Srengenge Wetan, Restoran Rujak Soto Terkenal Banyuwangi

Wahyu T. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 45 dibaca
Bisik.id
Srengenge Wetan, Restoran Rujak Soto Terkenal Banyuwangi

Gambar atau konten salah?

Di pusat kota Banyuwangi, tepat di Titik Nol Kilometer, tersembunyi sebuah restoran yang menawan mata dan lidah. Srengenge Wetan mengundang pengunjung untuk menikmati kuliner khas Banyuwangi dalam satu tempat yang nyaman dan estetik. Restoran ini sudah berdiri sejak 2016, memadukan nuansa tradisional dengan sentuhan modern yang membuatnya populer di kalangan wisatawan.

Ruang prasmanan di lantai dasar dipenuhi aroma rempah segar. Sementara itu, di sudut ruangan terdengar alunan live music yang menambah kehangatan suasana. Meja‑meja hampir terisi penuh, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang menikmati santai di pusat kota. Di lantai dua, pengunjung dapat memilih area yang lebih tenang, ruang terbuka, atau balkon bagi yang ingin merokok.

Hari Jumat malam, kami mampir ke Srengenge Wetan atas rekomendasi sahabat kami, Audrey dan Connie, yang sudah beberapa kali berkunjung ke Banyuwangi. “Di situ pilihan menunya banyak dan unik‑unik,” kata Audrey meyakinkan. Kata itu langsung menggambarkan betapa beragamnya menu yang tersedia.

Menu yang kami pilih berbeda-beda. Saya memesan rujak soto dengan lontong. Galih memilih rujak soto campur nasi. Connie tertarik mencoba pecel pitik. Cepi menjatuhkan pilihan pada ayam lodho, sedangkan Gigi memilih nasi tempong yang terkenal pedas. Setiap hidangan disajikan di meja, namun perhatian saya langsung tertuju pada rujak soto.

Rujak dan soto biasanya memiliki karakter berbeda. Rujak identik dengan bumbu petis, kacang tanah, dan rasa pedas segar. Soto, di sisi lain, dikenal sebagai sajian berkuah gurih dengan aroma rempah yang kuat. Namun di Banyuwangi, keduanya dipadukan dalam satu mangkuk. Di hadapan saya, tersaji campuran kangkung rebus, tauge, tahu goreng, tempe, telur rebus, dan lontong yang diberi bumbu rujak. Beberapa keping emping dan kerupuk udang melengkapi tampilannya. Di atasnya disiram kuah soto kuning panas lengkap dengan potongan daging sapi.

Suapan pertama membuat saya berhenti sejenak. Rasa gurih kuah soto datang lebih dulu, disusul aroma petis yang khas. Tak lama kemudian muncul sensasi manis, pedas, dan segar dari bumbu rujak yang berpadu dengan sayuran rebus. Potongan daging sapi yang empuk menambah tekstur hidangan ini. Perpaduan yang awalnya terdengar aneh ternyata terasa begitu pas. Tak heran jika rujak soto kemudian menjelma menjadi salah satu ikon kuliner Banyuwangi.

Hidangan ini dipercaya lahir dari kreativitas masyarakat setempat yang menggabungkan dua makanan favorit mereka, yakni rujak dan soto. Seiring waktu, kuliner tersebut berkembang menjadi identitas gastronomi masyarakat Osing dan kini menjadi menu yang hampir selalu dicari wisatawan. Salah satu ciri khas rujak soto Banyuwangi terletak pada penggunaan petis dan pisang klutuk atau pisang batu dalam bumbu rujaknya. Kombinasi bahan tersebut menciptakan rasa yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain.

Konon, kemunculan rujak soto sering dikaitkan dengan lagu tradisional Banyuwangi berjudul Rujak Singgul. Meski tidak menyebut rujak soto secara langsung, lagu tersebut mengisahkan beragam jenis rujak yang dikenal masyarakat Banyuwangi. Dari kreativitas warga kemudian lahirlah perpaduan rujak dan soto yang kini menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Hidangan lain yang menarik perhatian malam itu adalah pecel pitik yang dipesan Connie. Sekilas tampilannya sederhana: suwiran ayam kampung dicampur parutan kelapa muda berbumbu. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan sejarah panjang masyarakat Osing. Seorang pramusaji berkebaya cokelat bercerita bahwa pecel pitik dahulu merupakan hidangan yang tergolong sakral. “Dulu pecel pitik wajib hadir dalam berbagai upacara adat dan selamatan masyarakat Osing,” ujarnya.

Berbeda dengan pecel yang identik dengan sayuran, pecel pitik menawarkan perpaduan rasa gurih dengan aroma asap khas dari ayam kampung yang terlebih dahulu dipanggang. Aroma kelapanya terasa dominan, sementara bumbu yang meresap membuat setiap suapan terasa kaya rasa. Sementara itu, ayam lodho yang dipesan Cepi hadir dengan kuah santan kaya rempah. Sekilas mirip opor ayam, tetapi dengan karakter rasa yang lebih kuat.

Nasi tempong dengan sambal menggigit juga menjadi sorotan. Gigi menikmati nasi tempong yang disajikan dengan sambal pedas yang terkenal mampu membuat penikmatnya berkeringat. Beberapa kali gadis asal Semarang itu harus berhenti mengunyah dan meraih gelas minum karena kepedasan. “Ayo, pelan‑pelan. Kamu pasti bisa,” Audrey menyemangati sambil tertawa. Sambal nasi tempong Banyuwangi memang terkenal galak di lidah, tetapi justru itulah yang membuat banyak orang ketagihan.

Menurut pengelola restoran, salah satu alasan Srengenge Wetan menghadirkan menu-menu tersebut adalah agar wisatawan lebih mudah mengenal kekayaan kuliner Banyuwangi. Sebab dahulu, wisatawan yang ingin mencari rujak soto atau beberapa kuliner khas lainnya harus masuk ke kampung‑kampung melalui gang sempit yang tidak selalu mudah ditemukan.

Srengenge Wetan tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga pengalaman. Suasana yang hangat, musik live, dan aroma rempah membuat setiap kunjungan terasa berbeda. Menu-menu tradisional yang sulit ditemukan di daerah lain kini dapat dinikmati di satu tempat, memudahkan wisatawan untuk mencicipi keanekaragaman kuliner Banyuwangi tanpa harus berkeliling jauh.

Dengan konsep yang sederhana namun efektif, restoran ini menjadi tempat yang tepat bagi siapa saja yang ingin merasakan cita rasa asli Banyuwangi. Dari rujak soto yang unik hingga pecel pitik yang sakral, setiap hidangan membawa cerita dan tradisi yang kaya. Srengenge Wetan berhasil menggabungkan keindahan estetika dengan kekayaan kuliner, menjadikannya destinasi wajib bagi pecinta makanan dan pelancong yang ingin merasakan sensasi autentik Banyuwangi.

Srengenge Wetanrujak sotopecel pitikBanyuwangikuliner Osingmusik liverempahwisatawan

Komentar

Memuat komentar...