Sampah di TPS Bandung, kuota terbatas bikin kendaraan berhenti
Gambar atau konten salah?
Di kawasan Tamansari, tepat di depan kampus Institut Teknologi Bandung, tumpukan sampah mulai menutupi jalan. Motor roda tiga pengangkut sampah terpaksa parkir di pinggir jalan, karena tempatnya sudah terisi oleh sampah yang menumpuk. Pada Selasa, 19 Mei 2026, situasi ini sudah terlihat jelas di Terminal Pengumpulan Sampah (TPS) tersebut.
Menurut Darto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, fenomena ini muncul karena kuota pembuangan sampah ke TPA Sarimukti dibatasi sesuai aturan siklus dua pekanan. Ia menjelaskan, “Itu teh biasa, karena siklus akhir kuota dua mingguan. Jadi setiap hari Kamis teh sampah di TPS enggak bisa dibuang, baru bisa dibuang lagi itu hari Senin-nya.”
Aturan baru ini mengharuskan pembuangan sampah hanya pada hari Senin hingga Kamis. Pada hari Jumat hingga Minggu, proses pembuangan diblokir. Akibatnya, sampah yang terakumulasi di akhir pekan baru dapat diangkut pada pagi hari Senin. Darto menegaskan, “Di kita kan kemarin enggak bisa enggak bisa buang dulu, Senin kemarin baru bisa diangkut akhirnya.”
Untuk mengatasi tumpukan, pengangkutan sampah dari setiap TPS saat ini dilakukan secara bertahap. Ia menambahkan, “Kan tidak semua langsung selesai, karena tumpukan selama sekian hari itu juga lumayan besar. Nah, tumpukan sekian hari itu kita mulai cicil. Misalnya per TPS dapat antara tiga hingga lima truk, kita ambil duluan.”
Proses cicilan ini bertujuan agar setiap hari dibagi rata truk yang tersedia. Darto menyimpulkan, “Kalau langsung dihabiskan di hari itu kan enggak bisa juga. Jadi dibagi rata lah per hari sekian truknya per TPS.”
Dengan kuota yang tidak sebanding dengan volume sampah, sistem ini menimbulkan penumpukan di TPS, membuat kendaraan pengangkut terparkir di pinggir jalan, dan menunda pembuangan akhir pekan. Kondisi ini memaksa pihak berwenang untuk menyesuaikan jadwal pengangkutan agar tidak menimbulkan kemacetan dan pencemaran di kota.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
