Macan Tutul Terjerat di Permukiman Bogor, Evakuasi Berlangsung
Gambar atau konten salah?
Macan tutul ditemukan terjerat di permukiman warga Kampung Gunung Mas RT 02/02, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor pada 03 April 2024. Lokasi temuan tidak jauh dari GOR bulutangkis setempat, sehingga segera menarik perhatian warga sekitar.
Petugas Polisi Kehutanan (Polhut) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah Bogor, Dani Hamdani, menegaskan bahwa laporan tersebut sudah diterima dan tim langsung bergerak ke lokasi. Ia menyatakan, “Informasi baru diterima dan tim langsung bergerak ke lokasi.”
Menurut Dani, keterlibatan tim gabungan diperlukan agar kondisi satwa dan proses evakuasi berjalan aman, baik bagi warga maupun hewan yang terjerat. Ia menduga macan tersebut berasal dari kawasan sekitar Gunung Mas. “Diduga liar, tidak ada yang punya. Memang masih banyak di daerah sekitar Gunung Mas,” ujar Dani.
Perkataan tersebut menegaskan bahwa kemunculan macan tidak berasal dari kepemilikan individu, melainkan bagian dari populasi alami yang masih bertahan di kawasan hutan Puncak. BKSDA bekerjasama dengan Taman Safari Indonesia (TSI) untuk mengevakuasi macan tersebut. Menurutnya, ada standar evakuasi yang tidak bisa dilakukan asal. “Misalnya melakukan pengamatan terlebih dulu untuk menaksir bobot satwa liar itu untuk kemudian dibius. Kalau salah dosis bisa-bisa overdosis,” tambah Dani.
Warga melaporkan bahwa jejak kucing besar sudah terdeteksi sejak dua pekan terakhir. Hadi (32), warga setempat, mengungkapkan jejak-jejak mencurigakan mulai ditemukan di sekitar permukiman. Ia pernah memasang perangkap meski belum bisa memastikan jenis satwa yang berkeliaran. “Pas dua minggu kemarin tuh ada jejak-jejak. Awalnya ada jejak-jejak. Ini perangkap udah standby di sini. Kita kira bukan macan gitu kan,” kata Hadi saat ditemui di lokasi.
Situasi memuncak pada 02 April 2024 sekitar pukul 23.30 WIB. Hadi menyebut macan nekat masuk ke area dapur rumahnya. “Pas malam kemarin tuh macan masuk ke dapur rumah saya. Itu lewat atas, itu jebol semua. Plafonnya udah jebol,” katanya.
Sehingga, sebelum akhirnya berhasil diamankan, satwa dilindungi tersebut diduga telah memangsa sejumlah ternak warga. Hadi menambahkan, “Banyak. Yang punya orang tua saya tuh semuanya habis. Tetangga, kucing juga semuanya habis.” Ia mengingat peristiwa serupa pada tahun 2000, saat seekor macan juga memangsa ternak di wilayah yang sama. “Yang dulu tahun 2000 pernah udah dapet tuh macan tutul. Itu juga sama, kambing habis semuanya ternak-ternak,” tuturnya.
Setelah macan masuk perangkap, warga segera melapor ke pihak berwenang. Evakuasi dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur teknis. Direktur Utama Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menyatakan, “Tim Life Science, bersama dokter hewan, paramedik, dan kurator, telah dikerahkan ke lokasi untuk memberikan penanganan terbaik bagi macan tutul liar yang ditemukan terjerat di kawasan Gunung Mas.”
Ia menegaskan seluruh proses evakuasi dilakukan secara terkoordinasi dengan BKSDA Bogor sebagai otoritas berwenang, mengacu pada prosedur perlindungan satwa liar. “Seluruh proses evakuasi dan penanganan satwa dilaksanakan secara terkoordinasi bersama BKSDA Bogor selaku otoritas berwenang, dengan mengacu pada ketentuan dan prosedur perlindungan satwa liar yang berlaku,” kata Aswin.
Macan tersebut kini ditempatkan di lokasi penanganan sementara dan terus dipantau oleh tim gabungan. Kondisinya disebut stabil, meski masih membutuhkan pengawasan lanjutan. “Saat ini, satwa telah berhasil dievakuasi dan tengah menjalani observasi di lokasi penanganan sementara di bawah pemantauan tim medis dan konservasi kami. Kondisi satwa saat ini dalam keadaan stabil dan terus dipantau secara intensif untuk memastikan pemulihannya berjalan dengan baik,” ujar Aswin.
Ke depan, proses penanganan akan dilanjutkan melalui koordinasi dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) serta Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), sesuai kewenangan masing-masing lembaga. “Tahapan selanjutnya akan dilaksanakan melalui koordinasi lanjutan bersama Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), sesuai dengan kewenangan masing-masing pihak,” tuturnya.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya kerja sama antara lembaga pemerintah dan organisasi konservasi dalam menangani satwa liar yang terjerat di wilayah permukiman. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan melaporkan kejadian serupa untuk melindungi diri dan satwa yang terancam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
