MR 16 Tahun Ditemukan Telanjang di Gunung Guntur, Garut
Gambar atau konten salah?
MR, seorang remaja berusia 16 tahun, ditemukan telanjang setelah hilang di Gunung Guntur, Garut. Kejadian ini memicu tindakan cepat dari pihak kepolisian dan tenaga medis. Kapolsek Tarogong Kaler, Ate Ahmad Hermawan, mengumumkan bahwa keluarga dan petugas desa akan membawa MR ke puskesmas untuk memeriksa kondisi fisik dan psikologisnya.
“Benar, informasinya akan dibawa ke puskesmas dan akan diperiksa kondisi kesehatan serta kejiwaannya,” kata Ate kepada wartawan pada Selasa, 31 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa setelah kejadian horor tersebut, MR terlihat melantur. Menurutnya, petugas desa kesulitan mengungkap kronologi sebenarnya karena MR belum dapat dimintai keterangan.
“Saat kami melakukan penyelidikan dan memintai keterangan, memang yang bersangkutan tidak nyambung saat diajak berbicara. Kepada petugas yang bersangkutan bilang bisa hilang karena dikejar geng motor. Padahal, menurut keterangan saksi, kejadian itu tidak ada,” kata Ate.
MR hilang di kaki Gunung Guntur saat sedang membantu kakaknya, Ai, mencari serangga pada Minggu, 29 Maret 2026 siang. Lokasi kejadian berada di kawasan perbukitan Sanghiang, Kampung Cimuncang, Desa Rancabango, Tarogong Kaler, Garut. Menurut laporan, MR bersama Ai dan anak Ai, seorang remaja laki‑laki berusia 13 tahun, berangkat untuk mencari serangga yang akan digunakan dalam campuran kosmetik dan obat tradisional.
“Ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan suami Ai, tapi karena saat itu dia sedang bekerja bangunan, makanya Ai yang menggantikan. Ai mengajak anaknya dan MR untuk mencari serangga tersebut,” ujar Ate.
Selama perjalanan, Ate melaporkan bahwa MR sudah melantur. Ia terdengar mengobrol tentang hantu, sehingga membuat anak Ai takut dan meminta pulang. “Di jalan, anak Ai minta pulang. Katanya dia takut, karena pamannya (MR) bicaranya seram. Membicarakan hantu,” ungkap Ate.
Pada pukul 13.00 WIB, MR hilang dari rombongan. Setelah beberapa jam berjalan, Ai dan anaknya memutuskan turun ke permukiman warga untuk mencari bantuan karena MR tak kunjung ditemukan. Pencarian dilakukan oleh keluarga dan warga setempat, namun hingga malam hari, MR belum ditemukan. Pihak keluarga kemudian meminta bantuan polisi pada malam harinya.
Pencarian lebih lanjut dilaksanakan oleh petugas gabungan pada Minggu malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Ate menjelaskan bahwa pencarian dilaksanakan bersama TNI, Tagana, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat. Sekitar pukul 22.00 WIB, petugas gabungan menerima informasi bahwa MR telah ditemukan. Namun, anehnya, MR ditemukan jauh dari lokasi kejadian. Ia ditemukan di Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, kecamatan yang berbeda dan minim akses menuju ke sana dari lokasi awal hilangnya korban.
“Hanya ada dua jalan menuju lokasi penemuan. Satu melalui permukiman penduduk, yang kedua melalui jalan raya. Dua-duanya ramai dan jaraknya memang jauh menuju lokasi penemuan,” ucap Ate.
Setelah ditemukan, MR dievakuasi petugas desa ke rumahnya di kawasan Tarogong Kaler. Saat ditanyai, MR tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Menurut penuturan saksi yang pertama kali menemukan, korban ditemukan linglung dalam kondisi telanjang dada. “Sempat ada yang melihat, kondisinya sudah telanjang dada. Tapi ketika ditanya, MR tidak menjawab. Hanya komat‑kamit tanpa suara,” pungkas Ate.
Keputusan untuk memeriksa MR di puskesmas bertujuan menilai apakah kondisi fisik dan psikologisnya memerlukan penanganan medis. Sementara itu, pihak kepolisian terus menyelidiki kemungkinan adanya faktor eksternal, seperti dugaan dikejar geng motor, yang belum dapat dibuktikan oleh saksi.
Situasi ini menegaskan pentingnya koordinasi antara aparat penegak hukum, tenaga medis, dan masyarakat dalam menangani kasus hilangnya remaja. Meskipun masih belum ada penjelasan lengkap tentang apa yang terjadi, upaya pencarian dan pemeriksaan kesehatan telah dilakukan secara menyeluruh.
Kesimpulannya, kasus hilangnya MR di Gunung Guntur menyoroti kebutuhan akan respons cepat dan kolaboratif antara polisi, tenaga medis, dan warga. Situasi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan kesehatan mental remaja yang terlibat dalam kegiatan luar ruangan di daerah pegunungan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
