Nasi Goreng Terlarang, 134 Korban Keracunan MBG Tegaskan
Gambar atau konten salah?
Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Demak mengungkapkan bahwa menu nasi goreng tidak disarankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk disajikan di dapur makan bergizi gratis (MBG). Meskipun begitu, menu tersebut masih dipasang di SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani, Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak pada hari Sabtu, 18 April 2026.
Menu yang disajikan pada hari itu meliputi nasi goreng, telur ceplok, tahu, acar, jeruk, dan susu kotak. Menurut laporan, menu tersebut diduga menjadi penyebab keracunan bagi seratusan penerima manfaat, mulai dari santri hingga ibu menyusui dan balita. “Tadi disampaikan oleh BGN, nasi goreng ini memang sering menjadi sebab terjadinya seperti ini, kejadian yang menonjol kalau dari BGN menyebutnya, kalau dari kami kan dugaan keracunan makanan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Demak, Ali Maimun, pada Senin, 20 April 2026.
Ali menyampaikan bahwa kepala dapur atau SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) serta ahli gizi di SPPG belum mendapatkan informasi tentang hal tersebut. “Tadi saya tanyakan lebih lanjut ke petugas gizi yang di sana dan SPPI-nya itu belum terinfo kalau nasi goreng termasuk nasi yang jadi harus hati‑hati dengan masak nasi goreng kalau memang tidak ada chef yang ahli di sana, bersertifikat,” ujar Ali.
Selain nasi goreng, Ali menambahkan bahwa ada beberapa menu lain yang sebaiknya tidak disajikan. “Jadi ada beberapa menu yang sebenarnya sudah diberi peringatan kalau bisa enggak boleh (disajikan untuk MBG). Menu itu termasuk nasi goreng, nasi kuning, nasi liwet, nasi uduk, yang ada santannya itu cepat basi, sudah ada peringatan sebenarnya,” tutur Ali.
Selama inspeksi, Dinkesda Demak menilai secara menyeluruh layout dan alur pemrosesan makanan di SPPG. “Mulai dari tempat untuk menerima barang, tempat pemrosesan, kemudian tempat masak, tempat pemorsian, kemudian menuju ke mobil untuk dibawa ke sekolah‑sekolah. Jadi tempat‑tempatnya, layout‑nya, alurnya sesuai,” kata Ali.
Ali juga menjelaskan penggunaan air. “Untuk air juga menggunakan yang untuk masak dan untuk minumnya juga menggunakan air Gunung Ungaran, standar. Bahan bakunya tadi juga harian, misalnya besok masak nasi goreng, bahan bakunya sore ini datang, enggak ada lebih stok yang disimpan,” imbuhnya.
SPPG tersebut merupakan bangunan baru yang mulai beroperasi pada Februari 2026. Bangunan itu terletak sangat dekat dengan tanggul Sungai Tuntang dan sempat terdampak banjir. “Bangunan baru, jadi bukan bangunan lama terus disesuaikan dengan layout dari BGN, kalau enggak salah (mulai beroperasi) di Februari, terus kena banjir, terus libur puasa, Lebaran,” ujar Ali.
Berikut rekomendasi perbaikan yang diberikan Dinkesda Demak kepada SPPG: 1. Sarana dan prasarana, 2. Alat‑alat yang dipakai, dan 3. Patuh terhadap SOP. “Kemudian yang menu‑menu yang sudah di‑note, ditandai oleh BGN sering menyebabkan kejadian menonjol, ya jangan dijadikan menu lagi, kecuali punya chef yang bersertifikat,” sambungnya.
Menurut Dinkesda Demak, masih ada 68 orang yang dirawat di fasilitas kesehatan akibat keracunan menu MBG dari SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani. Kepala Dinkesda Demak, Ali Maimun, menyatakan bahwa hingga kini total ada 134 orang yang sudah ditangani. Korban paling banyak berasal dari kalangan santri di sejumlah pondok pesantren wilayah Pilangwetan.
Untuk rawat inapnya ada 68 pasien dan rawat jalannya 66 pasien, sehingga ada 134 (orang). (Selain dari Desa Pilangwetan, ada tambahan korban) dari Solowire sama Prigi,” kata Ali saat ditemui awak media di kantornya, Senin, 20 April 2026. “Paling banyak itu di Pesantren Asnawiyyah, kemudian Pesantren Bustanul Quran, kemudian yang satu Hidayatul Mubtadiin,” lanjutnya.
Ratusan pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan, tersebar di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di wilayah Demak dan Grobogan. Menurut Ali, kondisi pasien yang dirawat inap masih dapat ditangani dengan baik. “Alhamdulillah enggak ada yang serius (kondisi pasiennya), belum ada info yang serius yang kami terima. Jadi masih masih bisa dikondisikan, bisa dikelola dengan baik,” ujar Ali.
Situasi ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap rekomendasi BGN dan standar gizi dalam penyediaan makanan di MBG. Meskipun Dinkesda Demak telah melakukan inspeksi menyeluruh, masih ada risiko terkait menu yang tidak sesuai standar. Kejadian ini juga menegaskan perlunya pelatihan bagi staf dapur, terutama dalam memilih menu yang aman dan menghindari bahan yang cepat basi. Dengan memperkuat prosedur dan memastikan ketersediaan bahan berkualitas, risiko keracunan dapat diminimalkan, sehingga program MBG dapat berfungsi sebagai sarana pangan yang sehat bagi masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
