Microwave vs Air Fryer: Mana yang Lebih Menjaga Nutrisi?
Gambar atau konten salah?
Microwave dan air fryer sering menjadi pilihan utama di dapur karena kemudahan dan kecepatan yang ditawarkannya. Banyak orang mengandalkan kedua alat ini untuk memanaskan atau memasak makanan dalam hitungan menit, tanpa harus menunggu lama seperti oven tradisional.
Microwave menggunakan gelombang mikro elektromagnetik yang dipancarkan oleh magnetron. Gelombang ini diserap oleh molekul air, lemak, dan gula di dalam makanan, sehingga memanaskan makanan secara cepat dan merata. Karena hanya sedikit air yang terlibat, microwave menjadi favorit bagi mereka yang memiliki waktu terbatas di dapur.
Keunggulan microwave terletak pada retensi vitamin larut dalam air seperti vitamin C dan vitamin B. Sebuah studi yang dirujuk oleh Food NDTV pada 22 Maret 2024 menunjukkan bahwa microwave cenderung mempertahankan vitamin tersebut lebih baik daripada metode memasak tradisional. Waktu pemasakan yang singkat juga membantu mengurangi kehilangan nutrisi yang biasanya terjadi ketika makanan terkena panas terlalu lama.
Berbeda dengan microwave, air fryer memanfaatkan teknologi rapid air atau sirkulasi udara panas berkecepatan tinggi. Udara panas berputar di sekitar makanan, menghasilkan permukaan yang renyah tanpa memerlukan banyak minyak. Karena tidak menggunakan minyak, air fryer sering dipilih untuk mengurangi kalori dan lemak dalam hidangan.
Meski air fryer menawarkan tekstur yang mirip dengan gorengan, suhu panas yang tinggi dapat mempengaruhi beberapa nutrisi. Vitamin C dan folat, misalnya, sensitif terhadap panas dan dapat berkurang jika makanan dimasak selama 10 menit atau lebih. Penelitian yang juga dikutip oleh Food NDTV membandingkan microwave dan air fryer pada brokoli; hasilnya menunjukkan bahwa air fryer sedikit lebih mengurangi vitamin C dibandingkan microwave.
Jadi, mana yang lebih baik untuk menjaga nutrisi? Tidak ada jawaban tunggal. Pilihan tergantung pada jenis nutrisi yang ingin dipertahankan dan jenis makanan yang dimasak. Jika tujuan utama adalah melestarikan vitamin larut dalam air, microwave menjadi pilihan yang lebih tepat. Metode ini juga membantu mempertahankan mineral dalam sayuran seperti zucchini.
Di sisi lain, air fryer sangat cocok bagi mereka yang ingin mengurangi penggunaan minyak namun tetap menikmati makanan renyah. Selain itu, air fryer dapat meningkatkan penyerapan antioksidan dan lemak sehat pada makanan, karena proses memasak yang cepat dan minim minyak.
Untuk menjaga nutrisi secara keseluruhan, microwave lebih lembut dan cepat, sehingga lebih baik untuk vitamin larut dalam air. Namun, jika fokusnya adalah mengurangi lemak dan tetap memiliki rasa renyah, air fryer menjadi alternatif yang lebih sesuai.
Dengan mempertimbangkan fakta-fakta di atas, pengguna dapat memilih alat yang paling sesuai dengan kebutuhan gizi dan preferensi rasa mereka. Microwave unggul dalam pelestarian vitamin C dan B, sementara air fryer unggul dalam mengurangi lemak dan menambah tekstur renyah. Pilihan akhir tetap berada di tangan pengguna, berdasarkan tujuan memasak dan jenis makanan yang akan diolah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
