Rumah Letnan Slamet Riyadi di Solo Butuh Rehabilitasi
Gambar atau konten salah?
Di kota Solo, rumah masa kecil Letnan Kolonel Slamet Riyadi kini tampak rapuh, dipenuhi usia dan kurang perawatan.
Pintu di sisi barat rumah tertutup rapat, gerbangnya digembok dari dalam. Di depan terdapat plakat bertuliskan Rumah Pahlawan Nasional Brigjen Slamet Riyadi.
Tembok berwarna hijau memudar, sementara bangunan kayu di sampingnya berwarna cokelat gelap, tak terawat. Rumah ini memiliki luas sekitar 1.000 meter persegi dan pintu masuk utama berada di sisi utara, melalui gang.
Wawancara dilakukan dengan Gunawan Wibisono, cucu keponakan Slamet Riyadi, berusia 53 tahun. Ia menjelaskan bahwa rumah yang pernah dihuni Slamet sejak kecil tidak pernah diubah.
Gunawan mengatakan, “Pak Slamet Riyadi lahirnya bukan di sini, tapi di (kelurahan) Tipes. Hanya semasa kecilnya memang dihabiskan di sini.”
Ia menambahkan, “Rumah ini masih asli. Dari rumah dulu sampai sekarang ya seperti ini. Dan ini belum pernah direnovasi, belum pernah renovasi.”
Gunawan mengungkapkan bahwa sejak masa kecil, Slamet sangat tidak suka penjajah. Ia pernah berantem dengan teman sekolahnya yang berasal dari Belanda.
“Pada waktu itu tidak setiap anak itu boleh sekolah. Jadi hanya orang-orang tertentu yang boleh sekolah karena itu memang misinya Belanda seperti itu. Jadi memang anak Indonesia itu, rakyat Indonesia itu tidak boleh pintar, biar bodoh. Nah, karena Pak Slamet ini bapaknya istilahnya orang berpengaruh di keraton, jadi boleh sekolah. Nah, diceritain simbah dulu itu, sekolahnya itu misalnya ada 20 murid, itu yang orang Indonesia hanya 3 sampai 5 orang saja.”
Ia melanjutkan, “Kebanyakan anak-anak Belanda dan pada waktu itu anak-anak Belanda itu, kalau simbah manggil itu “sinyo-sinyo” Belanda. Dan pada waktu sekolah itu juga Pak Slamet itu memang dari dasarnya sudah tidak suka sama penjajah ya, tidak suka sama Belanda, sejak di sekolah pun dia sudah sering berantem sama anak-anak Belanda itu.”
Keberanian tersebut terus terbawa ketika ia melanjutkan pendidikan di sekolah pelayaran dan akhirnya memimpin gerilya di wilayah Solo Raya, termasuk Solo, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, dan Boyolali.
Selama perjuangan, Slamet bersahabat erat dengan tokoh-tokoh besar seperti Soeharto dan Ahmad Yani, keduanya juga berangkat dari pangkat Letnan Kolonel.
“Saat perlawanan itu, Pak Slamet jarang pulang karena memang dicari oleh Belanda dan mau dihabisi.”
Karena keberhasilannya, Presiden Soekarno memerintahkan Slamet Riyadi dikirim ke Ambon untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Ia gugur di usia 23 tahun dan dimakamkan di sana.
“Bukan diasingkan. Jadi memang dapat tugas dari pemerintah dari waktu itu Presiden Soekarno untuk dikirim ke Ambon menumpas pemberontakan RMS. Jadi Pak Slamet dikirim ke sana untuk menumpas pemberontakan RMS. Beliau gugur di usia 23 tahun dan dimakamkan di sana.”
Walaupun telah tiada, rumah di Jalan Tejonoto, Danukusuman, Serengan masih dihuni oleh cucu keponakan Slamet Riyadi. Ia menunjukkan kamar yang masih asli, tempat tidur dan kamar Slamet tetap ada.
Gunawan menunjukkan atap anyaman bambu yang berlubang. Ia menyatakan, “Kalau yang di sini pasti bocor setiap kali hujan, karena memang tidak pernah dirubah sejak dulu.”
Ia berharap ada uluran tangan dari pemerintah untuk merehabilitasi kediaman Slamet Riyadi. Ia mengaku, “Ya jujur saja, kalau dengan anggaran sendiri tentunya kita tidak mampu butuh bantuan. Semoga dari pemerintah bisa membantu.”
Rumah yang dulunya menjadi saksi keberanian seorang pahlawan kini menunggu perhatian. Kondisi yang memprihatinkan menandakan perlunya upaya pelestarian warisan sejarah yang masih hidup di tanah Solo.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
