Sarden Kalengan: Tidak Masuk UPF, Apakah Lebih Sehat?
Gambar atau konten salah?
Istilah ultra‑processed food (UPF) baru-baru ini sering muncul di media sosial. Sarden kalengan, yang dulu dianggap sehat, kini menjadi sorotan ketika seseorang menyatakan bahwa produk tersebut tidak termasuk dalam kategori UPF.
Untuk memahami perdebatan ini, penting mengetahui sistem klasifikasi NOVA. Pangan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya: unprocessed or minimally processed foods (NOVA 1), processed culinary ingredients (NOVA 2), processed foods (NOVA 3), dan ultra‑processed foods (NOVA 4). Banyak makanan modern—mi instan, sosis, nugget, minuman kemasan—langsung masuk ke dalam NOVA 4 dan dianggap tidak sehat.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa tidak semua produk dalam kelompok ini memiliki dampak kesehatan yang serupa. Beberapa UPF memang sering dikaitkan dengan risiko kesehatan, terutama yang tinggi gula, garam, dan lemak. Di sisi lain, ada produk tertentu dalam kategori UPF yang tidak menunjukkan risiko serupa dalam beberapa studi.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Diabetes Care pada 2023 menggunakan data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Namun, peneliti juga menemukan bahwa tidak semua kelompok UPF menunjukkan hubungan yang sama.
Produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, hingga ready‑to‑eat dishes lebih sering dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Sebaliknya, beberapa produk lain seperti yogurt, whole‑grain breads, dan sereal tertentu menunjukkan hasil yang berbeda dalam penelitian tersebut.
Pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menyoroti masalah ketika semua pangan dalam kategori tersebut langsung dianggap tidak sehat. Ia mengatakan, “Akibatnya, pangan olahan yang sebenarnya aman, bergizi, dan sesuai standar - seperti susu UHT, pangan fortifikasi, atau beberapa produk pangan olahan lokal produksi IMK/UMKM - ikut terseret ke dalam stigma 'UPF = tidak menyehatkan',” ujarnya. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa pangan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan satu kategori saja, tetapi juga perlu melihat kandungan gizi, komposisi, hingga pola konsumsinya secara keseluruhan.
Debat seputar sarden kalengan menjadi contoh bagaimana persepsi publik dapat berubah ketika informasi baru muncul. Jika ternyata produk tersebut tidak termasuk UPF, apakah itu otomatis lebih sehat? Jawabannya tidak begitu sederhana. Kategori UPF mencakup beragam produk, dan kesehatan yang dihasilkan tergantung pada komposisi serta pola konsumsi.
Secara keseluruhan, meski UPF sering dianggap buruk, tidak semua produk dalam kelompok ini memiliki dampak yang sama. Penelitian menunjukkan variasi risiko kesehatan tergantung pada jenis produk. Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk menilai pangan tidak hanya berdasarkan klasifikasi, tetapi juga kandungan gizi dan pola konsumsi yang lebih luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
