Rumah Kecil Pahlawan Slamet Riyadi di Solo butuh Perbaikan

Teguh A. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 103 dibaca
Bisik.id
Rumah Kecil Pahlawan Slamet Riyadi di Solo butuh Perbaikan

Gambar atau konten salah?

Rumah masa kecil Letnan Kolonel Slamet Riyadi di Kota Solo kini dalam kondisi memprihatinkan. Pada hari Minggu, 09 Maret 2026, pintu rumah di sisi barat tertutup rapat dan gerbangnya digembok dari dalam.

Di depan pintu terletak plakat bertuliskan Rumah Pahlawan Nasional Brigjen Slamet Riyadi. Rumah berukuran sekitar 1.000 meter persegi terbuat dari tembok berwarna hijau yang memudar. Bangunan kayu di sampingnya berwarna cokelat gelap, menandakan tidak terawat.

Gunawan Wibisono, cucu keponakan Slamet Riyadi, mengatakan rumah ini tidak pernah direnovasi. Ia berkata, “Pak Slamet Riyadi lahirnya bukan di sini, tapi di (kelurahan) Tipes. Hanya semasa kecilnya memang dihabiskan di sini,”

Ia menambahkan, “Rumah ini masih asli. Dari rumah dulu sampai sekarang ya seperti ini. Dan ini belum pernah direnovasi, belum pernah renovasi,”

Gunawan juga mengungkapkan kisah masa kecil Slamet. “Pada waktu itu tidak setiap anak itu boleh sekolah. Jadi hanya orang-orang tertentu yang boleh sekolah karena itu memang misinya Belanda seperti itu. Jadi memang anak Indonesia itu, rakyat Indonesia itu tidak boleh pintar, biar bodoh. Nah, karena Pak Slamet ini bapaknya istilahnya orang berpengaruh di keraton, jadi boleh sekolah. Nah, diceritain simbah dulu itu, sekolahnya itu misalnya ada 20 murid, itu yang orang Indonesia hanya 3 sampai 5 orang saja,”

Ia lanjut, “Kebanyakan anak-anak Belanda dan pada waktu itu anak-anak Belanda itu, kalau simbah manggil itu “sinyo-sinyo” Belanda. Dan pada waktu sekolah itu juga Pak Slamet itu memang dari dasarnya sudah tidak suka sama penjajah ya, tidak suka sama Belanda, sejak di sekolah pun dia sudah sering berantem sama anak-anak Belanda itu,”

Gunawan menjelaskan bahwa keberanian Slamet terus berlanjut hingga ia memimpin gerilya di wilayah Solo Raya, termasuk Solo, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali. Ia bersahabat dengan Soeharto dan Ahmad Yani, keduanya juga Letnan Kolonel. “Saat perlawanan itu, Pak Slamet jarang pulang karena memang dicari oleh Belanda dan mau dihabisi,”

Presiden Soekarno memerintahkan Slamet Riyadi dikirim ke Ambon untuk menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan). “Bukan diasingkan. Jadi memang dapat tugas dari pemerintah dari waktu itu Presiden Soekarno untuk dikirim ke Ambon menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan). Jadi Pak Slamet dikirim ke sana untuk menumpas pemberontakan RMS. Beliau gugur di usia 23 tahun dan dimakamkan di sana,”

Rumah di Jalan Tejonoto, Danukusuman, Serengan masih dihuni oleh cucu keponakan Slamet. Gunawan menunjukkan kamar yang masih memiliki tempat tidur asli. Ia berkata, “Kamarnya beliau di sini (menunjukkan kamar Slamet Riyadi) ini situasinya masih asli. Ini juga masih tempat tidurnya. Dulu di sini beliau sering tirakat ya di sini,”

Atap rumah terbuat dari anyaman bambu berlubang. Gunawan menyatakan, “Kalau yang di sini pasti bocor setiap kali hujan, karena memang tidak pernah dirubah sejak dulu,”

Gunawan berharap pemerintah dapat membantu rehabilitasi rumah tersebut. Ia mengakui, “Ya jujur saja, kalau dengan anggaran sendiri tentunya kita tidak mampu butuh bantuan. Semoga dari pemerintah bisa membantu,”

Rumah Slamet Riyadi, yang berdiri sejak 1937, tetap menjadi saksi bisu perjuangan seorang pahlawan. Kondisi bangunan yang terabaikan menandakan perlunya perhatian publik dan pemerintah untuk menjaga warisan sejarah.

Rumah Letnan Kolonel Slamet RiyadiSoloRumah Pahlawan NasionalKondisi MemprihatinkanRenovasiGerilyaRepublik Maluku SelatanPerang Indonesia

Komentar

Memuat komentar...