Tahun Baru Islam 1448: 16 Juni, Libur Nasional & Muḥarām

Wulan M. · 5 min baca · 1 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Tahun Baru Islam 1448: 16 Juni, Libur Nasional & Muḥarām

Gambar atau konten salah?

Tahun Baru Islam adalah peringatan pergantian tahun dalam kalender Hijriah, yang diperingati setiap tanggal 1 Muharam. Berbeda dengan Tahun Baru Masehi yang menggunakan kalender matahari, Tahun Baru Islam didasarkan pada peredaran bulan. Kalender Hijriah, atau kalender qamariyah, menghitung waktu berdasarkan fase bulan. Karena itu, tanggal 1 Muharam berubah setiap tahun dalam kalender Gregorian.

Sejarah penetapan kalender Hijriah bermula ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Pada masa itu, masyarakat Arab belum memiliki sistem penanggalan yang baku. Penanda waktu yang berbeda-beda menyebabkan ketidakpastian dalam menentukan tahun dan waktu peristiwa. Untuk memudahkan administrasi pemerintahan dan komunikasi antar daerah, Umar bin Khattab RA memutuskan untuk menyusun kalender Islam. Dalam musyawarah bersama para sahabat Nabi, mereka menyepakati bahwa peristiwa hijrah menjadi titik awal perhitungan tahun. Selain itu, mereka menetapkan Muḥarām sebagai bulan pertama, karena bulan ini menandai akhir ibadah haji dan dianggap suci.

Nama-nama bulan dalam kalender Hijriah yang masih digunakan hingga kini adalah Muḥarām, Safar, Rabiʾul Awal, Rabiʾul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syaʾban, Ramadan, Syawal, Zulqida, dan Zulhijjah. Setiap bulan memiliki keunikan dan keutamaan tersendiri, namun Muḥarām menonjol sebagai bulan yang sangat dihormati.

Menurut Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, Tahun Baru Islam 1448 Hijriah diperingati pada Selasa, 16 Juni 2026. Pemerintah Indonesia juga menempatkan Tahun Baru Islam sebagai hari libur nasional. Dengan demikian, masyarakat dapat memanfaatkan waktu ini untuk beribadah, mengikuti pengajian, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan muhasabah menyambut tahun baru Hijriah.

Keutamaan Muḥarām sangat menonjol. Berikut beberapa keutamaan yang sering disebutkan dalam literatur Islam:

1. Muḥarām adalah bulan haram. Dalam Islam, ada empat bulan haram: Muḥarām, Zulqida, Zulhijjah, dan Rajab. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 36: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, ... di antaranya ada empat bulan haram.” Di bulan-bulan haram, umat Islam dianjurkan untuk menambah amal kebaikan dan menjauhi dosa. Pada masa lalu, peperangan dilarang kecuali dalam keadaan terpaksa.

2. Muḥarām disebut sebagai bulan Allah. Karena itu, umat Islam disarankan memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah. Rasulullah SAW bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (HR. Muslim). Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah), yaitu Muḥarām. Sementara sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” Dalam bulan Muḥarām, umat dapat memperbanyak puasa seperti Senin‑Kamis, ayyamul bidh, Tasu'a, Asyura, dan puasa Daud.

3. Hari Asyura pada 10 Muḥarām memiliki nilai historis. Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan puasa Asyura: سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ (HR. Muslim). Artinya: “Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa Asyura, beliau menjawab, ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu.” Puasa Asyura biasanya disertai puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muḥarām, sebagai perbedaan tradisi Yahudi.

4. Membahagiakan keluarga pada Hari Asyura juga dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ (HR. Baihaqi). Artinya: “Barang siapa memberi kelapangan bagi dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan kelapangan baginya sepanjang tahun itu.”

Selain keutamaan-keutamaan tersebut, malam 1 Muḥarām juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan amalan sunnah. Berikut beberapa amalan yang disarankan:

1. Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun. Doa akhir tahun biasanya dibaca sebelum maghrib pada tanggal 29 atau 30 Zulhijjah. Doa awal tahun dibaca setelah maghrib pada malam 1 Muḥarām. Berikut bacaan doa akhir dan awal tahun:

Doa Akhir Tahun:
اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ
Latin: Allahumma maa 'amiltu min 'amalin fii haadzihis sanati maa nahaitanii 'anhu wa lam atub minhu wa halumta fiihaa 'alayya bifadhlika ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii wa da'autanii ilat taubati min ba'di jaraa-atii 'alaa ma'shiyatika fa inniistaghfartuka faghfirlii. Wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaa wa wa'adtanii 'alaihits tsawaaba fa as-aluka an tataqabbala minnii wa laa taqtha' rajaaii minka yaa Kariim. Artinya: “Ya Allah, segala amal yang telah aku lakukan pada tahun ini yang Engkau larang, namun aku belum bertobat darinya, sedangkan Engkau tetap bersabar kepadaku dengan kemurahan-Mu padahal Engkau mampu menghukumku, dan Engkau tetap mengajakku untuk bertobat setelah keberanianku berbuat maksiat kepada-Mu, maka sesungguhnya aku memohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku. Dan segala amal yang telah aku lakukan pada tahun ini yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala atasnya, maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau menerimanya dariku dan janganlah Engkau putuskan harapanku kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Mulia.”

Doa Awal Tahun:
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
Latin: Allahumma antal abadiyyul qadiimul awwalu wa 'alaa fadhlikal 'azhiimi wa kariimi juudikal mu'awwal, wa haadzaa 'aamun jadiidun qad aqbal, as-alukal 'ishmata fiihi minasy syaithaani wa auliyaa-ihi, wal 'auna 'alaa haadzihin nafsil ammaarati bis suu-i, wal isytighaala bimaa yuqarribunii ilaika zulfaa yaa dzal jalaali wal ikraam. Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Maha Kekal, Maha Dahulu, dan Maha Awal. Hanya kepada keutamaan-Mu yang agung dan kemurahan-Mu yang mulia tempat kami berharap. Tahun baru ini telah datang, maka aku memohon kepada-Mu perlindungan di dalamnya dari godaan setan dan para pengikutnya. Aku juga memohon pertolongan untuk mengendalikan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan, serta memohon kesibukan dalam hal-hal yang dapat mendekatkanku kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Agung dan Maha Mulia.”

2. Memperbanyak Dzikir dan Membaca Al‑Quran. Malam 1 Muḥarām adalah waktu yang tepat untuk mengingat Allah, membaca Al‑Quran, dan beristighfar. Amalan ini membantu umat melakukan muhasabah, merenungkan kesalahan tahun sebelumnya, dan memulai tahun baru dengan tekad istiqomah. Mengingat Allah di awal tahun Hijriah juga diharapkan menjadi pembuka yang baik agar seseorang lebih istiqomah dalam beribadah sepanjang tahun berikutnya.

3. Melakukan Sholat Sunnah. Sholat sunnah seperti sholat taubat, sholat hajat, atau sholat tahajud dianjurkan pada malam Tahun Baru Islam. Sholat-sholat ini menjadi bentuk permohonan ampun atas dosa masa lalu dan doa agar diberi kemudahan, keberkahan, serta perlindungan dalam menjalani tahun baru. Bagi sebagian umat, malam 1 Muḥarām juga dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah agar kehidupan di tahun berikutnya menjadi lebih baik.

Dengan memahami keutamaan Muḥarām dan amalan sunnah yang dianjurkan, umat dapat memanfaatkan malam Tahun Baru Islam 1448 H dengan lebih bermakna. Menyambut pergantian tahun Hijriah bukan sekadar menghitung hari, melainkan juga kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, dan mempererat tali persaudaraan di dalam keluarga dan masyarakat.

Kesempatan ini menjadi momen penting bagi setiap muslim untuk menilai kembali perjalanan spiritualnya, memperdalam ibadah, dan memulai lembaran baru dengan niat yang lebih baik. Dengan melaksanakan amalan sunnah yang telah dijelaskan, umat dapat menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kesalehan, kejujuran, dan kebaikan.

Tahun Baru IslamMuḥarāmHijriahKeutamaan MuḥarāmPuasa AsyuraAmalan SunnahDoa Tahun Baru

Komentar

Memuat komentar...