Mantan Insinyur Meta Jadi Penjual Mie Kaki Lima di Jakarta
Gambar atau konten salah?
Di Jakarta, seorang mantan insinyur perangkat lunak yang dulu bekerja di Meta kini membuka warung mie kaki lima. Nama dia Alvin Tan, seorang pria asal Singapura yang memutuskan untuk meninggalkan dunia teknologi tinggi dan memulai bisnis kuliner sederhana.
Pekerjaan di perusahaan teknologi besar seperti Meta sering dianggap prestasi tinggi. Gaji dan tunjangan kompetitif, serta peluang karir yang cepat, menjadi daya tarik utama. Namun, bagi Alvin Tan, kenyataan di lapangan berbeda.
Setelah beberapa tahun bekerja, ia mulai merasa bosan. Restructuring menjadi hal yang sering terjadi di perusahaan besar. Alvin Tan mengaku bahwa pengalaman tersebut membuatnya berpikir ulang tentang tujuan hidupnya.
Perusahaan-perusahaan besar semuanya melakukan restrukturisasi. Tim saya bahkan beberapa kali melakukan restrukturisasi. Itu adalah impian setiap orang, tetapi begitu Anda berada di dalamnya, Anda akan memikirkan hal lain yang dapat Anda lakukan dalam hidup, jelasnya kepada seorang kreator video.
Setelah memutuskan untuk keluar, pendapatan Alvin Tan turun drastis. Ia mengatakan bahwa pendapatan sebelumnya dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada yang sekarang. Perbandingan ini membuatnya menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak sefleksibel yang ia bayangkan.
Untuk mengatasi keterbatasan keuangan, Alvin Tan mendapatkan bantuan dari pacarnya. Ia membantu mengelola operasional harian dan membantu mengatur keuangan warung. Tan mengucapkan terima kasih atas dukungan tersebut.
Ketika ditanya apa yang akan ia sampaikan kepada orang yang mempertimbangkan langkah serupa, ia menekankan pentingnya optimisme. Alvin Tan percaya bahwa selalu ada pintu terbuka, dan jika suatu hari gagal, masih ada jalan lain.
Selain itu, istirahat juga penting. Jika memasak ini membuat saya sering sakit, maka saya akan memprioritaskan kesehatan saya, ujarnya.
Reaksi netizen beragam. Seorang netizen mengomentari bahwa AI dapat menggantikan pekerjaan insinyur perangkat lunak, tetapi tidak dapat menggantikan penjual mie Hokkien. Netizen lain, seorang chef dan pemilik restoran BBQ di pantai, menambahkan bahwa ia juga memiliki laboratorium di belakang restorannya untuk rekayasa perangkat keras, mencontohkan bahwa seseorang dapat menggabungkan dua bidang.
Netizen lain memuji cita rasa mie Hokkien yang dijual oleh Alvin Tan. Ia mengungkapkan, “Sekadar informasi, ini pasti salah satu Hokkien mee terbaik yang pernah saya cicipi,” sambil menilai kuah kaldu udang yang gurih.
Perpindahan ini memaksa Alvin Tan menurunkan gaya hidup. Ia mengurangi pengeluaran makanan dan lebih sering memasak sendiri di rumah. Rutinitasnya berubah; ia memiliki sedikit waktu untuk teman dan keluarga karena setiap liburan berarti kehilangan pendapatan.
Kisah ini menyoroti bahwa pekerjaan di perusahaan teknologi besar tidak selalu menjamin kepuasan jangka panjang. Pilihan karir yang berani, meski mengurangi pendapatan, dapat membawa kebahagiaan baru dan pelajaran tentang nilai kerja keras, dukungan pasangan, dan pentingnya kesehatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Asal Usul Tahu, Kopi, Teh, dan Sandwich: Tak Terduga
Jaime Tan Juara MasterChef: Roti Canai dalam Waktu Singkat
Little Toni's Jadi Landmark Baru Setelah Film Obsession Viral
Jasuke, Jajan Jagung Manis Keju, Tetap Kena Favorit
Awkarin Jelaskan Harga Pecel Lele di Melbourne, Harga 8 Dolar
Minyak Truffle Palsu: Rasa Asli vs Sintetis di Pasaran
Berita Terbaru
IHSG Rebound 7,57% ke 5.746,64, OJK Dorong Buyback Indonesia
Bank Indonesia Naikkan BI Rate 5,5% demi Stabilitas Rupiah
VW Prediksi Penjualan Mobil Bensin Turun 97% pada 2035
Persona 6: Rilis Belum Tertetapkan, Tersedia PS5, Xbox, PC
Indeks CFX10: Acuan Pasar Kripto Indonesia Diluncurkan
IHSG Tutup di Zona Hijau, Naik 7,5% ke 5.746,64 Pasar
