Sate Merah Bandung: Gen Z Nata Wijaya Buka Warung Baru

Surya B. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Sate Merah Bandung: Gen Z Nata Wijaya Buka Warung Baru

Gambar atau konten salah?

Di Bandung, sate asin pedas sudah lama menjadi primadona di kafe malam. Namun, generasi muda kini memperkenalkan varian baru: sate merah. Inovasi ini diprakarsai oleh Nata Wijaya, seorang Gen Z yang membuka warung tenda bernama Sate Bakarjo di kawasan Citarum pada 01 November 2025. Warung ini kini sering dipadati pengunjung yang ingin menikmati kuliner malam.

Sate Bakarjo buka setiap hari mulai pukul 17.30 hingga tengah malam. Harga yang ditawarkan cukup bersahabat: Rp1.800 per tusuk untuk sate ayam, dan Rp2.000 untuk sate kulit serta jando. Nata menjelaskan bahwa ia memulai usaha ini karena ia melihat tingginya permintaan pasar akan sate asin pedas khas Bandung.

“Sebenarnya awal mula aku merintis Bakarjo ini karena aku melihat peluang pasar sate di Bandung itu peminatnya banyak, orang Bandung tuh cinta banget sama sate asin pedas. Tapi, Bakarjo hadir sebagai inovasi baru. Kami punya menu andalan sate merah yang rasanya cenderung manis pedas, ada juga menu sate asin pedas yang udah akrab di lidah warga. Kami juga menyediakan jando dan kulit untuk melengkapi pilihan,” ujar Nata saat ditemui.

Sate merah menjadi sorotan utama. Menu ini jarang ditemukan di jajaran kuliner kaki lima Bandung, yang biasanya dipenuhi sate bumbu kacang atau sate asin pedas. Nata tidak memiliki latar belakang di dunia kuliner, namun semangat khas Gen Z mendorongnya untuk belajar otodidak. Ia memanfaatkan internet dan video di YouTube untuk meracik resep yang kini dicintai pelanggan.

“Gagal, pasti ada sih. Aku tuh background-nya enggak ada di dunia F&B. Aku tuh enggak bisa masak sebenarnya cuman karena aku mau coba terus, aku bereksperimen dan pada saat itu aku membuat sate merah gitu, based on internet dan ya video di Youtube dan segala macem. Aku R&D terus gitu ya. Pertama-pertama mungkin rasanya masih aneh masih ya gak cocok lah, setiap harinya setiap ada customer datang, aku nanya kurangnya apa biar aku lebih bisa memaksimalkan sate merah ini dan alhamdulillahnya mungkin sekarang udah final production sate merah dari Bakarjo, udah bisa dimakan di Bakarjo,” kata Nata.

Keberhasilan Bakarjo terlihat dari volume penjualan. Pada hari kerja, Nata menyiapkan sekitar 400 tusuk sate. Jumlah ini melonjak hampir dua kali lipat saat akhir pekan, ketika ia harus menyiapkan 700 hingga 800 tusuk untuk memenuhi antusiasme pembeli. Kerja kerasnya menghasilkan omzet berkisar antara Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulan.

Keunikan sate merah menjadi magnet bagi pelanggan yang bosan dengan rasa sate yang monoton. Nata mengaku berhasil menciptakan pasar sendiri di tengah persaingan kuliner malam di Bandung. “Responsnya oke positif. Mereka ngerasa sate di Bakarjo itu nice dibanding sate yang lain, terutama di sate merahnya. Jadi orang-orang tuh apa sih, kadang mesti nanya sate merah tuh gimana sih. Jadi aku mau jelasin, sate merah itu sate yang dominannya lebih ke manis pedas. Itu asalnya bukan dari Bandung, sebenernya dari Jogja cuman dimodifikasi dengan lidah Bandung,” ujar Nata.

Dengan pendekatan sederhana dan tekad untuk terus bereksperimen, Nata Wijaya menunjukkan bahwa inovasi kuliner tidak selalu memerlukan latar belakang profesional. Sate merah, yang awalnya hanya ide sederhana, kini menjadi produk yang menguntungkan dan menarik bagi konsumen muda di Bandung.

BandungSate MerahGen ZSate BakarjoInovasi KulinerWarung TendaPenjualanYouTube

Komentar

Memuat komentar...