Qiu Zhonghui: Mantan Pesaing Liga China Jadi Pengantar Makanan Jakarta
Gambar atau konten salah?
Qiu Zhonghui berusia 48 tahun, pernah menorehkan nama di lapangan sepak bola China sebelum memutuskan untuk mengendarai sepeda motor di jalan‑jalan Jakarta. Ia memilih profesi pengantar makanan sebagai cara untuk menambah pengalaman hidup di luar dunia olahraga.
Di masa mudanya, Qiu menjadi bagian dari Jianlibao, sebuah program pengembangan bakat sepak bola yang didirikan pada 1992 oleh Asosiasi Sepak Bola China (CFA) bekerja sama dengan Group Jianlibao, produsen minuman isotonik. Program ini mengirimkan para pemain muda ke Brazil pada dekade 1990-an untuk melatih teknik dan mentalitas. Selama perjalanan itu, Qiu bermain untuk klub Qingdao Hainiu dan Beijing Guoan, sebelum akhirnya beralih ke pelatihan pemain muda.
Keputusan beralih menjadi pengantar makanan muncul setelah ia menyadari bahwa hidup tidak hanya tentang menorehkan gol. “Semakin banyak pengalaman duniawi yang dialami seseorang, semakin baik mereka mengenali jati diri mereka yang sebenarnya,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Ia menekankan bahwa setiap pekerjaan layak dihargai dan tidak ada yang lebih rendah.
Setelah Tahun Baru Imlek, Qiu memposting video singkat di media sosial yang menampilkan dirinya mengantar pesanan. Video tersebut mendapat pujian luas, namun juga komentar negatif. “Mengantar makanan hanyalah cara yang baik untuk mendapatkan perhatian online,” kata netizen lain. Meski demikian, Qiu tampak mengabaikan kritik tersebut dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
Dalam wawancara, ia menjelaskan motivasinya: “Saya hanya percaya bahwa seseorang tidak bisa berdiam diri dalam hidup. Jika Anda bisa melakukan pekerjaan ini, Anda juga bisa mencobanya.” Ia menekankan bahwa pengalaman ini memberi ruang bagi dirinya untuk menenangkan pikiran dan menemukan apa yang benar‑benar ia inginkan.
Qiu membandingkan pekerjaan mengantar makanan dengan sepak bola. “Pertama, butuh fisik yang baik untuk berlari naik turun kompleks perumahan. Kedua, dibutuhkan keterampilan dan kecerdasan untuk mengetahui rute paling hemat waktu dan mudah. Terakhir, pengantar makanan harus bersemangat untuk belajar dan berkonsultasi dengan orang lain ketika menghadapi masalah,” jelasnya.
Di bulan pertama, Qiu menghasilkan sekitar 8.000 yuan (sekitar Rp 20.968.720). Meskipun teman-temannya menawarkan peluang kerja yang lebih menguntungkan, ia menolak karena tidak ingin membebani mereka atau meminta bantuan. Ia memilih jalur ini karena merasa lebih cocok dengan nilai-nilai pribadinya.
Perubahan karier ini membuat beberapa orang menganggapnya hanya mencari ketenaran semata. Namun, Qiu menegaskan bahwa ia memilih untuk berbagi kehidupan sehari‑harinya lewat unggahan video singkat kepada publik. Ia juga menambahkan bahwa pekerjaan ini dapat memperkaya pengalaman hidupnya.
Sepak bola tetap menjadi hobi yang sangat ia minati. Ia mengatakan, “Selama masih ada kesempatan, saya tetap ingin mewariskan pengalaman sepak bola saya.”
Pengalaman Qiu menunjukkan bahwa seseorang dapat menemukan kepuasan di bidang yang tidak terduga. Perpindahan dari lapangan ke jalanan tidak hanya mengubah profesinya, tetapi juga memperluas pandangannya tentang apa yang dianggap penting dalam hidup. Dengan tetap menghargai setiap pekerjaan, ia menunjukkan bahwa nilai kerja tidak selalu diukur dari status atau gaji, melainkan dari rasa hormat dan kepuasan pribadi yang diperoleh dari setiap tugas yang dijalankan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
