PSHT Tutup Jalan, Macet Parah di Ungaran

Fajar H. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
PSHT Tutup Jalan, Macet Parah di Ungaran

Gambar atau konten salah?

Sebuah video yang memperlihatkan rombongan besar pesilat berjalan di Jalan Semarang-Solo, Ungaran, viral di media sosial. Rekaman itu diunggah oleh akun Instagram @infokejadiansemarang_new. Dalam video, tampak kerumunan orang berada di tengah jalan dan menutup akses lalu lintas. Akibatnya, kemacetan panjang terjadi hingga lebih dari setengah jam. Polisi menyebut situasi baru kembali normal setelah pengamanan dilakukan hingga pagi hari.

"Info ada rombongan berseragam hitam berkumpul di sekitar jalan pudak payung-pramuka," tulis akun tersebut.

Salah satu pengendara, Santoso (24), mengaku terjebak macet selama 30 menit di lokasi kejadian pada dini hari. "Aku sempat terjebak macet itu benar-benar nggak jalan mobilnya setengah jam mungkin, sekitar jam 02.00 WIB gitu," ujarnya.

Awalnya, Santoso tidak tahu apa penyebab kemacetan. Ia kemudian memutuskan mencari jalan alternatif. "Aku langsung putar balik, cari jalan lain. Banyak yang putar balik juga, cuma banyak yang ditutup juga jalannya, jadi bingung lewat mana," tuturnya.

Setelah berputar, ia baru menyadari bahwa kemacetan disebabkan oleh iring-iringan PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate). "Meresahkan sih, soalnya naik motornya juga ugal-ugalan, jadinya takut sendiri, takut ricuh," lanjut Santoso.

Akibat kemacetan itu, perjalanan Santoso molor hingga satu jam. Ia berharap polisi bisa lebih tegas terhadap kegiatan yang mengganggu kenyamanan masyarakat. "Semalam itu aku lihat ada polisi juga tapi nggak tahu kenapa masih tetap macet, nggak yang langsung ditindak. Sopir truk sampai pada keluar juga," ucapnya.

Kapolsek Banyumanik, Kompol Hengky, membenarkan adanya aksi tersebut. Pihaknya langsung turun ke lokasi untuk mengawal dan mengurai kemacetan. "Jadi itu macetnya karena rombongan PSHT baru ada kegiatan pengukuhan PSHT di wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang, terus mereka hura-hura menutup jalan," katanya.

"Intinya, kami turun untuk mengawal. Kan macet karena menutup jalan. Kami usir sedikit-sedikit, terus kami sebar dua arah, ada yang turun, ada yang belok ke Pramuka," lanjut Hengky.

Jumlah massa yang melintas diperkirakan mencapai ribuan orang. Kemacetan terjadi dari kawasan SPBU Bukit hingga menuju Kecamatan Ungaran. "Ribuan, banyak sekali. Kami berusaha mengurai itu," ujarnya.

Kepadatan lalu lintas berlangsung cukup lama hingga menjelang pagi. Petugas dari Polsek Banyumanik bersama personel lain dibagi ke sejumlah titik untuk mempercepat penguraian arus kendaraan. "Kita dari arah Ungaran mengurusi yang dari atas, yang ke bawah juga kita tangani bersama Dalmas. Kita bagi dua," jelas Hengky.

Meski sempat memicu kemacetan, Hengky memastikan tidak terjadi kericuhan. Polisi memilih pendekatan persuasif dengan meminta peserta segera membubarkan diri. "Kami persuasif dengan baik, (bilang) 'ayo adik-adik pulang. Sudah pagi, kasihan pengguna jalan yang lain'," ucapnya.

Sebagian besar peserta iring-iringan masih berusia pelajar. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Semarang, Demak, Bergas, Purwodadi, Boyolali, hingga Salatiga. "Mereka nutup jalan. Kegiatannya hura-hura seperti itu, membentangkan bendera dan membunyikan kembang api," kata Hengky.

Hengky mengimbau seluruh anggota PSHT agar tidak mengganggu ketertiban saat menggelar kegiatan. Menurutnya, organisasi pencak silat memiliki citra baik yang harus dijaga. "Organisasi ini baik, tapi jangan disusupi pihak-pihak yang tidak baik. Gunakan fasilitas dengan baik dan jangan sampai mengganggu masyarakat pengguna jalan yang lain. Tunjukkan bahwa organisasi pencak silat ini bermanfaat," imbaunya.

Kejadian ini menunjukkan bagaimana sebuah kegiatan organisasi bisa berdampak langsung pada kenyamanan publik. Ribuan orang yang ikut serta dalam iring-iringan, sebagian besar pelajar, menutup jalan dan menyebabkan kemacetan panjang. Polisi memilih pendekatan persuasif daripada tindakan represif, dengan harapan para peserta sadar dan membubarkan diri. Namun, pengalaman Santoso dan pengendara lain yang terjebak macet selama berjam-jam menjadi pengingat bahwa kegiatan semacam ini perlu diatur lebih ketat agar tidak merugikan masyarakat luas.

kemacetanpesilatPSHTviralUngaranpolisipengamanan

Komentar

Memuat komentar...