Lontong Orari Banjarmasin: Warung Legenda Dari Hj. Rusminah

Teguh A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 104 dibaca
Bisik.id
Lontong Orari Banjarmasin: Warung Legenda Dari Hj. Rusminah

Gambar atau konten salah?

Lontong Orari Banjarmasin berdiri di Jalan Simpang Sei Mesa, Banjarmasin Tengah, hanya 500 meter dari tepian Sungai Martapura. Rumah makan panggung ini tampak sederhana, namun aroma khas lontong sayur mengundang pelanggan dari berbagai kalangan.

Sejak 1978 atau awal 1980-an, Hj. Rusminah memulai usaha ini untuk mendukung lima anaknya. Ia mengingat, “Saya mulai berdagang di rumah ini sejak 1978, atau awal 1980‑an, untuk menghidupi lima anak saya,” ujarnya dalam bahasa Banjar. Percakapan tersebut dibantu oleh menantu yang akrab dipanggil Mamah Kevin, yang juga menerjemahkan kata‑kata beliau.

Rusminah lahir dan menempuh pendidikan di Sekolah Kepandaian Putri, setingkat SMP. Setelah menikah tiga kali, ia memiliki lima anak, tiga di antaranya sudah berpulang, dan dua masih hidup. Semua suami anaknya bekerja sebagai pegawai negeri atau anggota DPRD. Dengan latar belakang ini, Rusminah harus menanggung beban keluarga secara penuh.

Awalnya, ia hanya menjajakan lontong sayur sebagai sarapan bagi warga sekitar. Namun, dalam hitungan hari, warung kecil itu menjadi terkenal sebagai “Warung Lontong Mak Haji.” Nama “Lontong Orari” muncul kemudian, saat para pemuda yang aktif berkomunikasi lewat radio Orari sering berkumpul atau “ngebreak” di tempat ini. Seiring waktu, nama itu melekat dan menjadi identitas yang tak tergantikan.

Menu utama di Lontong Orari menonjolkan lontong sayur yang dibumbui dengan bumbu habang dan bumbu merah khas Banjar. Kuah santan kental mengiringi rasa gurih, manis, dan sedikit asin, disertai taburan bawang goreng. Lauk‑pauknya meliputi telur bebek rebus, ayam goreng berbumbu, sayur nangka muda bersantan, dan dulu pernah menjadi primadona ikan haruan, atau gabus khas sungai Kalimantan. Namun, beberapa bulan terakhir, ikan haruan tidak lagi disajikan karena pasokan menurun dan ukuran ikan tidak memenuhi standar. “Saya tidak mau pelanggan kecewa kalau ikannya makin kecil,” kata Rusminah, sehingga ia memutuskan menunda penyajian haruan sampai kualitasnya kembali memuaskan.

Untuk menghasilkan lontong yang padat namun tetap lembut, Rusminah menggunakan beras premium sekelas beras Cianjur. Ia memilih beras yang cenderung pera dan menyimpannya beberapa waktu sebelum dimasak. Setiap bungkus lontong diisi sekitar dua setengah sendok makan beras, lalu dimasak selama lima jam dengan kayu bakar, atau hingga delapan jam jika menggunakan kompor minyak.

Operasional harian memerlukan bantuan sekitar 15 orang—anak, menantu, kerabat, hingga tetangga. Setiap hari, mereka mengolah antara 35 hingga 60 kilogram beras menjadi lontong, memasak sekitar 40 ekor ayam dan 400 butir telur bebek, serta menyiapkan lauk lainnya. Biaya daun pisang saja dapat mencapai Rp1 juta per hari.

Harga menu di sini sedikit di atas rata‑rata. Seporsi lontong dengan telur dibanderol sekitar Rp22 ribu, dengan ayam Rp31 ribu, dan sebelumnya dengan haruan Rp37 ribu. Meskipun harganya lebih tinggi, pelanggan setia menilai sepadan karena porsi besar dan rasa yang konsisten selama puluhan tahun.

Dengan sejarah yang panjang, Lontong Orari Banjarmasin tetap menjadi tempat favorit bagi warga Banjarmasin. Warung ini tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga kisah ketekunan dan dedikasi seorang ibu yang berjuang untuk keluarganya. Keberlanjutan usaha ini menunjukkan bahwa rasa dan tradisi dapat bertahan lama, bahkan di tengah perubahan pasar dan tantangan pasokan bahan baku.

Lontong OrariBanjarmasinHj. RusminahLontong SayurBumbu HabangIkan HaruanWarung Lontong Mak Haji

Komentar

Memuat komentar...