Renungan Hari Sabtu Katolik: Otoritas Sejati dari Tuhan
Gambar atau konten salah?
30 Mei 2026 menandai hari Sabtu di mana umat Katolik di seluruh dunia diajak merenungkan konsep otoritas yang sebenarnya berasal dari Tuhan. Renungan ini menekankan bahwa kekuasaan sejati tidak datang dari keinginan pribadi, melainkan dari kasih, pelayanan, dan teladan hidup.
Bacaan I, Yud 17:20b‑25, mengisahkan kehidupan Yudit. Ia hidup di Yerusalem, kemudian pindah ke Betulia. Meskipun banyak yang meminangnya, ia tetap setia pada suaminya, Manasye, hingga akhir hayatnya. Setelah kematian Manasye, Yudit tetap tinggal di rumah suaminya, menunggu hingga seratus lima tahun. Ia memberikan kebebasan kepada dayangnya, dan ketika ia meninggal, ia dikubur bersama Manasye. Keluarga Israel berduka tujuh hari. Yudit, sebelum meninggal, membagikan harta bendanya kepada saudara suaminya dan kepada saudara sendiri. Ia menjadi contoh keteguhan iman tanpa terganggu oleh dunia.
Mazmur Tanggapan, Mzm 63:2.3‑4.5‑6, memuji Tuhan dengan kata-kata berikut:
Demikianlah aku memandang kepada‑Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan‑Mu dan kemuliaan‑Mu. Sebab kasih setia‑Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama‑Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak‑sorai mulutku memuji‑muji. Apabila aku ingat kepada‑Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam,?
Bacaan Injil, Mrk 11:27‑33, mencatat percakapan Yesus dengan imam-imam kepala, ahli‑tauran, dan tua‑tua. Mereka menanyakan:
Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal‑hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada‑Mu, sehingga Engkau melakukan hal‑hal itu?
Yesus menjawab,
Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal‑hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!
Mereka tidak dapat menjawab, sehingga Yesus berkata,
Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal‑hal itu.
Percakapan ini menyoroti perbedaan antara otoritas duniawi dan otoritas ilahi. Yesus menegaskan bahwa kuasa yang Ia gunakan berasal dari Allah Bapa, bukan dari kekuasaan manusia. Ia menolak klaim bahwa kuasa itu berasal dari manusia, karena hal itu akan menurunkan nilai otoritas‑Nya.
Konteks ini mengingatkan kita bahwa ketika kuasa duniawi dan ego menembus praktik keagamaan, hasilnya seringkali berlawanan dengan tujuan damai. Seperti yang terlihat pada sejarah, banyak pemimpin yang menganggap kuasa sebagai alat untuk memperluas kekuasaan pribadi, bukan untuk menegakkan kebaikan. Mereka sering memicu konflik dan peperangan, bukan perdamaian.
Di sisi lain, Yesus datang dengan kuasa yang kudus, membawa kabar sukacita kerajaan Allah. Ia mencontohkan misi damai melalui kasih, bukan peperangan. Seorang santo, St. Fransiskus Asisi, mencontoh penggunaan kuasa tanpa senjata, melintasi garis pertempuran ke Mesir dan bertemu Sultan Malik al Kamil untuk mengakhiri peperangan. Tahun ini menandai 800 tahun wafatnya St. Fransiskus, mengingatkan bahwa kuasa yang diberikan Tuhan harus dipakai untuk kebaikan.
Doa Penutup:
Bapa yang penuh dengan kuasa kasih, terangilah selalu hati dan budi kami untuk sadar akan jati diri kami. Kami yang dianugerahi kuasa di dalam hal apa pun, hendaknya kami pergunakan untuk melakukan kebaikan dan menolong. Mewujudkan misi kami di dunia, seperti yang Engkau kehendaki, sehingga jadilah Kerajaan‑Mu di bumi seperti di surga. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Renungan ini mengajak setiap umat Katolik untuk menilai kembali bagaimana mereka menggunakan kuasa yang diberikan. Apakah kuasa itu dipakai untuk melayani, menolong, dan menegakkan kasih, ataukah dipakai untuk memajukan kepentingan pribadi? Dengan memusatkan perhatian pada otoritas ilahi, kita dapat menempatkan diri dalam jalur yang lebih damai dan berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
