Rakit Tradisional Padaherang Menyeberangi Citanduy Lebaran
Gambar atau konten salah?
Di hari H+3 Lebaran, warga di perbatasan dua provinsi, Jawa Barat dan Jawa Tengah, masih mengandalkan jasa perahu rakit tradisional untuk bersilaturahmi. Mereka berkumpul di titik penyeberangan sungai di Dusun Mekarsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.
Jasa rakit tetap menjadi primadona karena ampuh memangkas waktu tempuh secara signifikan. Jika menempuh jalur darat lewat Kalipucang, warga Padaherang maupun Cilacap harus memutar selama sekitar satu jam. Namun dengan rakit, durasi perjalanan dapat dipangkas hingga setengahnya.
Selain efisiensi waktu, ongkos yang terjangkau menjadi alasan utama warga memilih moda transportasi ini ketimbang harus merogoh kocek lebih dalam untuk bahan bakar di jalur utama yang jauh. Cukup membayar Rp5.000, warga beserta sepeda motornya sudah bisa menyeberang. Jalur penghubung Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Cilacap ini memang selalu diserbu warga setiap musim mudik dan balik Lebaran.
Meski fasilitas keselamatan tampak sederhana, warga tetap menaruh kepercayaan tinggi pada jasa penyeberangan tradisional ini demi bisa menjumpai sanak saudara. Satu perahu rakit mampu mengangkut 3 hingga 5 unit sepeda motor sekali jalan. Pantauan di lokasi pada siang hari menunjukkan antrean kendaraan masih mengular, menunggu giliran untuk menyeberangi aliran Sungai Citanduy tersebut.
Nuryanto, salah seorang warga Pangandaran, mengaku rutin menggunakan jasa rakit ini setiap tahun. “Ini dalam rangka silaturahmi Lebaran. Pakai rakit jauh lebih cepat daripada lewat darat. Kalau lewat Manganti atau Kalipucang itu jauh sekali, perbedaannya bisa sampai satu jam. Pakai rakit cuma setengah jam,” ungkapnya.
Senada dengan Nuryanto, Saropah, warga asal Jawa Tengah, juga memilih rakit untuk mengunjungi keluarganya di Jawa Barat. “Harganya murah dan waktunya singkat. Cuma bayar Rp5.000 sudah sampai. Sangat membantu sekali untuk silaturahmi lintas provinsi,” kata Saropah.
Lonjakan jumlah penumpang menjadi berkah tersendiri bagi para pemilik perahu rakit di musim Lebaran. Meski demikian, mereka mengklaim tetap berupaya mengutamakan keselamatan dengan memastikan kondisi perahu tetap laik operasi dan tidak melebihi kapasitas angkut.
Penyeberangan rakit antarprovinsi ini menjadi bukti nyata bagaimana tradisi silaturahmi tetap lestari melalui kearifan lokal. Di tengah arus modernisasi, moda transportasi tradisional ini tetap bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di wilayah perbatasan tersebut.
Warga tetap memilih perahu rakit karena kombinasi biaya rendah, waktu singkat, dan rasa kepercayaan yang kuat pada tradisi lokal. Sehingga, setiap Lebaran, sungai Citanduy menjadi jalur utama bagi keluarga yang ingin bertemu, menegaskan bahwa kebersamaan tetap menjadi inti perayaan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Viking Kampanye 'No Denda' Usai Persib Kena Sanksi Rp6 Miliar
Polisi Razia Humanis: Pelanggar Dapat Nasihat Ustaz, Tertib Dapat Teh Manis
Ciamis Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla
Tiga Tewas Akibat Ledakan Mortir Bekas TNI di Bandung Barat
Ahli Bahasa: 'Boti' Bukan Sekadar Gaul
Warga Antre Air Bersih Saat Kemarau di Sukabumi
Berita Terbaru
BMKG Pantau Muka Air Laut Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau
Anggaran MBG 2027 Diprediksi Turun ke Rp 174 Triliun
Polisi Tangkap Pelaku Buang Bayi di Toilet KA Sancaka
Teka-teki MPLS Bikin Pusing? Ini Jawaban Makanan Anehnya
Restoran AYCE Peringatkan Kalori, Netizen Terbelah
PBVSI Targetkan Timnas Voli Putra Juara SEA V Cup 2026
Komdigi: Spektrum 6G RI Masih Terfragmentasi