Siswa SMAN 1 Purwakarta Menyerang Guru, 19 Hari Skors

Nurul H. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 109 dibaca
Bisik.id
Siswa SMAN 1 Purwakarta Menyerang Guru, 19 Hari Skors

Gambar atau konten salah?

Video yang menampilkan sekelompok pelajar SMAN 1 Purwakarta mengacungkan jari tengah kepada guru menaklukkan media sosial. Tindakan tersebut terjadi di ruang kelas XI IPS, tepat setelah pelajaran kebinekaan selesai. Video ini segera menjadi viral, memicu kecaman luas dan membuka perbincangan tentang perilaku remaja di era digital.

Menurut kepala sekolah, para siswa baru saja menyelesaikan pelajaran kebinekaan yang membahas tentang aneka olahan makanan. Begitu kelas selesai, mereka mulai melakukan gerakan tidak sopan. Rekaman menunjukkan mereka mengacungkan jari tengah berulang kali ke arah guru PKN bernama Ibu Atum, seorang pengajar baru di sekolah tersebut.

Jumlah siswa yang terlibat tercatat sembilan. Mereka merekam aksi tersebut dan mengunggahnya ke media sosial, sehingga cepat menyebar ke kalangan mahasiswa, orang tua, dan masyarakat umum. Reaksi publik menuntut penegakan disiplin dan evaluasi karakter di sekolah.

Di tingkat pemerintah, Purwanto, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, menegaskan bahwa perilaku siswa tidak lahir di ruang hampa. Ia menyoroti pengaruh lingkungan luar sekolah, khususnya ruang digital yang tak terpisahkan dari keseharian siswa. “Kalau orang pegang ponsel kadang spontan anak itu mengekspresikan alam bawah sadar dia dan itu refleksi dari karakter mereka,” ujarnya.

Purwanto menambahkan bahwa anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Pendidikan tidak lagi hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital dan lingkungan rumah. Kegagalan dalam menginternalisasi nilai karakter, menurutnya, menyebabkan kurangnya empati dan disiplin. Ia menekankan perlunya pembinaan yang fokus pada pelatihan empati dan kedisiplinan yang disesuaikan dengan perkembangan usia.

Di tingkat kabupaten, Agus Marzuki, Ketua Dewan Pendidikan Purwakarta, menilai perilaku pelajar tersebut bertentangan dengan semangat program pendidikan karakter di Jawa Barat, yaitu Gapura Panca Waluya. Program ini menekankan nilai cageur (sehat), bageur (baik), bener (jujur), pinter (cerdas), dan singer (kreatif). Namun, aksi mengacungkan jari tengah menunjukkan kurangnya rasa hormat dan etika dalam berkomunikasi.

Agus Marzuki menegaskan, “Terlepas dari alasan apa pun, meskipun dianggap sebagai ekspresi di dalam kelas, ketika masuk ke ruang publik, tindakan itu menjadi tidak etis dan melanggar norma.” Ia menyoroti pentingnya komunikasi terbuka antara guru dan siswa untuk membangun kembali hubungan saling menghormati.

Menanggapi video yang sudah viral, pihak sekolah dan pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat. Sekolah memanggil sembilan siswa yang terlibat beserta orang tua mereka. Dalam rapat tersebut, para orang tua menangis dan menyesali tindakan anak-anak mereka, sementara para siswa sendiri menyatakan penyesalannya.

Sebagai langkah awal, sekolah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari. Selama masa skorsing, siswa diminta menjalani pembinaan di bawah pengawasan orang tua di rumah. Saepul Bahri Binzein, Bupati Purwakarta, menyarankan agar siswa yang terlibat menjalani bimbingan konseling supaya mereka bisa memperbaiki sikap dan lebih bijak dalam bermedia sosial.

Usulan sanksi edukatif juga muncul. Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, menyarankan agar hukuman tidak hanya berupa diskors, tetapi juga aktivitas sosial. Ia mengusulkan agar siswa membersihkan halaman sekolah dan toilet setiap hari. “Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya,” ujar Dedi.

Selain itu, Disdik Jabar mendorong sekolah-sekolah untuk mengevaluasi kembali aturan penggunaan ponsel di lingkungan sekolah. Evaluasi ini dianggap penting untuk meminimalkan potensi gangguan karakter yang dipicu oleh aktivitas di ruang digital. Pemerintah daerah menekankan perlunya kebijakan yang jelas dan konsisten mengenai penggunaan gadget di sekolah.

Insiden ini menempatkan SMAN 1 Purwakarta, yang sebelumnya dikenal sebagai sekolah unggulan, dalam sorotan negatif. Kejadian ini menjadi panggilan bagi semua pemangku kepentingan—guru, siswa, orang tua, dan pemerintah—untuk meninjau kembali cara menanamkan nilai karakter di kalangan remaja. Fokus utama adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter, empati, dan disiplin, sambil menyesuaikan diri dengan realitas digital yang terus berkembang.

video viralpelajar SMAN 1 Purwakartapengacungan jari tengahperilaku remaja digitalpembinaan karakterpenegakan disiplinpenggunaan ponsel sekolah

Komentar

Memuat komentar...