Raden Mas Panji Sosrokartono, Jurnalis Perang Pertama
Gambar atau konten salah?
Raden Ajeng Kartini, seorang pejuang emansipasi dan pendidikan perempuan di Indonesia, dikenal luas karena tulisan-tulisan kritisnya yang pernah dipublikasikan di berbagai surat kabar. Namun, di balik perjuangannya, ada sosok kakak laki‑laki yang membuka jendela dunia bagi beliau. Ia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono.
Lahir di Jepara pada 01 Januari 1877, Raden Mas Panji Sosrokartono tumbuh dalam keluarga priyayi Jawa yang menaruh nilai tinggi pada pendidikan. Sejak kecil, ia menerima bimbingan langsung dari guru privat yang dihadirkan di rumahnya, menandai awal perjalanan intelektualnya.
Pada usia tujuh tahun, ia memulai pendidikan formal di Europeesche Lagere School (ELS) Jepara. Selama menempuh sekolah, kemampuannya dalam bahasa membuatnya bersaing dan berprestasi di antara teman-temannya.
Setelah lulus dari ELS, ia melanjutkan ke Hogere Burgerschool (HBS) di Semarang. Di sana, ia semakin serius mendalami ilmu pengetahuan, melahap banyak buku, dan membuat ringkasan untuk memperdalam materi.
Pada 01 Januari 1897, ia lulus dari HBS dengan nilai gemilang, terutama dalam bahasa Jerman. Prestasi tersebut membuka pintu bagi ia untuk melanjutkan studi di Belanda.
Ia memilih Universitas Leiden, di Fakultas Bahasa‑bahasa Ketimuran. Sebelum diterima, ia telah mempelajari bahasa Latin dan Yunani. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjana muda pada 01 Januari 1901. Karena kecakapannya, ia dikenal dengan julukan Si Jenius dari Timur.
Ia menguasai 44 bahasa, termasuk 18 bahasa daerah. Kemampuan ini membuatnya menjadi figur penting di lingkaran intelektual internasional.
Ketika Perang Dunia I pecah pada 01 Januari 1914, ia berada di Eropa. Ia memutuskan untuk mendaftar sebagai koresponden di The New York Herald Tribune, surat kabar ternama di Amerika Serikat.
Selama seleksi, ia berhasil menyingkat berita menjadi 27 kata dan menerjemahkannya ke dalam empat bahasa: Inggris, Prancis, Spanyol, dan Rusia. Para peserta lain gagal memenuhi standar tersebut, sehingga ia menjadi satu-satunya pelamar yang lolos dan resmi diterima sebagai koresponden perang.
Ia kemudian ditempatkan sebagai wartawan perang, bahkan disusupkan dalam pasukan Sekutu agar dapat bergerak lebih leluasa di medan perang. Ia diberi pangkat mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat, namun ia menolak perlengkapan militer.
Di antara liputan pentingnya, ia melaporkan perundingan rahasia antara Jerman dan Prancis. Informasi tersebut dijaga ketat, namun akhirnya dipublikasikan oleh The New York Herald. Dalam laporan tersebut, terdapat kode Bintang Tiga yang menjadi kode milik Raden Mas Panji Sosrokartono, menambah reputasinya sebagai koresponden perang pertama Indonesia.
Selama berada di Eropa, ia sering mengirimkan buku, majalah, dan koran kepada adik-adiknya di Jepara, termasuk Raden Ajeng Kartini. Amunisi literasi ini memberi dukungan moral yang besar bagi Kartini, memperdalam pemikiran kritisnya.
Kisah Raden Mas Panji Sosrokartono menunjukkan bagaimana pendidikan dan kemampuan bahasa dapat membuka pintu bagi peran penting di panggung internasional. Ia menjadi jurnalis perang pertama Indonesia, sekaligus memberi inspirasi bagi saudara perempuan beliau, Raden Ajeng Kartini, dalam perjuangan emansipasi. Pengaruhnya masih terasa hingga kini, ketika karya-karyanya dipelajari di berbagai institusi pendidikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
