Pelajar 17 Tahun Semarang Pilih Neuroscience di Toronto
Gambar atau konten salah?
Nama lengkap Nazril Romijwa Cahyadi, berusia 17 tahun, berasal dari Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ia lulus dari SMA CT Arsa Sukoharjo dan sekaligus diterima di lima universitas ternama di luar negeri.
Kelima kampus tersebut adalah Wageningen University di Belanda, University of Toronto di Kanada, Monash University di Australia, Curtin University di Australia, dan Adelaide University di Australia. Dari semua pilihan, Nazril memutuskan untuk melanjutkan studi di Kanada.
Ia memilih jurusan Neuroscience di Fakultas Life Science. “Kalau saya dipenginin banget itu di Toronto, sih. Karena kalau alasan secara teknis, di Beasiswa Garuda itu yang menyediakan jurusan neuroscience hanya ada di Toronto,” ungkapnya kepada media pada 21 Mei 2026.
Alasan lain yang memotivasi Nazril adalah ketertarikannya pada ilmu saraf. Ia mengaku terinspirasi oleh musisi asal Kanada, Grimes, yang juga mempelajari neuroscience dan menerapkannya dalam musiknya. “Dia (Grimes) kuliah di Kanada juga jurusan neuroscience. Dia menerapkan teori-teori dalam psikologi itu dalam lagu-lagunya, dan menurut saya lagunya bagus‑bagus. Akhirnya pengen juga ke sana, penasaran tertarik dengan dunia psikologi juga. Dan karena saya juga suka pelajaran biologi‑kimia,” jelasnya.
Namun, rencana studi di Kanada sempat menimbulkan kekhawatiran ibu Nazril. “Mungkin awalnya pas saya ngomong mau ke Kanada, ibu saya tuh kayak 'Aduh jangan, kejauhan, nanti nggak bisa jenguk'. Sempat khawatir juga,” kenang Nazril. Ia kemudian meyakinkan orang tua dengan komunikasi yang jelas dan alasan yang masuk akal. “Cara meyakinkan dengan komunikasinya dijaga lebih baik dan juga kalau ngasih alasan ke orang tua itu yang masuk akal dan bener‑bener sesuai keinginan,” tambahnya.
Keberhasilan Nazril tidak datang begitu saja. Sejak 2019, ibunya bekerja di Taiwan. Ia tinggal bersama suami di Semarang sampai mendapat informasi beasiswa penuh di SMA CT Arsa Foundation dari kepala sekolah SMP-nya dulu. “Pertama kali lihat tulisan beasiswa gratis penuh tuh saya langsung pengen masuk,” ucapnya.
Perpindahan ke SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo membawa perubahan besar. Nazril mengalami culture shock karena ritme hidup asrama yang sangat disiplin. “Ada (culture shock). Karena saya orangnya susah bangun tidur, jadi saya masih kesusahan dulu pas awal‑awal. Harus bangun jam 3 pagi buat antre mandi, buat nyuci, dan persiapan sekolah,” ungkapnya.
Beruntung, lingkungan asrama yang suportif membantu Nazril beradaptasi. “Untungnya dengan banyak dukungan di sini dari bapak‑ibu guru, bapak‑ibu wali asrama, dan teman‑teman semuanya, saya alhamdulillah sudah bisa berubah menjadi lebih baik,” pungkasnya.
Dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, Nazril Romijwa Cahyadi menyiapkan diri untuk menempuh studi di luar negeri. Ia berharap ilmu yang didapat dapat membawa manfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
