Tinjomoyo: Dari Kebun Binatang ke Hutan Rekreasi Semarang 2026
Gambar atau konten salah?
Hutan Wisata Tinjomoyo di Semarang dulu dikenal sebagai kebun binatang, tempat banyak orang datang. Kini, sebagian besar area itu tidak lagi dipelihara. Tempat yang pernah ramai pengunjung kini menjadi hutan terbengkalai, sering dipakai untuk kemah dan trekking.
Gerbang masuk ke hutan terlihat tertutup. Portal menutup akses, dan jendela loket tempat membeli tiket sudah tidak berfungsi. Begitu masuk, pepohonan rindang menyambut di setiap sudut, menciptakan suasana sejuk dan teduh. Beberapa patung hewan terlihat kusam, rusak, dan sebagian menutupi lumut.
Di pinggir jalan beraspal menuju hutan, papan bertuliskan Tinjomoyo berdiri. Di area outbound, jalan dipenuhi bebatuan dan dikelilingi pepohonan tinggi. Tidak ada aktivitas manusia, sementara fasilitas lama tampak terbengkalai.
Shelter berlabel Shelter 33 rusak, tertimpa batang pohon besar yang tumbang. Rangka besi dan atapnya terlihat ringsek, sementara sekitarnya dipenuhi semak dan ranting. Kondisi ini menandakan minimnya perawatan di dalam hutan.
Jalan utama sudah dibeton. Di atasnya, terlihat makam umum bertuliskan Makam Tinjomoyo. Tanpa pembatas, jalan langsung menuju perkampungan warga.
Warga setempat, Mardiyah berusia 70 tahun, mengenang masa ketika Tinjomoyo masih menjadi kebun binatang. Ia pernah menjadi pedagang yang berjualan di sana. “Kalau dulu waktu masih jadi bonbin saya jualan di sana. Ya sampai sekarang, cuma sekarang puasa jadi jualan di rumah,” kata Mardiyah saat ditemui di rumahnya yang tak jauh dari lokasi, 09 Maret 2026.
Ia mengingat masa-masa keemasan kebun binatang di Tinjomoyo. “Dulu ramai sekali. Saya jualan sampai malam kalau ada acara atau kemah. Kalau Lebaran malah panen pembeli,” ujarnya. Sekitar tahun 2007, kebun binatang dipindah ke Mangkang, sehingga aktivitas ekonomi warga pun ikut menurun.
“Dulu komplet banget itu hewan-hewannya. Kalau sekarang sudah tidak seramai dulu. Biasanya dibuat kemah, trekking. Dulu kalau ada pengunjung atau acara banyak yang beli di warung,” kata Mardiyah.
Warga lain, Widyatmoko berusia 34 tahun, juga mengenang suasana Tinjomoyo pada awal 2000-an. Ia mengaku pernah mengunjungi tempat itu saat masih duduk di bangku sekolah dasar. “Dulu waktu kecil pernah ke sana, mungkin kelas 1 atau kelas 2 SD. Rasanya benar-benar seperti di alam liar, karena pohonnya alami semua. Jalan-jalan di Tinjomoyo itu pokoknya enak, suasananya adem gitu lah,” kata Widyatmoko.
Menurutnya, koleksi satwa di Tinjomoyo cukup lengkap. Pengunjung bisa melihat berbagai hewan hanya dengan membayar tiket sekitar Rp 2 ribu. “Kalau dulu hewannya masih lengkap. Ada singa, gajah, jerapah, buaya. Kandang-kandangnya itu sebagian masih ada sampai sekarang di Tinjomoyo,” ujarnya.
Sayangnya, kebun binatang tersebut kemudian dipindahkan setelah bencana banjir bandang di Kali Garang pada awal 2000-an. Imbas banjir itu merusak akses utama menuju kawasan tersebut. “Setahu saya dulu ada banjir bandang Kali Garang. Jembatan utama putus, tanahnya juga banyak yang bergerak. Akhirnya kebun binatang dipindah,” jelasnya.
Kini, Hutan Wisata Tinjomoyo lebih banyak dimanfaatkan sebagai kawasan wisata alam. Pengunjung datang untuk berjalan kaki, trekking, dan mengikuti berbagai kegiatan komunitas. “Sekarang lebih sering buat trekking atau event-event kayak jungle run. Bagus juga supaya masyarakat tahu kalau di Semarang masih ada hutan alami,” kata Widyatmoko.
Keberadaan hutan itu dinilai penting sebagai paru‑paru kota. Ia berharap kawasan itu tetap dijaga agar tidak beralih fungsi. “Kalau bisa area hutannya dibatasi dengan jelas, supaya nggak diklaim orang atau malah dimanfaatkan untuk hal lain yang bisa merusak hutan,” ujarnya.
Kenangan serupa juga diceritakan Umar berusia 48 tahun, warga Semarang Tengah. Ia mengatakan kawasan Tinjomoyo dulu terasa lebih sejuk dan asri dibanding kebun binatang yang ada saat ini. “Dulu adem banget di sana, cocok buat edukasi anak-anak. Aksesnya juga lebih dekat dari pusat kota dibanding kalau ke Mangkang,” kata Umar.
Ia mengenang terakhir kali datang ke Tinjomoyo sekitar 2003, tak lama sebelum kebun binatang tersebut dipindah. “Waktu itu masih ada pertunjukan juga, kayak gajahnya dirantai gitu tapi ya kasihan. Terus dulu tiketnya kalau nggak salah sekitar Rp 5 ribu,” tutupnya.
Hutan ini, yang dulunya menjadi kebun binatang, kini menjadi tempat rekreasi bagi warga. Dari cerita warga, terlihat perubahan fungsi dan nilai sosial yang terus berubah. Perubahan tersebut mencerminkan dinamika kota yang mengadaptasi ruang terbuka hijau sesuai kebutuhan generasi baru.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
