Sekolah Maung 2026: Program Unggulan Fokus Akademik & Seni
Gambar atau konten salah?
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengumumkan bahwa program Sekolah Maung (Manusia Unggul) akan dimulai pada tahun ajaran baru 2026/2027. Ia menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai model pendidikan yang tidak hanya menilai kecerdasan akademik, tetapi juga bakat non-akademik.
“Sekolah Maung nanti tahun pelajaran ini dimulai, sekarang sudah identifikasi dan nanti diberlakukan yaitu sekolah yang menampung anak-anak berprestasi, prestasi akademik dan prestasi non-akademik,” ujar Dedi pada Kamis, 23 April 2026.
Dedi menekankan bahwa konsep Sekolah Maung berbeda dengan sekolah unggulan konvensional. Selama ini, ukuran prestasi sering diidentikkan dengan nilai akademik. Sekolah Maung membuka ruang lebih luas. “Jadi di Sekolah Maung nanti bukan hanya yang akademiknya baik, tetapi yang berprestasi di bidang olahraga, di bidang seni, industri kreatif tetap sekolah di situ,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa akan ada pembagian kelas berbasis minat dan potensi siswa. “Nanti kelasnya jadi kelas industri kreatif fokusnya, kelasnya kelas olahraga, kelasnya kelas seni,” ucapnya.
Meskipun program ini baru, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak akan membangun sekolah baru. Sebaliknya, pemerintah akan mengoptimalkan sekolah-sekolah unggulan yang sudah ada di setiap daerah. “Gak dibangun, kita mengupdate sekolah-sekolah yang dulu menjadi unggulan, misalnya Bandung SMAN 3, Subang SMAN 1 misalnya, kan selalu setiap kabupaten ada sekolah favorit,” jelasnya.
Sekolah-sekolah tersebut akan diperkuat dengan fasilitas tambahan, teknologi pembelajaran, dan seleksi guru yang lebih ketat. “Sekolah favorit itu yang akan menjadi sekolah yang diisi oleh anak-anak yang punya prestasi, semuanya punya prestasi dan kemudian nanti pasti kan ada penambahan ruang kelas, penambahan teknologi pengajaran, seleksi guru yang memadai, kan kelas menengahnya harus ada,” tuturnya.
Proses seleksi untuk masuk Sekolah Maung tetap berbasis capaian akademik dan non-akademik. “Ya daftar tapi kan daftarnya berdasarkan kualifikasi pendidikan akademik dan non-akademik,” ucap Dedi.
Walaupun menekankan konsep sekolah unggulan, Dedi memastikan pendidikan di Sekolah Maung tetap gratis. Ia membuka kemungkinan adanya kontribusi sukarela dari orang tua dengan kemampuan ekonomi tertentu. “Gratis, tetapi kita nanti lagi membicarakan, misalnya begini, karena kan orangtua seringkali ada tuntutan di sekolah yang punya kualifikasi unggulan itu kan. Misalnya kita lagi berpikir apakah orangtua yang berpenghasilan di atas 10 juta yang anak-anaknya sekolah di situ, boleh tidak kalau berkontribusi. Nanti itu kita sedang pelajari dan kita komunikasikan tidak boleh melanggar,” bebernya.
Dengan demikian, program Sekolah Maung menargetkan siswa berprestasi di berbagai bidang, menawarkan fasilitas yang lebih baik, dan tetap menjaga kebebasan akses pendidikan bagi semua.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
