Temuan Batu Candi Buddha Baru di Desa Nepen, Boyolali
Gambar atau konten salah?
ODCB atau Objek Diduga Cagar Budaya baru saja ditemukan di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Tiga potongan batu besar berbentuk bulat terungkap ketika warga hendak membuka lahan untuk jalan. Penemuan ini terjadi pada 14 Mei 2026 sekitar pukul 11.00 WIB.
Warga bernama Sopan mengungkapkan bahwa ia awalnya hanya ingin membuka lahan. Saat tanah dikeruk, alat berat tiba‑tiba menabrak batu besar. Ia mengatakan, “Untuk menjaga agar struktur benda tidak rusak, saya berinisiatif mencari tambang untuk mengangkatnya secara manual dan hati‑hati.”
Setelah batu terangkat, Farid Burhanudin, staf Bidang Kebudayaan dari Disdikbud Boyolali, menemui lokasi. Ia menjelaskan, “Kalau dugaannya bahwa yang mendekati dengan bentuk bangunan seperti ini adalah bangunan Candi Buddha.” Pengerukan dilakukan dengan hati‑hati karena benda tersebut diduga bersejarah.
Deskripsi fisik batu tersebut sangat menarik. Farid menambahkan, “Strukturnya berbentuk seperti lonceng dengan tinggi 125 cm, diameter atasnya 40 cm, yang bawah 130 cm diameternya.” Benda ini terpendam di kedalaman sekitar 180 cm. Saat ditemukan, batu tersebut terpisah namun masih berdekatan.
Setelah diangkat, batu tersebut diletakkan di lokasi datar. Pada siang hari, tempat penempatan diberi pagar pembatas menggunakan garis polisi. Kegiatan ini dilakukan bersama Polsek Teras, Pemerintah Desa Nepen, dan Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali untuk mengamankan benda agar tidak rusak.
Pengamatan di lokasi menunjukkan tiga potongan batu besar berbentuk bulat. Dua potongan diyakini menjadi dasar, sementara satu potongan berbentuk lonceng. Di bagian tengah dan atas terdapat ornamen dengan relief. Di atasnya terdapat lubang, menandakan kemungkinan masih ada potongan lain yang belum ditemukan.
Menanggapi bentuknya, Farid menyatakan, “Dari bentuk langgamnya seperti lonceng itu kemungkinan stupa. stupa Buddhis. Tapi butuh kajian lagi nanti agar lebih tepatnya apa, kita butuh kajian. Tapi terkait dengan melihat dari corak bentuk dan modelnya bisa dikatakan seperti corak‑corak peninggalan agama Buddha.”
Langkah selanjutnya adalah pengamanan dan pendataan. Farid mengatakan, “Selanjutnya kita mendorong untuk munculnya kajian‑kajian lebih lanjut agar bisa di munculkan terkait dengan deskripsi atas temuan objek juga cagar budaya yang ada di Desa Nepen ini.”
Temuan ini juga sudah dilaporkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah X Jawa Tengah. Farid menegaskan, “Menurut dia, temuan ODCB ini juga telah dilaporkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah X Jawa Tengah. Laporan sudah diproses dan butuh waktu untuk melakukan kajian terkait temuan ini.”
Ia juga menambahkan, “Lebih lanjut dikemukakan dia, pihaknya belum bisa memastikan batu tersebut bagian dari candi besar atau bukan. Hal itu masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Namun di wilayah Desa Nepen ini banyak ditemukan struktur objek diduga cagar budaya. Baik berupa batu prigen, lapik‑lapik candi, termasuk lingga yoni.”
“Stupa bukan hanya satu saja. Di Desa Nepen, sebelumnya juga ditemukan stupa juga semacam itu,” paparnya. Pihaknya berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Nepen dan masyarakat sekitar. Mereka menginginkan ODCB tetap berada di Desa Nepen agar sejarah desa tidak hilang. Masyarakat bersedia merawat benda bersama Disdikbud Boyolali.
Penemuan ini menyoroti potensi warisan Buddhis di Boyolali. Meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut, keberadaan stupa dan struktur lain menambah nilai sejarah wilayah. Keamanan dan kolaborasi antara pemerintah desa, polisi, dan dinas kebudayaan menjadi kunci dalam pelestarian artefak bersejarah ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
