Nelayan Sukabumi Terlantar di Laut, Minim Perlindungan
Gambar atau konten salah?
Bayangan kelam kecelakaan laut masih terus menghantui nelayan tradisional di perairan Sukabumi. Setiap hari, mereka berlayar menerjang ombak tinggi demi menafkahi keluarga. Seringkali, usaha ini berakhir tragis. Penyebabnya berlapis: perlindungan yang minim, peralatan keselamatan yang kurang, dan budaya "nekat" yang masih melekat di kalangan pelaut setempat.
Perairan Sukabumi, khususnya dari Ujunggenteng hingga Palabuhanratu, mencatat rentetan insiden yang menimpa nelayan tradisional. Ini seperti alarm yang terus berbunyi, namun belum sepenuhnya diindahkan. Samudra Hindia di selatan Sukabumi terkenal ganas. Ombaknya besar. Cuaca bisa berubah mendadak. Perahu nelayan kerap karam dihantam gelombang.
Selain faktor alam, masalah teknis juga sering muncul. Perahu tradisional tiba-tiba mati mesin atau patah as kemudi saat melaut. Tanpa alat komunikasi yang memadai, para nelayan terombang-ambing berhari-hari. Kadang ditemukan, kadang terdampar di pantai asing. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kesadaran memakai life jacket atau jaket penolong. Banyak nelayan baru sadar pentingnya alat ini setelah musibah terjadi di depan mata mereka sendiri.
Data dari organisasi nirlaba GISLI (Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia) yang bergerak langsung di Palabuhanratu menunjukkan angka kecelakaan laut yang tinggi. Sejak awal tahun 2000-an, rata-rata terjadi 100 kasus per tahun di Indonesia. Ironisnya, masalah utamanya bukan hanya ketidaktahuan nelayan. Lebih dari itu, dukungan fasilitas keselamatan di atas kapal sangat minim.
Ketua Pelaksana sekaligus Bidang Riset GISLI, Orima Melati Davey, memaparkan sebuah program. Namanya "Fisherwomen as Agent of Change". Program ini dirancang untuk menyentuh dua aspek sekaligus: keselamatan jiwa dan ekonomi. Nelayan dilibatkan, begitu juga para istri. Tujuannya agar budaya sadar keselamatan terbangun secara konsisten di lingkungan keluarga.
"Untuk hari ini, ini hari pertama, 13 Juli kita ada tiga elemen utama. Hari ini keselamatan nyawa, keselamatan kerja, besok keselamatan ekonomi," kata Orima di lokasi kegiatan, Senin 13 Juli 2026. Nelayan mendapat pembekalan teknis dari tim PPN dan Syahbandar. Materinya mulai dari teknik penyelamatan diri, dasar-dasar keselamatan, hingga simulasi penanganan kebakaran kapal sederhana.
GISLI juga menggandeng BNN. Mereka mengadakan sosialisasi program Desa Bersinar, singkatan dari Bersih dari Narkoba. "Karena nelayan adalah salah satu pihak yang paling rentan untuk menjadi korban illegal smuggling (penyelundupan ilegal)," sambung Orima. Agenda edukasi ini berlanjut keesokan harinya. "Besok baru kita lebih ke mendukung di keselamatan ekonominya, ada pengolahan perikanan dan juga sosialisasi dari sisi pemasaran produk," jelas Orima.
Tak cuma teori, GISLI juga membagikan perlindungan sosial. Mereka menggandeng BPJS Ketenagakerjaan. Bentuknya kepesertaan Bukan Penerima Upah (BPU). "Kita dari GISLI mendukung para bapak-bapak nelayan sebanyak kurang lebih 60 BPJS Ketenagakerjaan Bukan Penerima Upah yang kita support selama 3 bulan pertama. Harapannya nanti bisa dilanjutkan dari masing-masing pribadi," timpal Humas GISLI, Anggi Hakim. Pihaknya berharap aksi ini memantik pemerintah daerah maupun swasta untuk melakukan langkah serupa.
Tantangan nelayan Sukabumi makin berlipat. Ketua GISLI Cabang Sukabumi yang juga nelayan aktif, Dede Sinar, membeberkan keluhan mendasar. Area penangkapan ikan atau fishing ground kian hari kian menjauh ke tengah laut. Ini menyulitkan nelayan mencari ikan. "Aspirasi ini sudah disampaikan ke pemerintah, cuma sekarang belum ada tindak lanjut dari pemerintah itu sendiri. Harapan kami mohon ada kajian-kajian dari pemerintah, apakah dari segi lingkungan laut, perubahan iklim, atau penangkapan ikan modernisasi yang berlebih, atau dampak yang lainnya mungkin," tutur Dede.
Jauhnya area tangkap otomatis memperbesar risiko kecelakaan kerja. Dede blak-blakan menyentil kesenjangan perlindungan hukum. Perbedaan antara pekerja di darat dan di laut sangat jomplang. "Ketika kecelakaan kerja, nelayan yang tidak memiliki BPJS Ketenagakerjaan ini sangat berisiko dan tidak mendapat santunan dari apa pun. Berbanding terbalik dengan situasi di darat. Kalau di darat kecelakaan kendaraan bisa mendapatkan Jasa Raharja, kalau di laut kita tidak dapat apa-apa, kecuali mereka yang punya BPJS Ketenagakerjaan," tegas Dede.
Dede mendesak pemerintah memberikan perhatian khusus. Ia ingin ada jaminan santunan bagi nelayan tradisional yang setara dengan pekerja di darat. Sebab, mereka sama-sama bertaruh nyawa demi mencari nafkah. Di sisi lain, Dede memastikan gerakan edukasi keselamatan ini akan merangkul seluruh pelaut lokal di perairan Sukabumi. Tanpa tebang pilih. "Semua nelayan yang ada di Palabuhanratu itu termasuk anggota kita. Kita tidak melihat siapa dia siapa dia, tetapi itu adalah ranah dari GISLI yang harus kita tingkatkan kesadarannya terhadap keselamatan jiwanya di laut. Kita berupaya untuk menyadarkan mereka supaya dapat meningkatkan kesadaran keselamatan bagi dirinya sendiri dan keluarga," pungkas Dede.
Kisah nelayan Sukabumi ini menggambarkan ironi. Mereka berjuang di tengah laut yang ganas, namun perlindungan dari darat masih timpang. Program edukasi dan bantuan seperti dari GISLI adalah langkah kecil. Tapi tanpa perubahan kebijakan yang lebih besar, risiko kehilangan nyawa akan terus membayangi setiap kali mereka melabuhkan jangkar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Nelayan Sukabumi Terlantar di Laut, Minim Perlindungan
Fasilitas Kalah Saing, SD Negeri di Semarang Sepi Murid
Messi Akhirnya Hadapi Inggris di Semifinal Piala Dunia
Musk Vs Altman: Gugatan Apple Picu Perang Sindir
BNI Perketat Pengawasan Penyaluran KUR
Pasien Jiwa Ancam Orang Tua Pakai Sajam, Dievakuasi Polisi
Ketua MDA Bali Bolos Lima Kali Rapat DPRD