:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya: "Demi fajar, dan malam yang sepuluh" (QS al-Fajr: 1-2)

Ketika menafsirkan ayat tersebut, Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa frasa "Wa layaalin 'asr" yang berarti dan malam yang sepuluh merujuk pada sepuluh malam pertama Dzulhijjah. Menurutnya, penafsiran tersebut berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli tafsir. Pendapat serupa juga disampaikan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, yaitu: "Dan malam-malam yang sepuluh adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan sejumlah ulama salaf dan khalaf." (Ibnu Katsir)

Waktu paling agung

Bulan Dzulhijjah, tepatnya 10 hari pertamanya disebut sebagai waktu yang sangat agung dan dicintai Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta memperbanyak bacaan tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya: "Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih Dia cintai untuk beramal di dalamnya sebagaimana 10 hari ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah). Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid." (HR Ahmad)

Amalan yang dianjurkan pada Bulan Dzulhijjah

Berikut penjelasan mengenai amalan-amalan yang dapat dikerjakan umat Islam sepanjang bulan Dzulhijjah:

1. Puasa

Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa pada bulan Dzulhijjah, khususnya pada 9 hari pertama atau pada tanggal 1-9 Dzulhijjah. Hal ini sebagaimana Hunaidah bin Kholid meriwayatkan dari istrinya yang memperoleh riwayat dari beberapa istri Rasulullah SAW, berkata:

"Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah, pada hari Asyura (10 Muharram), dan tiga hari di setiap bulan." (HR Abu Dawud)

Di antara para sahabat yang mempraktikkan puasa 9 hari awal Dzulhijah tersebut adalah Ibnu Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut, sehingga menjadi pendapat mayoritas ulama.

Puasa pada 1-9 Dzulhijjah tersebut meliputi puasa sunnah 1-7 Dzulhijjah, puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam yang tidak melakukan ibadah haji untuk berpuasa di hari Arafah, sebagaimana hadits dari Abu Qatadah yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa Arafah, kemudian beliau menjawab:

"Puasa Arafah menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang." (HR Muslim)

2. Puasa Ayyamul Bidh

Selain puasa 1-9 Dzulhijjah, umat Islam juga dapat mengerjakan puasa Ayyamul Bidh. Puasa tersebut dilaksanakan setiap pertengahan bulan Hijriah, tepatnya pada tanggal 13, 14, dan 15. Anjuran ini sebagaimana yang dituturkan oleh Ummul Mu'minin Hafsah, bahwa:

"Sesungguhnya, Rasulullah SAW berpuasa Asyura, sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, dan tiga hari pada setiap bulan." (HR Abu Dawud)

3. Memperbanyak Takbir dan Dzikir

Amalan saleh selanjutnya yang dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan Dzulhijjah ialah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, serta memperbanyak doa. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari:

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ خَلْفَ النَّافِلَةِ

Artinya: "Ibnu 'Abbas berkata, 'Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.' Ibnu 'Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin 'Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah." (HR Bukhari)

4. Melaksanakan Ibadah Haji

Setiap umat Islam yang memiliki kemampuan rezeki dan fisik hendaklah untuk menunaikan ibadah haji. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi kewajiban bagi yang mampu. Ibadah haji harus dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat agar diterima oleh Allah SWT. Jika dikerjakan dengan benar, maka seorang muslim berpeluang mendapatkan balasan yang sangat agung. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW berikut:

"Umrah ke umrah adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan, haji mabrur tidak ada balasan baginya, kecuali surga." (HR Bukhari dan Muslim)

5. Berkurban

Pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari Tasyrik, umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan ibadah kurban. Ibadah ini merupakan bentuk keteladanan dari Nabi Ibrahim AS dan termasuk syariat dalam Islam. Adapun anjurkan berkurban disebutkan dalam firman Allah SWT:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَالْخَرَ

Artinya: "Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS al-Kautsar [108]: 02)

Kurban atau al-udhhiyah adalah penyembelihan hewan ternak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini dilakukan pada hari Idul Adha dan hari Tasyriq sesuai ketentuan syariat. Abdullah bin Umar berkata, "Rasulullah SAW tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, dan beliau selalu berkurban." Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menyembelih hewan qurban setelah shalat, maka sungguh telah sempurna penyembelihannya. Ia telah cocok dengan sunnah kaum muslimin." (HR Bukhari dan Muslim)

6. Bertaubat

Salah satu hal yang ditekankan di bulan Dzulhijjah adalah bertaubat dari dosa dan menjauhi kemaksiatan, termasuk pada 10 hari pertamanya. Taubat menjadi cara seorang hamba kembali kepada Allah SWT dari hal-hal yang dibenci menuju ketaatan. Secara sederhana, taubat dilakukan dengan menyesali dosa yang telah dilakukan. Selain itu, seseorang juga harus meninggalkan perbuatan dosa tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Pada dasarnya, setiap manusia tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Namun, Allah SWT memberikan jalan pengampunan melalui taubat dan istighfar sebagai cara untuk menghapus dosa-dosa tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya kamu tidak pernah berbuat dosa, pastilah Allah membinasakan kamu dan akan didatangkan suatu kaum yang melakukan dosa, lalu mereka beristighfar dan Allah pun mengampuni mereka." (HR Abu Ayyub al-Anshari)

7. Sholat Idul Adha

Umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Hari raya ini menjadi momen untuk bergembira sesuai tuntunan syariat Islam. Pada hari tersebut, umat Islam disunnahkan melaksanakan shalat Idul Adha pada pagi hari. Shalat ini menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah SWT dan pengingat bahwa segala kebahagiaan berasal dari-Nya. Umat Islam diharapkan semakin menyadari pentingnya bersyukur dan memuji kebesaran Allah SWT dengan melaksanakan shalat Id. Mengenai shalat Idul Adha, Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadits bahwa:

"Rasulullah SAW pernah keluar pada Hari Raya Idul Adha atau Idul Fitri, lalu beliau mengerjakan shalat Id dua rakaat, namun beliau tidak mengerjakan shalat qabliyah maupun ba'diyah." (HR Bukhari dan Muslim)

8. Membaca Doa Akhir Tahun

Dzulhijjah merupakan bulan terakhir dalam kalender Hijriah. Karena itu, umat Islam dianjurkan menutup akhir tahun dengan memperbanyak doa dan memohon ampun kepada Allah SWT. Berikut bacaan doa akhir tahun yang dibaca sebanyak tiga kali untuk menutup tahun Hijriah:

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلَمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْاءَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ. فَإِنِّي اسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاسْأَلُكَ اللَّهُمَّ يَا كَرِيمُ يَا ذَالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي وَلَا تَقْطَعُ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Arab Latin: Wa shallallaahu alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii wa sallam. Allaahumma ma 'amiltu fi haadzihis sanati mimmaa nahaitani 'an-hu falam atub min-hu walam tardhahu walam tansahu wa halamta 'alayya ba'da qudratika 'ala uquubatii wa da'autanii ilattaubati min-hu ba'da jur'ati alaa ma'siyatika fa innii astaghfiruka fagfirlii wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaahu wa wa'adtani 'alaihits-tsawaba fas'alukallahumma yaa karimu yaa dzal jalaali wal ikraam, an tataqabbalahu minnii wa la taqtha' rajai minka yaa karim, wa sallallaahu 'ala sayyidinaa muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'ala aalihii wa sahbihii wa sallam.

Artinya: "Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw., beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah aku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untukku, dan Engkau telah mengajakku untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu, ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, aku mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amalku dan semoga Engkau tidak memutuskan harapanku kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah. Dan, semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami, Muhammad, serta keluarga dan sahabatnya."

Referensi

  • Buku 'Kalender Ibadah Sepanjang Tahun' karya Ustaz Abdullah Faqih Abdul Wahid
  • Laman Majelis Ulama Indonesia (MUI) berjudul 'Keutamaan Dzulhijjah dan Amalan-Amalan yang Dianjurkan'
  • Laman Suara Muhammadiyah berjudul 'Khutbah Jum'at: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah'
  • Buku 'Belajar Sendiri Semua Jenis Shalat' karya Zainal Abidin
  • Buku 'Amalan Pada Bulan Dzulhijjah' karya Muchlisin, S Pd I, M Pd (alk/alk)

Keutamaan bulan Dzulhijjah menegaskan pentingnya memperbanyak amal saleh, memperkuat hubungan spiritual dengan Allah, dan mengingat kembali nilai-nilai kebaikan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Dengan mengikuti amalan yang dianjurkan, umat dapat meraih pahala yang tinggi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir tahun.

Dzulhijjah10 hari pertamaamalanpuasahajikurbantaubattahsil

Komentar

Memuat komentar...