Ribuan Ikan Mati Tanggul Johar, Suspek Pencemaran Industri
Gambar atau konten salah?
02 Juni 2026 di Tanggul Johar, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, ratusan hingga ribuan ikan air tawar ditemukan mati mengambang di aliran air. Ikan-ikan tersebut, mulai dari jenis baung hingga tawes, terlihat tak bernyawa, menambah keprihatinan warga dan pengguna jalan.
Warga segera menyebarkan foto dan video kejadian ini, sehingga situasi menjadi viral di media sosial. Banyak yang menuntut agar pemerintah segera melakukan uji sampel air untuk mengetahui penyebab kematian massal tersebut.
Seorang warga Johar, Rohendi (35), mengungkapkan bahwa tanda-tanda kejanggalan air dan ikan mulai mengapung sudah terlihat sejak malam sebelum penemuan massal. "Kejadian ini dari tadi malam kita melihat ikan mulai mati dan sampai sekarang ini kita juga mengambil ikan yang mengapung. Tapi di sisi lain, kami bertanya-tanya kenapa ikan ini bisa mati? Apakah ada yang mencemari dari limbah ataupun apa, kita kan tidak tahu," ujar Rohendi. "Mungkin yang lebih tahu adalah, pemerintah, saya harap segera ambil tindakan," tuturnya.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Luky Matenra Dwiputra Romly, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang, mengatakan bahwa pihaknya sudah turun ke lapangan. "Kejadian (kematian ribuan ikan) ini kita sudah terjun ke lokasi, sementara kita cek dengan parameter pH air tadi pagi itu normal di angka 6,0 tapi kita juga sudah amankan sampel air, dan ikan untuk uji lab lebih terperinci," kata Luky.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa titik awal kematian ikan di irigasi Tarum Utara Barat diduga berasal dari wilayah Leuweung Seureuh. Menurut Luky, pencemaran tidak berasal dari pipa pabrik langsung, melainkan modus pembuangan liar. "Ini diduga cemaran limbah industri, yang awalnya dari pintu air Leuweung Seureuh, tapi kemungkinan dibawa mobil, sistemnya kencing (dibuang dari tangki mobil), tidak langsung dari pabrik," ungkapnya.
DLH Karawang bekerja sama dengan Satgas Citarum Harum Sektor 10 untuk memburu pihak yang tidak bertanggung jawab atas pembuangan limbah beracun tersebut. "Kami bersama dengan Satgas Citarum Harum juga sedang berupaya mencari pelaku pembuang limbah tersebut, karena kemungkinan ini dibuang Senin (01 Juni) malam, atau Selasa dini hari, jika melihat dari sampel pH air yang sudah normal," tambah Luky.
Di akhir keterangannya, Luky mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan-ikan yang mati mendadak tersebut. "Kami juga mengimbau, kami sudah turun ke lapangan mengamankan ikan-ikan itu, kami minta masyarakat agar tidak mengkonsumsinya, sebab kemungkinan ikan itu tercemar zat berbahaya," pungkasnya.
Insiden ini menyoroti pentingnya pengawasan limbah industri di wilayah perairan. Keterlibatan DLH dan Satgas Citarum Harum menunjukkan upaya koordinasi antara pemerintah daerah dan lembaga penegak hukum untuk mengidentifikasi pelaku. Sementara itu, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap potensi kontaminasi di sumber air lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
