Tinjomoyo: Binatang ke Hutan Wisata, Dampak Ekonomi

Sari D. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Tinjomoyo: Binatang ke Hutan Wisata, Dampak Ekonomi

Gambar atau konten salah?

Tinjomoyo dulu menjadi kebun binatang yang ramai dikunjungi warga Semarang. Pada tahun 2007, satwa-satwa, terutama gajah, diarak secara perlahan menuju Bonbin Mangkang di malam hari. Perpindahan ini meninggalkan kenangan mendalam bagi penduduk setempat.

Di rumahnya di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang, Mardiyah (70) menceritakan kembali suasana malam hari ketika gajah-gajah berjalan kaki. Ia mengingat, "Dulu gajahnya jalan kaki dari sini ke Mangkang, bersama pawangnya, pelan-pelan. Pas itu malam-malam, pas jalanan sepi," kata Mardiyah. Momen itu tampak jelas di ingatan warga.

Selain sebagai saksi, Mardiyah pernah menjadi pedagang di kebun binatang. Ia mengungkapkan, "Kalau dulu waktu masih jadi bonbin saya jualan di sana. Ya sampai sekarang, cuma sekarang puasa jadi jualan di rumah," jelasnya. Pada masa keemasan Tinjomoyo, ia sering berjualan di area kebun binatang, menjadikan tempat itu pusat aktivitas ekonomi.

Setelah perpindahan, ekonomi warga menurun drastis. Kini hanya beberapa pedagang yang masih berjualan di Tinjomoyo, biasanya hanya saat acara kemah atau trekking. Mardiyah menambahkan, "Dulu ramai sekali. Saya jualan sampai malam kalau ada acara atau kemah. Kalau Lebaran malah panen pembeli," ia bersuara.

Warga Semarang Tengah, Umar (48), juga mengingat gajah-gajah yang diarak. Ia menyatakan, "Jadi dulu pas pemindahannya itu gajahnya diarak dari Tinjomoyo ke Mangkang, setahuku dulu jalannya malam, biar nggak mengganggu arus lalu lintas," ujar Umar. Ia juga mengomentari kondisi gajah, "Dulu gajahnya kurus-kurus, kayak nggak kerumat (diurus), mungkin karena untuk operasional kebun binatang mahal," tambahnya.

Umar mengingat suasana Tinjomoyo sebelum dipindahkan. Ia mengungkapkan, "Dulu adem banget di sana, cocok buat edukasi anak-anak. Aksesnya juga lebih dekat dari pusat kota dibanding kalau ke Mangkang, kalau yang sekarang di Mangkang kan jauh dan panas," ia menjelaskan. Perpindahan ini dipicu oleh banjir bandang di Kali Garang pada awal 2000-an.

Di sisi lain, Fariz (35) dari Semarang Utara mengingat momen anak-anak sekolah menyambut gajah di Mangkang. Ia berkata, "Waktu pemindahan itu gajahnya ada yang yang disuruh jalan. Anak-anak sekolah dulu itu juga disuruh menyambut gajah di Mangkang," ia mengingat. Fariz pernah mengunjungi Tinjomoyo saat era 90-an, ketika piknik sekolah menjadi kegiatan yang dinantikan.

Fariz menambahkan, "Dulu waktu SD sekitar tahun 1996 pernah study tour ke sana. Lahannya di sana gede banget, ada sungainya juga gede. Hewannya juga lebih lengkap dibanding yang sekarang di Mangkang," ia berbagi. Ia juga mengingat bahwa sebelum Tinjomoyo, bonbin berada di Tegal Wareng, dekat Wonderia. Awalnya, guru mengajak siswa melakukan study tour ke Tegal Wareng, lalu beralih ke Tinjomoyo.

Kini, kawasan Tinjomoyo telah diubah menjadi hutan wisata. Area ini masih dikelilingi pepohonan rindang dan asri, namun jejak-jejak Tinjomoyo masih terlihat, seperti patung satwa dan shelter yang kini rusak. Kegiatan trekking dan kemah menjadi aktivitas utama di tempat ini.

Perpindahan Tinjomoyo ke Bonbin Mangkang mencerminkan perubahan sosial dan ekonomi di Semarang. Meskipun kini tidak lagi menjadi pusat perdagangan satwa, tempat itu tetap menjadi bagian penting dalam sejarah kota. Senin, 9 Maret 2026, menjadi tanggal penting bagi banyak warga yang masih mengingat masa lalu kebun binatang ini.

Tinjomoyokebun binatanggajahBonbin MangkangSemarangperpindahanhutan wisata

Komentar

Memuat komentar...