Nadine Tan, 1.615 km Solo Riding, Mencari Jati Diri
Gambar atau konten salah?
Nadine Tan, seorang videografer dan pengelola klinik fisioterapi di Gading Serpong, Tangerang, memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dengan cara yang tidak biasa. Daripada naik pesawat atau kereta, ia menempuh 1.615 kilometer dari Denpasar ke Tangerang dengan sepeda motor bebek yang ia beri nama “Yanto”. Perjalanan ini memakan waktu 12 hari, dimulai pada 25 Februari 2024 dan berakhir pada 8 Maret 2024.
Di akun Instagram pribadinya, @nadiineettt, Nadine membagikan setiap jengkal perjalanan. Setiap postingan berisi potongan video yang menampilkan kepulan asap kendaraan, tempat istirahat di pinggir jalan, dan semangatnya yang tak pernah padam. Judul video “POV: mudik Denpasar - Tangerang 1.615 km dalam 12 hari” langsung memicu reaksi netizen. Postingan tersebut mengumpulkan lebih dari 131 ribu likes dan komentar penuh takjub.
Berikut beberapa tanggapan yang muncul di kolom komentar:
“Keren ih, tapi salfok kakaknya tetep glowing dan tida gosong abis jalan jauuh😭,” kata @mhmdyaan.
“Asik kalo emang niat sambil traveling,” tulis @brenda.anitaa.
“Woooo...solo touring👏👏👏👏🔥,” sambut @ayulianabudiman.
Di balik video viral tersebut, Nadine mengungkapkan alasan di balik perjalanan ini. Ia menjelaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar pindah lokasi, melainkan sebuah misi pencarian jati diri. “Inti dari postingan itu sebenarnya tentang perjalanan self-love dan proses healing aku, kak. Kebetulan aku juga baru sembuh. Dulu aku terbiasa jadi people pleaser, rela berkorban waktu, tenaga, dan perasaan sampai mengesampingkan batasan diriku sendiri demi orang lain,” ungkapnya.
Motor bebek yang ia gunakan, yang sudah berusia lebih dari satu dekade, menjadi saksi bisu transformasinya. Nadine menyebutnya “Yanto” dan menjelaskan bahwa perjalanan solo riding ini menjadi simbol transisi baginya untuk mulai memprioritaskan diri sendiri. “Lewat perjalanan ini dan waktu sendirian di jalan, aku disadarkan bahwa energi, kesetiaan, dan kebaikan yang selama ini habis aku kasih ke orang lain, ternyata jauh lebih layak dan harus aku berikan untuk diriku sendiri,” tambahnya.
Perjalanan dimulai pada 25 Februari 2024 dan berakhir pada 8 Maret 2024. Nadine memilih untuk berkendara santai selama 12 hari, dengan singgah selama 2 hari di Banjarnegara dan 4 hari di Bandung. Singgah tersebut bertujuan menjaga kondisi fisiknya dan memberi waktu istirahat yang cukup.
Menjalani perjalanan sejauh itu tentu penuh tantangan. Nadine harus menghadapi cuaca ekstrem, baik terik matahari maupun hujan deras yang tiba-tiba. Ia juga mengakui bahwa jok motornya, yang belum pernah diganti selama 12 tahun, sering membuatnya pegel. “Namanya solo riding pakai motor bebek, pasti ada aja dramanya. Terutama cuaca yang terik banget tiba-tiba hujan deras. Terus jok motorku nggak pernah diganti selama 12 tahun jadinya gampang bikin pegel,” tuturnya sambil tertawa.
Namun, Nadine memilih berdamai dengan keadaan. Saat lelah, ia menepi sejenak untuk menyesap kopi sambil menikmati pemandangan. Bagi Nadine, hambatan fisik justru mengajarkannya untuk hidup lebih mindful. “Tapi jujur hambatan yang paling berat tuh mentalnya kak. Karena sepanjang jalan suka kepikiran hal-hal yang somehow nggak mau kita pikirin, atau dapat perspektif baru dari hal-hal atau pembicaraan kita sama orang lain. Kadang penerimaan diri sendiri atau akan sesuatu yang kita nggak bisa ubah itu yang berat,” akunya jujur.
Perjalanan ini juga menimbulkan kekhawatiran pada orang tuanya. Namun, Nadine menyiasati kecemasan keluarga dengan rajin mengirimkan update lokasi setiap kali beristirahat. Dukungan penuh dari keluarga akhirnya membantu ia tetap fokus pada tujuan.
Menutup kisahnya, Nadine menitipkan pesan bagi perempuan yang mungkin sedang merasa kehilangan arah. Ia menekankan pentingnya memiliki “ruang aman” untuk mengatur ulang pikiran dan emosi. “Nggak apa-apa kalau saat ini kalian lagi ada di fase hidup yang berat, merasa habis-habisan, atau kehilangan arah. Kadang, kita cuma butuh waktu dan ruang sendiri untuk me-reset pikiran. Nggak harus selalu ridingmotor jarak jauh kayak aku, tapi temukanlah ‘ruang aman’ kalian masing-masing. Berani ambil kendali atas kebahagiaanmu sendiri, karena pada akhirnya, diri kita sendiri lah yang paling layak untuk kita perjuangkan,” pesan Nadine.
Perjalanan Nadine menjadi contoh bagaimana seseorang dapat menggunakan perjalanan fisik sebagai alat introspeksi dan pemulihan diri. Dengan menempuh jarak yang jauh, ia menemukan kembali nilai-nilai pribadi dan menginspirasi orang lain untuk mengevaluasi kembali prioritas hidup mereka. Sementara perjalanan ini memakan waktu dan tenaga, hasilnya terlihat jelas dalam perubahan sikap dan kesejahteraan mental yang ia alami setelah kembali ke rumah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
