Manusiawi dalam Pelayanan: Renungan Katolik Hari Rabu

Fandi R. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Manusiawi dalam Pelayanan: Renungan Katolik Hari Rabu

Gambar atau konten salah?

20 Mei 2026 – Renungan harian Katolik pada hari Rabu ini mengajak umat untuk memahami makna menjadi pribadi yang manusiawi dalam pelayanan. Menurut teks, menjadi manusiawi bukan berarti lemah, melainkan menunjukkan kasih, kepedulian, dan ketulusan dalam melayani sesama.

Berikut bacaan liturgi yang dibaca pada hari ini:

Bacaan I: Kisah Para Rasul 20:28‑38

Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak‑Nya sendiri. Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala‑serigala yang ganas akan masuk ke tengah‑tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid‑murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga‑jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti‑hentinya menasihati kamu masing‑masing dengan mencucurkan air mata. Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia‑Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan‑Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluan kawan‑kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang‑orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. Sesudah mengucapkan kata‑kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama‑sekali dengan mereka semua. Maka menangislah mereka semua tersedu‑sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang‑ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita, terlebih‑lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:29‑30.33‑35a.35b‑36c

Demi bait‑Mu di Yerusalem, raja‑raja menyampaikan persembahan kepada‑Mu. Hardiklah binatang‑binatang di teberau, kawanan orang‑orang kuat, penguasa‑penguasa bangsa‑bangsa! Injaklah mereka yang mengejar perak; serakkanlah bangsa‑bangsa yang suka berperang! bagi Dia yang berkendaraan melintasi langit purbakala. Perhatikanlah, Ia memperdengarkan suara‑Nya, suara‑Nya yang dahsyat! Akuilah kekuasaan Allah; kemegahan‑Nya ada di atas Israel, kekuasaan‑Nya di dalam awan‑awan. Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus‑Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat‑Nya. Terpujilah Allah! Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus‑Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat‑Nya. Terpujilah Allah!

Bacaan Injil: Yohanes 17:11b‑19

Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada‑Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama‑Mu, yaitu nama‑Mu yang telah Engkau berikan kepada‑Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama‑Mu, yaitu nama‑Mu yang telah Engkau berikan kepada‑Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada‑Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita‑Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman‑Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman‑Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri‑Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

Renungan hari ini menekankan bahwa “manusiawi” dalam pelayanan berarti tidak menurunkan standar kasih, melainkan menyalurkan empati dan kepedulian kepada orang lain. “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” (Yoh. 17:18) Dalam konteks ini, perutusan bukan sekadar tugas formal, melainkan panggilan untuk hidup berani menunjukkan kasih dalam setiap tindakan.

Para pengikut diingatkan bahwa Tuhan tidak hanya menilai hasil pelayanan, tetapi juga hati dan sikap yang ditunjukkan. Menjadi manusiawi berarti menjaga nilai‑nilai kemanusiaan, pengampunan, dan cinta kasih dalam keseharian. Ini tercermin dalam contoh sederhana: memberi perhatian, menghargai, dan mengakui martabat orang lain, meskipun mereka bukan bagian dari keluarga atau komunitas resmi.

Pengalaman pribadi penulis, Angelika Endang, mengilustrasikan bagaimana nilai ini dapat diterapkan di rumah. Sejak kecil, ia diajarkan sopan santun kepada orang tua: “minta tolong,” “terima kasih,” dan “maaf.” Ia menerapkannya kepada anak-anak dan pembantu rumah tangga, mengajarkan mereka untuk berkata “tolong” saat meminta bantuan, mengucapkan “terima kasih” setelah dibantu, dan meminta maaf bila merasa bersalah. Ia juga berbagi makanan kepada mereka. Ia menilai bahwa ucapan sederhana ini membuat orang merasa dihargai dan dianggap manusia seutuhnya.

Pengalaman ini menegaskan bahwa pelayanan tidak berhenti di gereja. Umat diutus keluar untuk mewartakan kasih dan damai Kristus, sekaligus hidup mencerminkan kasih dan kebenaran Tuhan di keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. Perutusan, sebagaimana Yesus tekankan di Yohanes 20:21, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu,” menuntut kita menjadi perpanjangan kaki dan tangan Tuhan selama hidup.

“Pergilah, Misa sudah selesai dan kita diutus.”

Doa Penutup

Bapa Kasih-Mu nyata dalam perutusan ini
Kau temani kami dengan pesona cinta‑Mu
Kasih‑Mu yang setia menuntun kami umat‑Mu hingga penuh warna perutusan‑Mu
Bapa tuntunlah kami dalam pewartaan ini
Agar semua terjadi sesuai dengan kehendak‑Mu
Tuhan sertai kami dalam perutusan ini
Sehingga semua terjadi seturut dengan kehendak‑Mu. Amin.

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: Angelika Endang

Renungan ini mengajak kita untuk melihat perutusan sebagai panggilan hidup berani menunjukkan kasih, empati, dan kepedulian dalam setiap tindakan. Dengan menjaga hati yang tulus dan sikap yang manusiawi, kita dapat menyalurkan kasih Tuhan kepada sesama, menjadikan setiap langkah pelayanan sebagai wujud nyata iman dalam kehidupan sehari‑hari.

Renungan KatolikPelayananKasihEmpatiManusiawiPerutusanAngelika Endang

Komentar

Memuat komentar...