SPMB Maung Tutup Pendaftaran, Orangtua Cari Jalur Baru
Gambar atau konten salah?
29 Mei 2026 menandai hari terakhir pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Program Sekolah Manusia Unggul (Maung) di Jawa Barat. Program ini menjadi sorotan banyak orangtua, khususnya mereka yang selama ini kesulitan menembus SMA negeri favorit karena aturan zonasi.
Di Kota Bandung, program Maung diterapkan di SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung. Berbeda dengan jalur reguler, Maung membuka tiga jalur seleksi: 10 persen potensi akademik, 70 persen kompetensi akademik, dan 20 persen kompetensi non‑akademik. Setiap jalur memiliki kriteria dan skor yang berbeda, sehingga siswa dapat memilih sesuai kelebihan mereka.
Sejak dibuka, sejumlah orangtua datang ke sekolah untuk memastikan peluang anak mereka bisa lolos lewat jalur tersebut. Mereka melihat Maung sebagai jalan baru untuk masuk sekolah favorit tanpa dibatasi jarak tempat tinggal. Banyak yang merasa program ini membuka pintu bagi siswa dari pinggiran kota yang sebelumnya tidak memiliki akses.
Edwin (52), warga Riung Bandung, datang mengantar anaknya dan mengaku sengaja mencoba jalur Maung lebih dulu sebelum mengikuti jalur penerimaan lainnya. "Kita nyoba SPMB Maung dulu sebelum ke yang lain," kata Edwin saat ditemui di SMA Negeri 5 Bandung. Ia mengaku sudah memahami sebagian besar aturan pendaftaran, namun tetap datang langsung ke sekolah untuk memastikan detail teknis penilaian. "Kurang lebih 70‑80 persen saya sudah juknisnya, saya pengen langsung teknis dan lainnya seperti apa termasuk skor‑skor non akademik dan akademik," ujarnya. Edwin berencana mendaftarkan anaknya lewat jalur non‑akademik, meski begitu anaknya juga akan mencoba tes IQ serta jalur prestasi Matematika. Bagi Edwin, jadwal Maung yang dipisahkan dari jalur reguler menjadi keuntungan tersendiri. Jika gagal di jalur ini, siswa masih punya kesempatan mengikuti seleksi di SPMB reguler pada 15 Juni 2026. Ia juga menilai Maung membuka peluang yang selama ini sulit didapat warga pinggiran Kota Bandung untuk masuk sekolah favorit. "Dengan adanya Sekolah Maung sangat positif ini salah satu bentuk bahwa masih ada kesempatan bagi warga yang ingin masuk ke sekolah favorit itu terakomodir karena secara zonasi tidak mungkin, Riung Bandung ke SMAN 5 Bandung itu cukup jauh," katanya.
Bobby (41), warga Arcamanik, juga memilih Maung karena melihat adanya ruang lebih besar bagi siswa berprestasi non‑akademik. "Karena programnya cukup menarik dan bagus. Ada peluang potensi prestasi, karena anak kami punya potensi hafalan Al Qur'an bisa jadi prestasi tingkat provinsi makanya pilih ke Sekolah Maung. Apalagi jadwalnya didahulukan beda dengan SPMB sekolah normal," ungkapnya. Menurut Bobby, program tersebut kembali memunculkan optimisme orangtua yang sebelumnya merasa peluang masuk sekolah favorit sudah tertutup akibat sistem zonasi. "Dengan adanya Sekolah Maung ini ada kesempatan untuk masuk ke sekolah favorit. Jadi tidak adanya zonasi untuk Sekolah Maung jadi ada semangat lagi, ibaratnya kami sudah putus asa. Tapi ini masih ada kesempatan," pungkasnya.
Program Sekolah Manusia Unggul (Maung) memberikan alternatif bagi orangtua yang kesulitan masuk SMA negeri favorit karena zonasi. Dengan jalur seleksi yang berbeda dan jadwal terpisah, siswa dari pinggiran kota mendapatkan peluang baru untuk menembus sekolah favorit tanpa batasan jarak. Program ini menegaskan bahwa sistem pendidikan masih dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan beragam siswa, memberi harapan bagi keluarga yang sebelumnya merasa terhalang oleh aturan zonasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
