Tanggul Lumpur Lapindo Retak, Warga Khawatir

Lia N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Tanggul Lumpur Lapindo Retak, Warga Khawatir

Gambar atau konten salah?

Kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10.D, Kabupaten Sidoarho, kembali menjadi perhatian. Tanggul tambahan yang dibangun di atas tanggul utama mulai terlihat retak di beberapa bagian. Sementara itu, aliran lumpur masih bergerak ke arah barat karena adanya penurunan tanah atau subsidence di area tersebut.

Berdasarkan pengamatan di lokasi pada Senin, 13 Juli 2026, lebar tanggul tambahan hanya sekitar 45 sentimeter. Permukaannya tampak pecah-pecah. Diduga, retakan ini terjadi karena material tanah lumpur mengering akibat terik matahari.

Tanggul tambahan itu dibuat dari material tanah lumpur yang diambil dari kolam penampungan. Proses pengambilan material menggunakan bantuan alat berat ekskavator. Meski permukaan tanggul mulai retak, jarak antara bibir tanggul dengan permukaan lumpur masih sekitar 25 hingga 35 sentimeter. Di lokasi, terlihat tiga unit ekskavator bersiaga, meskipun belum ada aktivitas yang dilakukan.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran. Jika volume semburan yang didominasi air kembali meningkat, kebocoran bisa terjadi lagi seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Arif Firmanto, Pelaksana Perencanaan PPLS, mengatakan bahwa volume semburan lumpur saat ini jauh menurun dibandingkan awal semburan pada tahun 2006. "Pada awal semburan tahun 2006 volumenya sekitar 100 ribu sampai 120 ribu meter kubik per hari. Saat ini berkisar antara 27 ribu hingga 32 ribu meter kubik per hari," kata Arif pada Senin, 13 Juli 2026.

Menurut Arif, arah aliran lumpur saat ini lebih dominan ke utara dan barat. Hal ini disebabkan oleh fenomena penurunan tanah yang juga terjadi di sejumlah kawasan sekitar, termasuk di jalur rel kereta api yang rutin diperbaiki. "Lumpur tidak mengalir seperti air karena mengandung material berat. Arah dominan saat ini ke utara dan barat mendekati jalan raya maupun rel kereta api. Hal itu dipengaruhi adanya penurunan tanah di lokasi," jelasnya.

Untuk mengendalikan volume lumpur di kolam penampungan, PPLS mengoperasikan empat kapal keruk. Kapal-kapal ini bertugas mengalirkan lumpur menuju Kali Porong. Dua kapal keruk ditempatkan di kolam sisi utara dan timur, sedangkan dua unit lainnya berada di Kolam 2 dan Kolam 5 di sisi selatan. "Fungsi kapal keruk untuk mengalirkan lumpur ke Kali Porong sehingga volume di kolam penampungan dapat dikurangi," ujar Arif.

Arif menegaskan, kondisi tanggul saat ini masih dalam kategori aman. PPLS juga telah membuat alur khusus untuk mengendalikan arah aliran lumpur agar tetap masuk ke kolam penampungan. Ke depan, PPLS bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melakukan kajian ulang terhadap kapasitas tampungan lumpur. Mereka juga akan memperkuat sejumlah titik tanggul yang dinilai memerlukan penanganan tambahan. "Kondisi saat ini masih aman. Kami akan melakukan kajian ulang kapasitas tampungan dan memperkuat beberapa titik tanggul. Penanganan terus dilakukan secara maksimal oleh Kementerian PUPR bersama PPLS," pungkas Arif.

Secara keseluruhan, meskipun ada retakan pada tanggul tambahan, volume semburan lumpur saat ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2006. Penurunan tanah memengaruhi arah aliran lumpur, tetapi PPLS mengklaim kondisi masih terkendali dengan adanya kapal keruk dan alur khusus. Kajian ulang kapasitas tampungan dan penguatan tanggul direncanakan untuk mengantisipasi potensi masalah di masa depan.

tanggul lapindoretakaliran lumpurvolume semburanpenurunan tanahkapal kerukpenguatan tanggul

Komentar

Memuat komentar...