Nasi Bancakan Tetap Pilihan Bandung Selama Dua Dekade
Gambar atau konten salah?
Nasi Bancakan tetap menjadi pilihan bagi pecinta masakan Sunda, meski banyak rumah makan modern bermunculan di Bandung. Sejak hampir dua dekade, tempat ini tidak banyak berubah, baik dalam rasa, konsep, maupun cara melayani pelanggan.
Wajah yang kini dikenal sebagai Abah Coy menjadi ikon Bancakan. Ia selalu menyapa tamu dengan senyum, lalu menjelaskan istilah‑istilah Sunda yang terpampang di dinding. Gaya komunikatifnya membuat setiap kunjungan terasa lebih personal.
Semua bermula di sebuah halaman parkir perkantoran. Seorang perempuan, yang akrab dipanggil Ibu Oom, mulai menjajakan masakan rumahan. Cita rasa khasnya perlahan dikenal, menarik pelanggan setia. Saat permintaan meningkat, Ibu Oom bekerja sama dengan adiknya, Barna. Keduanya membuka rumah makan di Jalan Trunojoyo pada September 2007, dengan dukungan modal, manajemen pemasaran, dan penataan logistik dari seorang investor di Bandung.
“Waktu masih di parkiran, saya ikut menjajakan masakan Ibu dari pintu ke pintu,” Abah Coy kenang ketika berbincang dengan 03 April 2026. Kini, meski Ibu Oom tidak lagi terlibat langsung di dapur sejak 2012, resep racikannya tetap menjadi rujukan utama. Operasional dapur dijalankan oleh 11 juru masak, beriringan dengan sekitar 60 karyawan yang menjaga kualitas hidangan.
Setiap hari, Bancakan menyajikan sekitar 100 menu khas Sunda. Mulai dari lauk pauk, sayuran, lalapan, hingga aneka sambal. Jumlah menu ini bahkan bisa bertambah saat libur panjang, menyesuaikan permintaan pelanggan.
Latar belakang Abah Coy juga memengaruhi cara ia memimpin restoran. Lahir pada 1973, ia pernah bekerja di pabrik tekstil sebelum krisis ekonomi 1997 menghentikan kariernya. Setelah itu, ia beralih ke dunia restoran, mengisi berbagai posisi, terutama di bidang manajemen dan administrasi. Pengalaman ini menjadi bekal penting ketika Bancakan menghadapi masa sulit, termasuk saat pandemi COVID‑19.
Di 2021, mereka memutuskan pindah ke lokasi baru di Jalan Diponegoro Nomor 25, tepat di samping Gedung DPRD Jawa Barat. Perpindahan ini membantu mereka menyesuaikan diri dengan perubahan pola konsumsi dan meningkatkan aksesibilitas bagi pelanggan.
Di tengah banyaknya rumah makan Sunda yang bermunculan dan punah, Bancakan tetap bertahan. Menurut Abah Coy, ada empat kunci yang mereka pegang sejak awal:
1. Konsistensi rasa. Resep asli Ibu Oom dijaga tanpa banyak perubahan, meski dapur kini ditangani banyak juru masak.
2. Pelayanan personal. Interaksi langsung dengan pelanggan menjadi bagian penting dari pengalaman makan di Bancakan.
3. Tidak tergoda ekspansi cepat. Hingga kini, Bancakan tidak membuka sistem waralaba, meskipun peluangnya terbuka.
4. Disiplin dalam bisnis. Termasuk dalam hal pembayaran—semua transaksi dilakukan secara tunai untuk menghindari masalah seperti yang pernah dialami di masa awal.
“Dulu kami senang saat ada pesanan rutin dari instansi, tapi pembayarannya lama dan birokratis,” Abah Coy ungkap. Pengalaman itu menjadi pelajaran penting. Bagi Abah Coy, bertahan bukan soal mengikuti tren, melainkan menjaga apa yang sejak awal sudah dipercaya pelanggan.
Dengan tetap fokus pada resep asli, pelayanan yang hangat, dan disiplin operasional, Nasi Bancakan menunjukkan bahwa keberlanjutan dalam industri restoran tidak selalu memerlukan inovasi besar. Cukup dengan menjaga kualitas dan hubungan yang baik dengan pelanggan, sebuah tempat makan sederhana di Bandung dapat bertahan selama hampir dua dekade.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
