Puasa Syawal: Pahala Setahun, Praktik dan Niatnya Indonesia

Kartika D. · 4 min baca · 3 bulan lalu · 62 dibaca
Bisik.id
Puasa Syawal: Pahala Setahun, Praktik dan Niatnya Indonesia

Gambar atau konten salah?

Puasa Syawal adalah amalan sunnah yang dilaksanakan enam hari setelah Idul Fitri. Umat Islam menunaikan ibadah ini sebagai kelanjutan dari puasa Ramadhan.

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seolah ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menekankan pahala besar bagi yang melaksanakan puasa Syawal.

Pelaksanaan puasa Syawal tidak harus selalu berurutan. Karena itu, bacaan niatnya disesuaikan dengan cara pelaksanaannya.

Untuk yang ingin berpuasa secara berurutan, niatnya adalah: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى (Nawaitu shauma ghadin 'an adai sittatin min syawwal lillahi ta'ala). Artinya: “Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta'ala.”

Jika niat dilakukan secara terpisah, lafalnya: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للهِ تعالى (Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillaahi ta'ala). Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Puasa Syawal juga dapat dilafalkan pada pagi hari. Niatnya: نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للّهِ تعالى (Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an adaa'i sunnatis Syawwaal lillaahi ta'ala). Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.”

Perbedaan pandangan ulama mengenai tata cara puasa Syawal banyak. Menurut laman resmi Majelis Ulama Indonesia, puasa Syawal tidak harus dilakukan secara enam hari berturut‑turut.

Imam al‑Nawawi menulis dalam al‑Majmu' Syarh al‑Muhadzab: قَالَ أَصْحَابُنَا يُسْتَحَبُّ صَوْمُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ لِهَذَا الْحَدِيثِ قَالُوا وَيُسْتَحَبّبُّ ان يصومها متتابعة فِي أَوَّلِ شَوَّالٍ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عن أول شَوَّالٍ جَازَ وَكَانَ فَاعِلًا لِأَصْلِ هَذِهِ السُّنَّةِ لِعُمُومِ الْحَدِيثِ وَإِطْلَاقِهِ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ وداود. Artinya: “Pengikut madzhab al‑Syafi'i memandang sunnah hukumnya berpuasa enam hari di bulan Syawal karena hadits di atas. Mereka juga berpendapat kesunnahan tersebut baiknya dilaksanakan secara berurutan di awal Syawal. Bila ada orang yang memilih melaksanakannya secara acak atau memilih berpuasa di akhir bulan Syawal, maka itu boleh‑boleh saja, dan orang tersebut dianggap mengamalkan inti sunnah Nabi.”

Di sisi lain, NU Online mengutip Imam Abu Al‑Husain Yahya bin Abil Khair bin Salim Al‑Umrani Al‑Yamani: يُسْتَحَبُّ لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ أَنْ يَتَّبِعَهُ بِست مِنْ سَوَّالٍ وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يَصُوْمَهَا مُتَتَابِعَةً، فَإِنْ صَامَهَا مُتَفَرِّقَةً جاز. Artinya: “Disunnahkan bagi orang yang puasa di bulan Ramadhan untuk meneruskan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal. Dan (praktik) yang dianjurkan, yaitu dengan berpuasa Syawal secara terus‑menerus, dan jika puasa dengan cara terpisah, maka diperbolehkan.”

Dengan demikian, menunaikan puasa enam hari secara berturut‑turut setelah Lebaran dianggap lebih utama, meski puasa Syawal juga dapat dilakukan secara terpisah selama semua hari tetap ditunaikan dalam bulan Syawal.

Doa buka puasa Syawal pertama diambil dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Bacaan doa tersebut: اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ (Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina). Artinya: “Ya Allah karena‑Mu aku berpuasa, dengan‑Mu aku beriman, kepada‑Mu aku berserah dan dengan rezeki‑Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat‑Mu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih.”

Doa buka puasa kedua berasal dari Imam Abu Daud: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ (Dzahabaz zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru, insyaAllah). Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat‑urat telah basah serta pahala telah tetap, insyaAllah.”

Keutamaan puasa Syawal dapat dibagi menjadi beberapa poin penting:

Pahala Seperti Setahun
Menurut NU Online, jika berpuasa enam hari di bulan Syawal, pahala setara berpuasa satu tahun penuh. Hadits Nabi menegaskan: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti pahala berpuasa setahun.” (HR. Shahih Muslim)

Tanda Syukur
Puasa Syawal menjadi tanda syukur atas anugerah bulan Ramadhan, seperti qiyamul lail atau zakat. Hadits Rasulullah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (Mann samā Ramadhan iiman wa ihtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dhanbihi). Artinya: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.”

Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah Ramadhan
Puasa Syawal membantu mempertahankan konsistensi ibadah puasa yang telah dilakukan selama Ramadhan. Akhir bulan suci tidak menandakan akhir amalan, melainkan awal untuk melanjutkan ibadah.

Penyempurna Puasa Ramadhan
Dalam buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ust Abdul Faqih Ahmad Abdul Wahid, puasa Syawal disebut sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Amalan sunnah ini menutup kekurangan atau cacat dalam puasa wajib.

Tanda Diterimanya Puasa Ramadhan
Membiasakan berpuasa Syawal setelah Idul Fitri dapat menjadi indikasi diterimanya puasa Ramadhan. Seorang ulama salaf berpendapat: “Balasan dari amal kebaikan adalah amal kebaikan selanjutnya. Barang siapa melaksanakan kebaikan, lalu ia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itulah tanda diterimanya amalan yang pertama.” Begitu pula, melanjutkan dengan kejelekan menandakan penolakan amal kebaikan yang telah dilakukan.

Puasa Syawal, dengan niat yang tepat, doa yang tulus, dan pemahaman tentang keutamaan serta tata cara pelaksanaannya, menjadi bagian penting dalam menjaga ibadah bagi umat Islam. Dengan melaksanakan puasa ini, seseorang dapat mengekspresikan rasa syukur, memperkuat konsistensi ibadah, serta menyempurnakan amalan Ramadhan yang telah dilaksanakan.

Puasa SyawalRamadhanpahalaniattata caraimam al-NawawiNU Onlinehadits Bukhari

Komentar

Memuat komentar...