UMI Sebutkan AI, Menjadi Kampus Cerdas Tanpa Lupakan Islam

Maya K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 71 dibaca
Bisik.id
UMI Sebutkan AI, Menjadi Kampus Cerdas Tanpa Lupakan Islam

Gambar atau konten salah?

Satya Nadella mengungkapkan, “Every organization will need to become an AI-first organization.” Pernyataan ini menegaskan bahwa di era kecerdasan buatan, organisasi tidak lagi hanya menilai diri lewat aset atau birokrasi, melainkan lewat budaya kerja dan tata kelola berbasis AI.

Di dunia pendidikan, pesan itu menantang perguruan tinggi untuk menilai kembali cara mereka mengajar dan mengelola. Tanpa adopsi AI, kampus berisiko menjadi “menara gading” yang megah namun ketinggalan zaman. Persaingan masa depan akan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, bukan sekadar besarnya dana.

Gelombang digitalisasi sudah menembus setiap aspek kehidupan. Perguruan tinggi yang enggan menyesuaikan diri akan tertinggal. Seperti yang pernah diingatkan oleh John Dewey, mengajar generasi sekarang dengan cara kemarin sama saja dengan menolak masa depan mereka. Bahkan, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Islam tidak menolak perubahan demi kemaslahatan. Sebagai perguruan tinggi Islam, Universitas Muslim Indonesia (UMI) menganggap penting untuk mengikuti perkembangan teknologi sambil tetap menegakkan nilai-nilai Islam. Laporan UNESCO berjudul “AI and Education: Guidance for Policy-Makers” menegaskan potensi AI dalam mempercepat inovasi pembelajaran dan meningkatkan tata kelola pendidikan tinggi.

UMI tidak hanya menyambut digitalisasi, melainkan telah mengambil langkah konkret. Pada 01 Oktober 2025, UMI menerbitkan Peraturan Rektor Nomor 03 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan Generatif Berbasis Nilai-Nilai Islami. Peraturan ini dirancang sebelum terbitnya Surat Keputusan Bersama Delapan Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial.

Dalam peraturan tersebut, penggunaan AI harus mendukung misi Caturdharma UMI: pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan dakwah. Prinsip-prinsip seperti integritas, kejujuran (shidq), keadilan, keterbukaan (tabyin), kemanfaatan (maslahah), dan tanggung jawab (amanah) ditegaskan. Transparansi dalam karya ilmiah, pencegahan plagiarisme, dan pengawasan serta sanksi juga diatur secara rinci.

Menjadi kampus cerdas tidak hanya soal kebijakan. Konsep Kampus Cerdas menuntut penggunaan teknologi dan data sebagai “nadi penggerak” dalam pengambilan keputusan, pembelajaran inovatif, riset produktif, dan layanan responsif. Uskov dan rekan (2017) menekankan bahwa keberhasilan smart university bergantung pada integrasi data dan teknologi dalam semua fungsi kampus.

Untuk mewujudkan visi tersebut, UMI melakukan perjalanan strategis ke Tiongkok. Delegasi yang dipimpin Rektor Prof. Hambali Thalib menelusuri ekosistem teknologi digital, AI, smart city, dan pendidikan berbasis teknologi. Mereka mengunjungi Ruijie Networks Ltd., penyedia solusi smart campus, serta Minjiang University, yang masuk dalam 8,5 persen universitas terbaik dunia menurut Center for World University Rankings.

Selama kunjungan, UMI mempelajari praktik terbaik dalam mengembangkan ekosistem kampus berbasis AI, sistem akademik digital terintegrasi, smart classroom, dan tata kelola berbasis data. UMI juga menjajaki kolaborasi pembukaan Program Studi Artificial Intelligence bersama Minjiang University, menunjukkan niat menjadi produsen sumber daya manusia masa depan.

Di luar agenda akademik, delegasi UMI membawa misi kemanusiaan. Mereka berkunjung ke komunitas Muslim di Fuzhou dan menyerahkan bantuan sebesar RMB 196.000 (sekitar Rp.500 juta) kepada Masjid Fuzhou melalui LAZ Yayasan Wakaf UMI. Langkah ini menegaskan komitmen UMI untuk memperkuat ukhuwah lintas bangsa.

Transformasi UMI menjadi smart university tidak mengorbankan identitas keislamannya. Teknologi ditempatkan sebagai alat, sementara nilai-nilai Islam menjadi kompas. UMI berupaya memastikan bahwa AI dan tradisi berjalan beriringan, menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan siap memimpin peradaban. Dengan demikian, UMI menapaki masa depan modern tanpa kehilangan jati diri, global tanpa tercerabut dari akar nilai, dan tetap memuliakan ilmu, ibadah, serta kemanusiaan.

AI-firstkampus cerdasUniversitas Muslim Indonesiapedoman penggunaan AIsmart universitykolaborasi Minjiang Universitytransformasi digital

Komentar

Memuat komentar...