Nyate Bareng di Pondok Pesantren Sukabumi: Idul Adha Santri

Maya K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Nyate Bareng di Pondok Pesantren Sukabumi: Idul Adha Santri

Gambar atau konten salah?

Pada hari raya Idul Adha, kebanyakan orang biasanya menghabiskan waktu bersama keluarga di kampung halaman. Namun, di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath di Sukabumi, cerita berbeda muncul. Santri di sana, yang jauh dari orang tua dan kampung halaman, menemukan cara unik untuk mengusir rasa sepi dan rindu.

Tradisi nyate bareng, yang menjadi tradisi terpanjang di Sukabumi, menjadi pangkal kebersamaan. Di tengah kepulan asap putih beraroma daging bakar, ratusan santri dari SD, SMP, hingga SLTA berdiri rapi di depan pondok.

Sementara kebanyakan merasakan kesedihan karena tidak bisa mudik, tawa riang pecah di antara mereka saat memutar barisan sate di atas tungku bata. Suasana hangat terasa, meski jauh dari rumah.

Salah satu santriwati, Silva Elisa, berusia 16 tahun, menceritakan bahwa kali ini ia merayakan Idul Adha di perantauan untuk kedua kalinya. Ia tidak menolak rasa rindu, namun kebersamaan di pondok berhasil mengalihkan perasaan itu.

Banget (mengobati rindu). Di sini kayak... kalau misalkan kita enggak nyate, kita bakal merenung di kamar. Untung ada sate, jadi kayak kita, ya sudahlah enggak apa-apa, kata Silva pada Kamis, 28 Mei 2026.

Silva menambahkan bahwa momen ini terasa lebih seru dibanding tahun sebelumnya. Ia mengungkapkan, Alhamdulillah karena ini setahun sekali, jadi kita sangat menunggu momen ini ya. Ditambah lagi sekarang (bakar satenya) pakai bata, biasanya pakai asbes. Karena kayak gini jadi lebih rapi dan lebih cepat matang. Arangnya juga sekarang banyak, sambil membalikkan tusukan daging.

Fajar Laksana, pimpinan pesantren, menjelaskan bahwa mayoritas santri yang menetap di pondok saat lebaran kurban ini berasal dari luar kota, bahkan luar pulau. Banyak di antaranya adalah anak yatim, piatu, dhuafa, serta santri mualaf asal Maluku (Pulau Buru).

Jarak yang sangat jauh membuat mereka tidak dapat pulang dan berkumpul dengan orang tua. Pihak pesantren sengaja menggelar makan bersama agar para santri perantauan tidak merasa sendirian dan dapat menikmati gizi terbaik dari daging kurban.

Makna kegiatan hari ini adalah supaya rasa syukurnya bertambah, maka para santri sebagai penerima berkurban ini kita acarakan bukan hanya dibagikan tapi makan pun bareng, ujar Fajar.

Mereka yang kurang banyak menikmati makanan-makanan yang bergizi tinggi, hari ini bisa menikmati di Hari Raya Iduladha. Sehingga anak yatim, piatu, dhuafa, khususnya di pondok pesantren yang ditampung ini lebih dari 500 orang, hampir 700-an, bisa menikmati mereka makan sepuas-puasnya, tambahnya.

Tradisi nyate bareng ini membentang sepanjang kurang lebih 200 meter. Sekitar 1.200 tusuk sate dibakar massal oleh para santri, menambah kehangatan suasana.

Kehadiran Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Sentot Kunto Wibowo, menambah semarak acara. Melalui program jajarannya yang bertajuk Berkurma (Berkurban Prima), pihak kepolisian menyalurkan 32 sapi dan 48 kambing ke masyarakat, termasuk ke Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath.

Sentot bahkan turun langsung, memegang kipas, dan ikut menyantap sate bersama anak-anak pondok. Ia mengaku terharu sekaligus bangga melihat kebahagiaan para santri di tanah rantau.

Luar biasa ini. Kebetulan ini juga cukup meriah, para santri juga terlihat bahagia. Kami pun cukup senang terlibat di dalamnya. Saya rasa ini perlu diteruskan karena kegiatannya sangat positif dan memang akan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya santri-santri yang ada di sini, pungkas Sentot.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa meski jauh dari keluarga, santri dapat menemukan kebahagiaan melalui kebersamaan. Tradisi nyate bareng, dukungan kepolisian, dan distribusi hewan kurban menciptakan momen yang penuh makna bagi lebih dari 700 santri, sekaligus mempererat tali persaudaraan di komunitas pesantren.

Idul AdhaPondok Pesantren Dzikir Al-Fathsantrinyate barengsatekurbankepolisian700 santri

Komentar

Memuat komentar...