Salupi & Bilpi: Ikan Sapu Kecil Jadi Bekal Haji dan Wisata
Gambar atau konten salah?
Di Kalimantan, ikan bilis dan saluang biasanya hanya dipandang sebagai lauk kecil. Namun bagi Woro Respanti Sari, dua ikan itu berubah menjadi produk dengan rasa dan gengsi yang berbeda. Ia menambahkan bumbu rempah khas Borneo dan menerapkan teknik pengeringan pasca proses goreng. Hasilnya, ikan saluang menjadi gurih ringan, sementara bilis menawarkan sensasi lebih padat.
“Banyak calon jemaah umrah atau haji yang pesan untuk bekal makan selama di Mekkah‑Madinah. Juga mereka yang mau mudik lebaran memesan produk saya untuk oleh‑oleh,” kata Woro kepada para jurnalis peserta fellowship BRI di kediamannya, Selasa, 21 April 2026.
Lewat badan usaha Worokrez yang dibangun sejak 2016, Woro menamai kedua produknya Salupi (Saluang Krispi) dengan kemasan berwarna oranye dan Bilpi (Bilis Krispi) berwarna hijau. Untuk menyasar anak‑anak usia balita, ia menambahkan kemasan bergambar kartun. “Kalau rasa sama saja. Ini biar anak‑anak tertarik untuk makan ikan,” ujarnya.
Produksi Salupi dan Bilpi baru dilakukan beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, ia membuat bumbu pecel Madiun dan menjajaknya setiap hari Minggu di ajang car‑free‑day di Lapangan Murjani. Ia hijrah dari Klaten mengikuti suaminya, Muhammad Taufik, sejak mereka menikah pada 1998 setelah berpacaran sejak SMA. Pada saat itu, Taufik sebagai dokter hewan mendapat penempatan di lingkungan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Bertahun kemudian, Woro yang berlatar pendidikan biologi dari IKIP Madiun mendapat promosi sebagai Kepala Perwakilan Kalsel dan Kalimantan Tengah Perusahaan farmasi Combhipar. Namun karena ingin fokus mendampingi tumbuh‑kembang sepasang anaknya, ia memutuskan berhenti bekerja pada 2010. Nalurinya sebagai wanita karir tak benar-benar padam. Agar tidak “gabut”, ia membuka salon dan menerima jasa laundry. Pada 2016 ia merambah ke bumbu pecel lewat badan usaha Worokrez. Pasca pandemi, ia menekuni pengolahan ikan saluang dan bilis.
Menurut kajian laboratorium Univesitas Lambung Mangkurat (Unlam), kedua ikan ini kaya protein, kalsium, dan mengandung omega‑3. Untuk modal, ia mengaku mendapatkan kredit dari BRI, serta alat pengering (spiner) dan kemasan dari Unlam. Spiner dimanfaatkan untuk mengeringkan ikan yang telah digoreng dan ditiriskan. Hasilnya, ikan benar-benar krispi (renyah), bebas minyak. “Cita rasa ikan juga lebih tahan lama dan bebas tengik,” kata Woro.
Andi Raviali, staf corporate secretary yang mencicipi langsung Salupi dan Bilpi, mengakuinya. Ia menyebut bilpi punya tekstur yang unik. “Di luar crunchy, begitu digigit langsung hancur dengan renyah. Tapi yang mengejutkan daging ikannya masih terasa padat. Jadi kita tetap mendapatkan sensasi makan ikan yang otentik,” ujarnya.
Produk Salupi dan Bilpi kini tidak hanya menjadi lauk rumahan, melainkan juga siap bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan kemasan menarik dan rasa yang disesuaikan, Woro berharap produk ini dapat menjadi pilihan bagi keluarga dan pengunjung yang mencari makanan ringan sehat. Produk ini juga menambah variasi bekal bagi jemaah umrah, haji, dan wisatawan yang ingin membawa oleh‑oleh khas Kalimantan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
