Monyet Gerombolan Rampas Jagung, Petani Ciamis Angkat Senapan

Dani L. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Monyet Gerombolan Rampas Jagung, Petani Ciamis Angkat Senapan

Gambar atau konten salah?

Di tengah teriknya matahari siang, suasana di ladang jagung Dusun Sukamanah, Desa Imbanagara, Kecamatan Ciamis, terasa berbeda. Di sela-sela batang jagung yang mulai mengering tanda siap panen, seorang petani berdiri waspada. Senapan angin tersandar di bahunya. Bukan untuk berburu, melainkan untuk berjaga.

Pria itu bernama Haris (38). Ia adalah petani setempat yang sudah berbulan-bulan dibuat gelisah oleh serbuan monyet liar. Kawanan monyet itu kerap datang ke perkebunan warga dan menjarah tanaman yang sudah siap dipanen. "Sudah hampir setengah tahun ini monyet sering turun ke kebun. Yang dirusak bukan cuma jagung, tapi juga kacang, pisang, ubi, pokoknya tanaman yang ada di kebun warga banyak yang habis dijarah," kata Haris saat ditemui di kebun jagungnya pada Senin, 06 Juli 2026.

Menurut Haris, jumlah monyet yang datang cukup banyak. Dalam sekali kemunculan, kawanan itu bisa berjumlah puluhan ekor. Mereka datang bergerombol, lalu berpencar ke sejumlah kebun milik warga. Tanaman jagung yang seharusnya tinggal menunggu waktu panen pun tak luput dari sasaran. "Kalau datang itu bisa puluhan ekor. Mereka masuk ke kebun, ambil jagung, merusak tanaman, terus pindah lagi ke kebun lain. Kerugiannya lumayan besar, bisa sampai 50 persen. Kalau dibilang untung, paling cuma balik modal saja, itu juga sudah alhamdulillah," ujarnya.

Haris mengaku tidak tahu pasti dari mana kawanan monyet itu berasal. Namun, warga menduga satwa liar tersebut datang dari arah kawasan Gegempalan, lalu menyusuri area perkebunan di sepanjang aliran Sungai Citanduy sebelum merangsek ke lahan pertanian warga. "Kalau asal pastinya kami juga tidak tahu. Tiba-tiba saja datang. Tapi katanya dari arah Gegempalan, lewat jalur kebun di sekitar Citanduy. Yang jelas sekarang mereka sering muncul di sini," ucapnya.

Yang membuat para petani makin kewalahan, kawanan monyet itu seolah memahami kapan kebun sedang kosong tanpa penjagaan. Haris bercerita, monyet-monyet itu jarang muncul saat ada warga yang berjaga. Namun, begitu ladang ditinggalkan, mereka langsung datang menyerbu tanaman. "Pinter monyetnya. Kalau ditungguin, malah nggak datang. Tapi pas kebun kosong atau petani pulang, mereka langsung turun. Terakhir datang hari Jumat, pas orang-orang mau salat Jumat. Jadi seolah tahu situasi," kata Haris.

Berbagai cara sebenarnya sudah dilakukan warga untuk mengusir kawanan monyet tersebut. Mulai dari menyalakan petasan, berjaga bersama-sama, membawa senapan angin, hingga melakukan perburuan massal. Bahkan, menurut Haris, upaya penanganan juga sempat melibatkan petugas pemadam kebakaran dan polisi hutan. Namun hingga kini, gangguan tersebut belum benar-benar berhenti. "Warga pernah berburu bareng juga, tapi sampai sekarang belum ada yang tertangkap. Monyet itu datangnya mendadak, terus cepat menghilang lagi. Jadi susah sekali diantisipasi," tuturnya.

Kedatangan kawanan monyet itu pun, kata Haris, tidak mengenal musim. Baik saat musim hujan maupun kemarau, mereka tetap turun ke kebun warga. Ia menduga, satwa liar tersebut masuk ke area pertanian karena mencari sumber makanan yang kian menipis di habitat aslinya. "Mau musim hujan atau musim kemarau, tetap datang. Dugaan kami ya karena cari makan," katanya.

Bagi para petani di Dusun Sukamanah, persoalan ini bukan lagi sekadar gangguan biasa. Mereka harus bekerja ekstra menjaga tanaman yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga. Hasil panen yang semestinya bisa dinikmati justru menyusut drastis karena dijarah kawanan monyet. Kini, Haris dan petani lainnya hanya berharap ada solusi yang lebih efektif agar serangan monyet liar tidak terus berulang. Sebab jika dibiarkan, bukan hanya jagung yang terancam gagal panen, namun juga keberlangsungan ekonomi para petani di wilayah tersebut.

Serangan monyet liar ini menjadi masalah yang pelik bagi petani. Mereka sudah mencoba berbagai cara, dari petasan hingga patroli bersama, tapi belum ada yang benar-benar manjur. Monyet-monyet itu pintar dan cepat. Mereka datang diam-diam, merusak, lalu pergi sebelum sempat diusir. Para petani hanya bisa berharap ada penanganan yang lebih serius dari pihak berwenang. Tanpa solusi yang tepat, mata pencaharian mereka terus terancam.

monyet liarserangan hamapetani jagungkerugian panenpengusiran hamaCiamistanaman pangan

Komentar

Memuat komentar...