Tiga Teman Uji Cokelat Pedas Hiyuco ABBA Cokelat Sorotan

Agus P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Tiga Teman Uji Cokelat Pedas Hiyuco ABBA Cokelat Sorotan

Gambar atau konten salah?

Ketiga teman, Odi, Tarissa, dan Mutiara, membawa tiga jenis oleh‑oleh khas Banjarmasin ke Jakarta. Masing‑masing memilih cokelat pedas Hiyuco, seolah ingin menguji batas rasa. Cokelat hitam ini terbungkus dengan motif Pulau Kalimantan dan tulisan “Borneo Island” yang menonjolkan identitas lokal sebelum bahkan satu gigitan.

Setiap potongan Hiyuco dipatahkan menjadi tiga bagian. Pada permukaan, rasa manis pahitnya terasa lembut, mirip cokelat premium biasa. Namun, hanya beberapa detik kemudian, suasana berubah drastis. Odi, Tarissa, dan Mutiara hampir bersamaan tersentak. Mata mereka berkaca‑kaca, wajah memerah, dan ekspresi santai berubah menjadi panik karena sensasi panas di lidah. “Minum, minum, minum…” seru mereka hampir serempak, sambil refleks meraih tumbler masing‑masing.

Hiyuco adalah produk dari usaha rumahan ABBA Cokelat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Produk ini lahir dari tangan Bobby Bahrul dan istrinya, Rahma. Keduanya memulai usaha ini dari kesamaan sederhana: hobi makan cokelat. Mereka mengembangkan rasa pedas yang unik, menggabungkan dua kutub rasa yang biasanya terpisah.

Bobby, mantan insinyur elektronika lulusan Universitas Indonesia, pernah bekerja di tambang emas di Kalimantan Timur sejak 1998. Setahun kemudian ia menikah dengan Rahma, perempuan Banjar. Kerja di lokasi terpencil membuatnya hanya turun dari tambang setiap enam pekan, sehingga banyak momen awal pernikahan terasa terlewat. Pada 2001, ia memutuskan berhenti bekerja setelah merasa cukup secara finansial.

Setelah berhenti, Bobby mencoba berbagai usaha, mulai dari bidang digital hingga keramik. Pada 2008, Rahma juga berhenti dari pekerjaannya di industri makanan (Indofood). Dari kebiasaan sederhana yang sama‑menyukai cokelat, mereka merintis ABBA Cokelat. Mereka memilih jalur berbeda: bukan produksi massal, melainkan cokelat custom, sehingga pelanggan bisa memilih jenis cokelat, varian rasa, hingga kemasan.

“Saingan utama kami kan industri besar, pasti kalah kalau ikut ceruk yang sama. Mereka lebih murah. Jadi kami pilih yang custom,” kata Bobby saat ditemui para wartawan peserta Fellowship Journalism BRI, Selasa 21 April 2026.

Meski bahan baku harus didatangkan dari Jawa dan sempat membuat biaya produksi tinggi, mereka melihat peluang di Kalimantan Selatan yang belum terlalu padat pesaing. Rahma fokus pada produksi, Bobby pada pemasaran, dan perlahan usaha ini tumbuh.

Hasilnya cukup membanggakan. Pada 2014, ABBA Cokelat meraih juara nasional dari Kementerian Pertanian untuk kategori produk berdaya saing. Pada tahun‑tahun berikutnya, inovasi mereka kembali mendapat pengakuan di berbagai ajang kreatif nasional. Hingga pada 2025, varian cokelat pedas mereka kembali mencuri perhatian dalam festival kuliner Kalimantan Selatan.

Inspirasi cokelat ini datang dari cabai Hiyung di rawa‑rawa Tapin, Kalimantan Selatan. Cabai lokal ini dikenal memiliki tingkat kepedasan tinggi. Dari sini lahirlah Hiyuco, cokelat hitam dengan sentuhan pedas yang sengaja diciptakan untuk menghadirkan kejutan rasa.

“Ini tantangan untuk pecinta pedas,” kata Bobby. “Manis cokelatnya bertemu pedas, jadi pengalaman yang tidak terlupakan.”

Adapun nama ABBA sendiri kerap disangka terinspirasi dari grup musik legendaris Swedia. Namun Bobby meluruskan dengan santai, “Itu inisial nama saya dan istri, biar so sweet.” A berasal dari Rahma, sementara B dari Bobby Bahrul.

Dengan kombinasi rasa pedas dan manis, Hiyuco menempatkan ABBA Cokelat sebagai pemain unik di pasar cokelat Indonesia. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa inovasi lokal, didukung oleh cerita pribadi dan komitmen terhadap kualitas, dapat bersaing di industri yang didominasi oleh merek besar.

HiyucoABBA CokelatKalimantan Selatancokelat pedasinovasi lokalcokelat customfestival kuliner

Komentar

Memuat komentar...