SPPG Bandung Produksi Sampah Organik 50 Ton per Hari
Gambar atau konten salah?
Bandung – Sebanyak 270 SPPG atau dapur program MBG di kota ini menghasilkan sekitar 50–60 ton sampah per hari. Menurut Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, sampah tersebut belum diolah dan masih dibuang ke TPA Sarimukti, sehingga kota membutuhkan tambahan kuota pembuangan.
Permasalahan sampah baru ini mendapat sorotan pakar pengelolaan sampah Universitas Islam Bandung, Mohamad Satori. “Itu adalah hal tidak terpikirakan dan dipikirkan oleh SPPG, wajar jadi hasilkan sampah yang banyak dan ini mengkhawatirkan,” ujarnya saat dihubungi pada Kamis 07 Mei 2026.
Selain itu, Satori menegaskan bahwa pengelola SPPG seharusnya menyiapkan makanan yang tidak menimbulkan banyak sampah. Hal tersebut harus diminimalisasi sejak awal. “Restoran yang selama ini berjalan bisa melakukan itu,” tambahnya.
Karena timbulan sampah organik dapur (SOD) dari SPPG cukup banyak, pengelolaannya harus diperhatikan dan dianggarkan biayanya secara khusus. “Harus ada alokasi anggaran untuk mengelola SOD. Forum Bank Sampah Jabar siap bantu olah sampah organik dapurnya,” ujar Satori yang juga Ketua Forum Bank Sampah Jabar.
Ia menilai bahwa program baru ini, yang seharusnya mengurangi sampah, malah menghasilkan sampah tambahan. “Saya kira solusinya karena ini sudah berjalan, ini cukup memprihatinkan di saat kita kurangi sampah, ada program baru malah hasilkan sampah, ini harus ditangani serius,” tambahnya.
Menurut Satori, pada bulan puasa lalu, kemasan buah yang diberikan kepada siswa menjadi masalah sampah baru karena kemasannya tidak bisa diolah dan hanya menjadi residu. “Bahkan ada kelapa mentahan dan dimasukan plastik, pengelola harus berpikir bagaimana tidak nyampah,” ujarnya.
Ia menyebut sudah ada SPPG di Cileunyi yang bekerja sama dengan Forum Bank Sampah Jabar untuk pengelolaan SOD. Namun, kerja sama tersebut masih bersifat perorangan dan belum banyak diikuti SPPG lainnya.
Satori mengingatkan bahwa SPPG harus bekerja sama dengan pihak yang biasa mengelola SOD. Ia menemukan kasus adanya SPPG yang SOD-nya ditarik dan dimintai uang, namun sampahnya tidak dikelola. Sampah hanya diangkut dari SPPG dan dibiarkan menumpuk di sembarang tempat.
Beragam pengelolaan SOD bisa dilakukan oleh SPPG, karena menurut Satori SOD didominasi sampah organik. “Bisa buat bata terawang, maggot atau kerja sama dengan peternak. Sederhana bikin kompos, dengan sistem magot juga bisa dan berikutnya bisa untuk peternakan, memang perlu dipikirkan serius tata kelolanya, punya instalasi pengolahan sampah organik atau dikerjasamakan,” tuturnya.
Masalah SOD juga harus menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN), bahkan Presiden yang menggulirkan program ini. “Kalau sampah SPPG bisa dieksekusi tingkat kota kabupaten boleh saja, tapi ini jadi fenomena nasional, saya kira harus dipikirkan secara nasional, presiden sendiri, berpikir bagaiamana mengatasi sampahnya di Jabar, Forum Bank Sampah Jabar siap,” pungkasnya.
Program Makan Bergizi Gratis di Bandung, yang dimaksudkan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, kini terhambat oleh volume sampah organik yang tinggi. Tanpa alokasi anggaran khusus dan kerja sama lintas lembaga, pengelolaan sampah organik dapur akan tetap menjadi beban tambahan bagi kota. Satori menegaskan perlunya pendekatan terpadu, mulai dari perencanaan menu hingga pemanfaatan sampah organik, agar program yang bertujuan mengurangi sampah sekaligus meningkatkan gizi tidak terbalik menjadi sumber sampah baru.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
