Terminal Cicaheum Tutup, AKAP Pindah ke Leuwipanjang

Arif S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 229 dibaca
Bisik.id
Terminal Cicaheum Tutup, AKAP Pindah ke Leuwipanjang

Gambar atau konten salah?

Terminal Cicaheum di Bandung kini resmi ditutup sebagai pusat angkutan umum. Semua layanan Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) dialihkan ke Terminal Leuwipanjang. Langkah ini bagian dari proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya. Setelah beroperasi selama bertahun‑tahun, lahan Terminal Cicaheum akan diubah menjadi depo bus modern.

Menurut Ir Sony Sulaksono, pakar transportasi ITB, pemindahan terminal sudah tepat secara lokasi. Ia menilai bahwa terminal baru lebih dekat dengan jalur tol, sehingga bus antarkota akan lebih efisien. “Kalau menurut saya, memang namanya bus antarkota, karena studinya tidak boleh di pusat kota, ya. Jadi, pemindahan ini sudah benar ya, karena jadinya si bus‑bus antarkota itu lebih mendekati jalur tol, memang seharusnya seperti itu,” ujarnya melalui sambungan telepon pada Sabtu 30 Mei 2026.

Namun, Sony menilai kebijakan ini terkesan terburu‑buruan. Ia menyoroti dua masalah utama. Pertama, infrastruktur di Terminal Leuwipanjang belum sepenuhnya siap. “Terus yang kedua, masalah pemindahan itu, kalau menurut saya buru‑buru karena kenapa disebut buru‑buru? Pertama, apakah di Leuwipanjang sudah disiapkan, tambahan‑tambahan area buat jalur yang biasa ke selatan, yang biasa dari Cicaheum, gitu. Karena waktu hari Senin (berkunjung), saya lihat belum,” tuturnya.

Masalah kedua berkaitan dengan penyesuaian bagi penumpang. “Terus yang kedua juga masalahnya, orang yang biasa menggunakan bus ke Cicaheum, ya itu kan harus jadi ada tambahan perjalanan, harus bergeser ke Leuwipanjang. Nah, itu tidak diinformasikan dengan baik. kalau yang biasa naik angkutan umum mungkin enggak masalah, tapi kalau yang enggak biasa mungkin agak kebingungan. Karena angkot yang bisa menghubungkan ke Leuwipanjang itu kan agak sulit ya, kalau dari Bandung Timur,” tambahnya.

Sony menekankan perlunya layanan shuttle gratis selama masa transisi. Ia menyebutkan, “Berbeda dengan kawasan Jalan Soekarno‑Hatta yang memiliki banyak trayek angkot, Sony menyebut seharusnya dalam sepekan hingga dua pekan masa transisi, pemerintah menyediakan layanan shuttle gratis untuk penumpang dari Cicaheum menuju Leuwipanjang.” Ia melanjutkan, “Bahwa busnya pindah ke Leuwipanjang, harusnya ada kemudahan ya, misalnya gini semua bus pindah ke Leuwipanjang, kemudian selama satu Minggu Pemkot misalnya menyediakan shuttle, ya di Cicaheum yang mengantarkan penumpang ke Leuwipanjang, kan itu cocok, itu kan jadi bagus gitu. Jadi masyarakat tinggal terinformasikan dengan baik, pindahnya juga mudah, si operator bisnya juga happy gitu, ya,” jelasnya.

Menurut Sony, bus dan penumpang tidak boleh dipindahkan tanpa informasi masif dan kemudahan akses. Ia menyoroti kesulitan tata kelola angkutan umum karena pengambil kebijakan jarang merasakan pengalaman sebagai pengguna. “Iya, alasannya susah ditertibkan atau apa, enggak! Asal kita serius menertibkannya gitu. Saya sering mengatakan ya, Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dinas Perhubungan Kota, Dinas Perhubungan Pusat, kalau ngatur terminal, ngatur angkutan umum, itu enggak pernah benar karena apa? Karena mereka enggak pernah naik angkutan umum. Mereka enggak pernah ngerasain ya, ke terminal naik angkot. Mereka enggak pernah ngerasain naik bis ke luar kota, enggak pernah. Jadi mereka hanya bisa secara teori, ‘Oh harus gini, harus gini, harus gini,’ tapi tidak pernah benar-benar ngatur,” terang Sony.

Jika pemerintah serius, Sony menegaskan tidak akan ada lagi bus yang ngetem di luar terminal. Ia mengusulkan bahwa semua penumpang diwajibkan naik dari dalam terminal. “Selain pemilik angkutan umum diuntungkan, perputaran ekonomi di dalam terminal juga dipastikan akan meningkat.” Ia menjelaskan, “Jadi nanti, semua bus antarkota sudah pindah ke Leuwipanjang, maka Leuwipanjang harus ditata, terus kemudian diwajibkan membeli tiket di terminal. Mereka yang beli tiket di tengah jalan katakan dalam radius sekian kilometer, harga tiketnya akan lebih mahal. Tapi mereka yang beli di Leuwipanjang, itu harga tiketnya lebih murah. Harusnya kan seperti itu gitu ya, kalau memang benar-benar kita ingin menata angkutan antarkota,” pungkasnya.

Perpindahan terminal ini menandai langkah penting dalam penyusunan jaringan transportasi publik di Bandung. Dengan mengalihkan armada antarkota ke Terminal Leuwipanjang, pemerintah berharap dapat mengoptimalkan penggunaan jalur tol dan memudahkan penumpang. Namun, keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, penyuluhan kepada masyarakat, dan kebijakan penetapan tarif yang adil. Jika semua elemen tersebut terpenuhi, maka langkah ini dapat menjadi contoh bagi kota lain dalam mengelola angkutan umum secara lebih terstruktur dan terencana.

Terminal CicaheumTerminal LeuwipanjangBus Rapid Transit (BRT) Bandung Rayaangkutan antarkotashuttle gratisjalur tolinfrastruktur

Komentar

Memuat komentar...