Siswa 17 Tahun MAN ICP Dapat 15 Letter of Acceptance Universitas

Ani R. · 5 min baca · 3 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
Siswa 17 Tahun MAN ICP Dapat 15 Letter of Acceptance Universitas

Gambar atau konten salah?

Ahmad Ali Rayyan Shahab, seorang siswa berusia 17 tahun dari Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Pekalongan, baru saja mencatat prestasi yang mengesankan. Ia berhasil memperoleh 15 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai universitas ternama di dunia. Universitas-universitas tersebut tersebar di enam negara: Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia.

Di antara kampus-kampus bergengsi yang menandatangani LoA-nya terdapat University of California San Diego jurusan Geoscience, University of California jurusan Environmental Engineering, University of British Columbia jurusan Applied Engineering, University of Manchester jurusan Environmental Science, serta University of Auckland jurusan Environmental Science. Semua universitas ini termasuk dalam jajaran top dunia.

"Tentunya kalau saya itu bilang ke diri saya satu tahun yang lalu bahwa saya diterima 15 universitas luar negeri, tentu mungkin merupakan sebuah kejutan, lah. Artinya, bahkan saya satu tahun yang lalu tidak akan percaya saya bisa dapat apa ya, berada di titik ini. Jadi tentunya sebuah surprise untuk bisa mendapatkan Letter of Acceptance dari 15 universitas di mancanegara dan universitas yang top dunia seperti itu," kata Rayyan ketika dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin, 6 April 2026.

Rayyan adalah anak pertama dari lima bersaudara yang dilahirkan oleh pasangan Salim Shahab dan Fitria. Ia mengakui bahwa pencapaian ini tidak datang secara instan. Sejak kecil, ia sudah belajar bahasa asing di lingkungan keluarga. Ketika duduk di bangku kelas XI, ia mulai menumbuhkan tekad untuk menembus perguruan tinggi luar negeri.

Langkah penting pertama yang ia ambil adalah mengikuti program pertukaran pelajar AFS (American Field Service) selama 10 bulan di Finlandia. Selama di sana, ia tidak hanya belajar di sekolah internasional, tetapi juga menyerap banyak pengalaman lintas budaya dan memperdalam minatnya di bidang lingkungan. "Saya belajar banyak, mulai dari pengelolaan sampah hingga isu lingkungan lainnya. Itu sangat membantu saat proses pendaftaran kampus," ujarnya.

Setelah kembali dari Finlandia, Rayyan semakin serius mempersiapkan diri. Ia aktif mencari informasi kampus, menghadiri pameran pendidikan, berdiskusi dengan orang tua, serta menyiapkan dokumen penting seperti sertifikat kemampuan bahasa Inggris IELTS (International English Language Testing System) dan tes SAT (Scholastic Assessment Test). SAT menguji kemampuan literasi dan matematika dalam bahasa Inggris, dan merupakan salah satu syarat seleksi universitas di AS.

"Bersama Umi dan Abah, saya terus berdiskusi. Saya konsisten dengan jurusan yang saya suka, teknik dan ilmu lingkungan di sejumlah kampus terbaik dunia. Sejak akhir tahun saya sudah ikut tes IELTS dan SAT sebagai salah satu modal penting. Di samping terus berlatih menuiis 'motivation letter'," ujarnya.

Rayyan menekankan bahwa kunci utama lolos ke kampus luar negeri bukan sekadar belajar keras, melainkan strategi yang tepat. "Bukan soal siapa paling pintar, tapi bagaimana menyusun strategi sejak awal. Saya mulai lebih dulu, mencari informasi, dan mempersiapkan semuanya secara terarah, saya bisa dikatakan curi star," katanya.

"Sebenarnya saya di sini lebih banyak bagaimana bisa mendapatkan LoA ini itu bukan dari usaha yang brute force kalau dibilang, atau usaha yang mati-matian. Tapi lebih kepada strategi kita gitu. Jadi bukan dengan saya itu mati-matian belajar tiap hari begadang, tapi dengan cara menyusun strategi yang efektif gitu dalam meraih beasiswa ini, dalam meraih Letter of Acceptance ini," tambahnya.

Seleksi kampus luar negeri bersifat holistik. Tidak hanya nilai akademik, tetapi juga pengalaman, kontribusi sosial, kemampuan berpikir, serta kepribadian menjadi faktor penentu. Hal ini tercermin dari aktivitas Rayyan di luar kelas. Ia aktif menulis dan mengelola web miliknya. Ia juga terlibat di organisasi lingkungan seperti Green Generation dan Greenfaith, serta menjadi co-founder komunitas Atma Bawana yang fokus pada pengelolaan sampah di lingkungan sekolah berasrama.

"Saya bersama teman-teman mendirikan organisasi Atma Bawana tentang pengelolaan sampah di sekolah berasrama. Banyak teman dan adik-adik kelas yang terlibat. Dukungan kepala MAN ICP, guru-guru, bahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Pekalongan turut mengapresiasi. Semua ini 'dilaporkan' dalam proses seleksi masuk PTLN," ungkap Rayyan.

Selain faktor usaha, Rayyan menekankan pentingnya doa dan dukungan keluarga. Ia menyebut peran orang tua sangat besar dalam proses yang dijalaninya, mulai dari memberikan kebebasan memilih jurusan hingga membantu proses administrasi pendaftaran. "Ayah dan ibu selalu mendukung dan memberi saya ruang untuk berkembang. Mereka juga membantu dalam proses pendaftaran," ungkapnya.

Rayyan kini memprioritaskan melanjutkan studi di University of British Columbia, Kanada, dengan jurusan Environmental Engineering. Ia juga tengah mengajukan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Garuda untuk mendukung pendidikannya. "Saat ini saya sedang mengajukan beasiswa dan saya itu menaruh prioritas itu di Canada, University of British Columbia. Jadi pilihan prioritas pertama saya itu di mana nanti saya akan masuk di engineering, Environmental Engineering gitu," ungkapnya.

Rayyan juga membagikan pesan bagi pelajar lain yang ingin mengikuti jejaknya. Ia menekankan pentingnya memiliki mimpi besar, konsisten pada passion, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, serta melatih kemampuan menulis. "Jangan takut bermimpi dan jangan minder. Mimpi itu bukan untuk ditunggu, tapi dikejar sejak dini," tuturnya.

Di tingkat sekolah, sudah ada 15 siswa MAN IC Pekalongan yang diterima di perguruan tinggi luar negeri. Salah satu siswa, Valzan Baruna Arkanata, mendapat kesempatan di 24 perguruan tinggi luar negeri. Siswa-siswa lainnya rata-rata menerima lebih dari dua tawaran. "Sudah ada 15 orang yang diterima di perguruan tinggi luar negeri. (Satu anak) ada yang 24 (PTLN), 15, ada yang 10, ada yang 4, ada yang 3, itu di luar negeri baik yang di benua Amerika kemudian di Australia maupun di Eropa, itu yang di luar negeri," kata Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, pada Senin, 6 Mei 2026.

Kepala sekolah menegaskan bahwa sejak awal, targetnya adalah sekitar 90 persen lulusan dapat diterima di perguruan tinggi top nasional, sementara 10 persen lainnya melanjutkan studi ke luar negeri. Target tersebut bukan sekadar harapan, melainkan hasil dari perencanaan matang dan strategi yang konsisten.

Di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), sebanyak 31 dari total 54 siswa eligible berhasil diterima di perguruan tinggi negeri favorit. Capaian ini setara dengan sekitar 57 persen dan dinilai sebagai peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Tak hanya melalui jalur reguler, sejumlah siswa juga berhasil menembus kampus impian melalui skema 'golden ticket' di berbagai perguruan tinggi seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Indonesia," ungkapnya.

Keberhasilan ini tidak lepas dari inovasi kurikulum dan pendekatan pembelajaran berbasis 'takhassus' atau peminatan khusus. Siswa diarahkan untuk mendalami bidang sesuai cita-cita, seperti kedokteran atau sains, melalui penguatan materi dan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum). Selain itu, madrasah juga membuka jalur prestasi lain, termasuk tahfidz Al-Qur'an, guna memberikan lebih banyak peluang bagi siswa untuk diterima di perguruan tinggi.

Dengan berbagai strategi tersebut, MAN IC Pekalongan optimistis mampu terus mencetak generasi unggul yang siap berkontribusi menuju visi Indonesia Emas 2045. Siswa-siswa seperti Rayyan menunjukkan bahwa kombinasi kerja keras, strategi terencana, dan dukungan keluarga dapat membuka pintu ke perguruan tinggi top dunia. Sementara itu, sekolah terus memperkuat kurikulum dan jalur seleksi agar lebih banyak siswa meraih prestasi serupa di masa depan.

Ahmad Ali Rayyan ShahabLetter of Acceptance 15 universitasUniversitas top duniaProgram pertukaran AFS FinlandiaEnvironmental EngineeringGreen GenerationLPDP Garuda

Komentar

Memuat komentar...