Masinis Ajeng Tunda Mudik, Fokus Layanan Lebaran
Gambar atau konten salah?
Ajeng Elsantika Purnawati duduk di kabin lokomotif yang sempit. Panel kendali bersinar, tuas di tangannya terjepit kuat. Di depan, rel menelusuri lintasan. Ia menanggung tanggung jawab tidak hanya menggerakkan mesin, tetapi juga keselamatan ratusan penumpang.
Lebaran tahun ini, Ajeng menolak keinginannya untuk pulang ke Lamongan, Jawa Timur. Saat orang lain mudik, ia tetap bertugas di tengah lonjakan perjalanan kereta api. “Saya juga ingin mudik, tapi saya sudah mendedikasikan diri di sini. Jadi saya harus mengikuti aturan,” ungkapnya pada Jumat, 20 Maret 2026.
Musim Lebaran adalah periode paling sibuk bagi perkeretaapian. Penumpang melonjak, sehingga peran masinis menjadi lebih penting. Ajeng menyadari bahwa kehadirannya dibutuhkan di saat itulah.
Kariernya dimulai pada 2 Februari 2022. Setelah pelatihan teori tiga bulan, depot satu bulan, dan praktik dua bulan, ia diangkat menjadi masinis pertama pada 6 September 2023. Baru-baru ini, ia mendapat status masinis muda pada 15 Januari 2026.
Di dunia ini, ia adalah salah satu dari tiga perempuan masinis di Daop 2 Bandung. Lingkungan yang didominasi laki-laki menuntut adaptasi lebih cepat. “Cukup menantang bagi saya karena didominasi laki-laki, jadi harus beradaptasi lebih,” ujarnya.
Rasa bangga keluarga menjadi dukungan kuat. “Tanggapan keluarga bangga dan selalu mendukung apa yang saya jalani saat ini,” kata Ajeng.
Selama bertugas, ia pernah berdinas di Yogyakarta sebagai asisten masinis. Kemudian ia kembali ke Daop 2 Bandung, mengoperasikan kereta lokal Bandung Raya hingga kereta feeder. Rutinitas kerja, termasuk dinas malam, tidak mengenal waktu.
“Dinas malam tidak ada yang ditakuti. Setiap pekerjaan memiliki risikonya. Mungkin yang harus saya perhatikan adalah jam tidur, harus adaptasi di situ,” jelasnya.
Di balik profesionalisme, ada momen sederhana yang memberi semangat. Setelah perjalanan selesai, penumpang sering menghampiri dan mengucapkan terima kasih. “Kemudian mungkin saya tenang setelah habis dinas. Ada penumpang yang maju ke depan berterima kasih kepada kami masinis, itu bikin kami semangat,” tambahnya.
Namun, Ajeng tetap merasakan rindu. Jarak dengan keluarga menjadi konsekuensi yang ia terima. Untuk mengatasi kerinduan, ia memanfaatkan video call. “Paling komunikasi lewat video call,” katanya singkat.
Kesimpulan: Ajeng Elsantika Purnawati adalah contoh dedikasi seorang masinis perempuan. Ia tetap bertugas di masa Lebaran, menyeimbangkan tanggung jawab profesional dengan hubungan keluarga melalui teknologi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
