Menteri Energi: Matikan Kompor Saat Masakan Matang

Hari W. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Menteri Energi: Matikan Kompor Saat Masakan Matang

Gambar atau konten salah?

Di sebuah acara yang disiarkan lewat kanal YouTube Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengingatkan warga Jakarta dan sekitarnya untuk lebih bijak dalam menggunakan gas LPG saat memasak. Acara tersebut berlangsung di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah pada hari ini.

“Saya memohon, menyarankan agar ayo kita harus memakai energi dengan bijak. Yang tidak perlu saya sarankan jangan. Contoh, katakanlah kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak jangan kompornya boros,” ujar Bahlil. Ia menekankan bahwa langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi konsumsi energi di tengah ketidakpastian harga bahan bakar global.

Meski Bahlil tidak menyebutkan secara spesifik, mematikan kompor setelah masakan matang dapat dianggap sebagai tindakan hemat energi. Namun, dari perspektif kesehatan, praktik ini juga berkaitan erat dengan kualitas nutrisi dalam makanan.

Dalam ilmu gizi, istilah overcooking mengacu pada proses memasak yang berlangsung terlalu lama atau pada suhu yang terlalu tinggi. Proses ini membuat makanan menjadi lebih lembut, namun juga dapat merusak berbagai zat gizi yang sensitif terhadap panas.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vitamin yang larut air, seperti vitamin C dan sebagian vitamin B, sangat mudah rusak ketika terpapar panas terlalu lama. Bahkan, overcooking pada sayuran disebut sebagai salah satu penyebab terbesar hilangnya nutrisi selama proses memasak.

Studi tentang metode memasak juga menunjukkan bahwa waktu dan suhu adalah faktor paling menentukan kualitas nutrisi makanan. Semakin lama makanan berada di atas panas tinggi, semakin besar kemungkinan terjadinya degradasi vitamin, antioksidan, dan senyawa bioaktif lainnya.

Penjelasan ini menjelaskan mengapa kompor sebaiknya dimatikan ketika makanan sebenarnya sudah matang. Panas tambahan setelah titik kematangan tercapai tidak lagi memberikan manfaat pada proses memasak dan justru dapat merusak kualitas nutrisi.

Namun, proses memasak tidak langsung berhenti ketika api dimatikan. Panas yang tersimpan di dalam bahan makanan, panci, serta uap air masih dapat melanjutkan proses pemanasan untuk beberapa waktu. Dalam kajian ilmu pangan, panas yang tersisa di dalam wadah masak dapat terus berpindah ke bagian dalam makanan. Perpindahan panas tersebut membuat suhu makanan tetap meningkat sesaat setelah sumber panas dihentikan sehingga proses pematangan masih berlangsung.

Situasi ini sering terlihat pada masakan berkuah atau tumisan. Setelah kompor dimatikan, uap panas di dalam panci masih membantu menyelesaikan proses memasak secara perlahan. Cara ini sering dimanfaatkan dalam teknik memasak agar makanan tidak menjadi terlalu matang.

Penggunaan api yang terlalu besar sering membuat makanan cepat matang di bagian luar tetapi belum matang sempurna di bagian dalam. Kondisi tersebut akhirnya membuat waktu memasak menjadi lebih lama karena makanan harus kembali dipanaskan. Penelitian dari jurnal Academic Letters tahun 2025 mengenai pengaruh suhu tinggi terhadap kualitas bahan pangan menunjukkan bahwa paparan panas berlebih dapat memengaruhi stabilitas nutrisi sekaligus mengubah tekstur makanan. Pengaturan suhu yang tepat selama proses memasak membantu mempertahankan kualitas bahan pangan.

Setelah memasak, makanan yang sudah matang sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang karena kondisi tersebut memungkinkan bakteri berkembang lebih cepat. Pendinginan dan penyimpanan yang tepat membantu menjaga keamanan makanan sebelum dikonsumsi kembali.

Pesan hemat gas yang ramai dibicarakan ini pada akhirnya juga menyentuh prinsip dasar memasak yang sehat dan bergizi. Mematikan kompor tepat waktu membantu menghindari pemanasan berlebihan, menjaga kualitas nutrisi makanan, sekaligus membuat penggunaan energi di dapur menjadi lebih efisien.

Dengan menggabungkan langkah sederhana seperti mematikan kompor setelah masakan matang, konsumen dapat mengurangi konsumsi gas, menurunkan biaya rumah tangga, dan sekaligus memelihara nilai gizi makanan. Praktik ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menekan emisi CO₂ dan mengoptimalkan sumber daya energi nasional.

gas LPGhemat energiovercookingvitamin Cpemasakanemisi CO₂konsumsi gas

Komentar

Memuat komentar...