Monyet Serang Kampung Kalialang Baru, Warga Pakai Katapel

Rizki W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Monyet Serang Kampung Kalialang Baru, Warga Pakai Katapel

Gambar atau konten salah?

Semarang – Di RT 3 RW 7 Kampung Kalialang Baru, warga di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati menghadapi gangguan dari gerombolan monyet. Monyet-monyet ini menyerbu permukiman, memakan sisa makanan, bahkan naik ke atap rumah warga.

Ketua RT, Kunjaeri (58), mengaku bahwa monyet-monyet tersebut sudah lama mengunjungi kampungnya. Awalnya hanya sedikit ekor yang datang, namun sejak beberapa bulan terakhir jumlahnya mulai bertambah.

“Ini dari bulan ke bulan ini sudah mulai meningkat, lah. Jadi saya melihat awalnya itu hanya satu, dua, mungkin satu yang tidak dapat jatah makan dari induknya sana turun ke bawah. Setelah sampai ke lingkungan sini ternyata kok banyak sekali asupan makanan,” kata Kunjaeri ketika ditemui di rumahnya pada 27 April 2026.

Menurut Kunjaeri, dalam enam bulan terakhir, satu kelompok monyet yang datang bisa mencapai 50–100 ekor. Ia menyebut bahwa kelompok ini datang diduga diajak oleh kawanan monyet lainnya. Monyet yang datang memiliki ekor panjang, bahkan sampai 15 meteran menurut pengamatnya.

“Monyet itu biasa masuk perkampungan pada siang hari dan juga nongkrong di pos ronda kampung,” tambah Kunjaeri. Ia juga melaporkan bahwa monyet-monyet tersebut naik ke atap rumah dan mengacak-acak tempat sampah warga.

Menurut Kunjaeri, kedatangan monyet dipicu oleh kebutuhan akan makanan. Ia mengatakan, “Kadang ada di atap genting. nah itu terkadang cari-cari makanan. Kadang itu ngorak-ngarik sampah. Itu yang menjadi risiko gangguan sebetulnya.”

Ia menilai bahwa gerombolan monyet itu datang dari arah selatan, kemungkinan dari wilayah Goa Kreo. “Menurut sebagian warga yang mereka tahu itu dari arah selatan. Otomatis kalau dari arah selatan kaitannya mungkin dengan Goa Kreo,” jelasnya.

Warga sempat berkejaran dengan rombongan monyet itu. Beberapa warga menyalakan mercon dan melemparnya ke gerombolan monyet. Kunjaeri mengingatkan, “Sempat ada sekitar 50-an itu kejar-kejar warga bahkan sampai diserang pakai kembang api mercon itu, kan jadi kayak perang zaman ‘45 gitu.”

Upaya menghalau monyet tidak hanya menggunakan mercon. Warga juga memakai jaring dan katapel. “Kemarin sempat mempersiapkan plinteng (katapel), terus blandring (jaring). Dan kemarin kan mungkin barusan habis Hari Raya kan masih punya stok kembang api atau mercon gitu,” tambahnya.

Agito, salah satu warga, melaporkan bahwa monyet yang paling besar pernah naik ke atap rumahnya. Ia menilai bahwa monyet tersebut tidak takut manusia. “Kalau yang besar naik ke sini (atap rumah), nekat dia. Kalau digusar-gusar (diusir) nekat. Banyak (yang datang) yang besar-besar berani sama orang,” ungkapnya.

Agito juga menggunakan katapel untuk mengusir monyet. Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah ini. “Pakai ketapel biar pergi. Monyetnya seperti topeng monyet. Harapannya, ya, biar monyet itu nggak ke sini gimana pemerintah gitu, ditangkap, dikembalikan ke habitatnya, biar nggak ke sini, biar nggak meresahkan orang kampung,” katanya.

Situasi ini menunjukkan bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar di daerah perkotaan masih memerlukan perhatian khusus. Masyarakat di Kalialang Baru berusaha melindungi rumah dan lingkungan mereka, sementara pihak berwenang diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang, seperti penempatan kembali monyet ke habitat aslinya. Dengan demikian, keamanan dan ketenangan warga dapat terjaga tanpa mengorbankan keseimbangan ekosistem lokal.

MonyetGangguanKampung Kalialang BaruMerconKatapelGoa KreoJaring

Komentar

Memuat komentar...